HETANEWS

China Perkuat Pengaruh di Asia Tenggara di Tengah Krisis COVID-19

Sebuah peta sejarah yang menggambarkan bendera China atas Asia Tenggara. Foto: iStock

Hetanews.com - Pengaruh China di Asia Tenggara semakin diperkuat ditengah krisis COVID-19 untuk membuat terobosan yang lebih dalam ke negara-negara tetangganya yang tertekan secara ekonomi, sementara AS semakin menjauh.

Saat dunia jatuh sakit, resesi global mengancam dan rantai pasokan terganggu atau lumpuh, pandemi COVID-19 dipastikan akan mengkonfigurasi ulang tatanan internasional.

Di Asia Tenggara, di mana tingkat infeksi telah melonjak sejak pertengahan Maret, dan dengan banyak ekonomi regional sekarang bersiap untuk mengalami pertumbuhan terendah sejak krisis keuangan Asia 1997-1998, ada tanda-tanda awal yang menunjukkan bahwa tatanan pasca-virus akan lebih menguntungkan China daripada Amerika Serikat.

Seiring pandemi COVID-19 menyebar di seluruh AS, China mengklaim mereka telah berhasil mengatasi wabahnya dan sekarang sedang menghidupkan kembali ekonominya.

Dengan demikian, China akan segera menjadi satu-satunya sekutu stabil Asia Tenggara yang dibutuhkan negara-negara rentan di kawasan itu.

Walau AS mempersiapkan program bantuan COVID-19 senilai US$2 triliun, banyak orang di kawasan itu mengira AS akan mundur lebih jauh ke isolasionisme, sesuai dengan kebijakan “America First” yang diperjuangkan oleh Presiden Donald Trump.

Bahkan, Peter Navarro, penasihat perdagangan Gedung Putih, mendesak AS untuk mengurangi ketergantungan pada obat-obatan dan pasokan medis buatan China di puncak krisis virus corona.

China, di sisi lain, dengan cepat keluar dari krisis COVID-19-nya sendiri untuk meluncurkan “diplomasi masker” dengan menawarkan pasokan medis ke negara-negara Asia Tenggara yang terkena dampak, termasuk Filipina dan Thailand.

“Presiden Xi Jinping menulis surat kepada saya dan mengatakan dia bersedia membantu kita,” ucap Duterte saat pidato di televisi pada 12 Maret 2020.

“Mungkin jika keadaan memburuk, saya harus meminta China untuk membantu kita. (Xi) mengatakan mereka telah mengelola krisis dengan sangat baik di negaranya dan dia sangat bersedia membantu jika diperlukan,” lanjut Duterte.

Presiden China Xi Jinping (kanan-belakang) dan Presiden Filipina Rodrigo Duterte (kiri-belakang) menghadiri upacara penandatanganan setelah pertemuan bilateral selama Forum Belt and Road di Aula Besar Rakyat di Beijing, China, 15 Mei 2017.
Foto: Reuters/Etienne Oliveau

Wilayah ini akan membutuhkan banyak bantuan, seiring bank dan kelompok penelitian memangkas proyeksi pertumbuhan mereka untuk wilayah tersebut.

Dilansir dari Asia Times, pada 20 Maret Goldman Sachs meramalkan perkiraan pertumbuhan ASEAN 2020 sebesar 160 basis poin (1,6 persen), mendorong penurunan dari 190 basis poin sebelumnya (1,9 persen) yang sebagian besar didasarkan pada dampak negatif wabah pada pariwisata.

Pemangkasan ini mencakup dampak yang lebih luas dari COVID-19 pada permintaan domestik regional, setelah lonjakan tiga kali lipat dalam jumlah individu yang terinfeksi dan lockdown (karantina wilayah) yang melemahkan ekonomi di Filipina, Malaysia, dan Thailand.

Laporan tersebut juga memperkirakan penurunan sekitar 40-80 persen pada layanan rekreasi, budaya, transportasi, restoran, dan perjalanan untuk tahun ini. Angka itu hanya akan sedikit diimbangi dengan pengeluaran yang lebih tinggi untuk perawatan kesehatan dan makanan, seiring rumah tangga menimbun barang untuk persiapan karantina.

Thailand, yang saat ini memiliki jumlah kasus terbanyak kedua di wilayah ini dan sangat bergantung pada pariwisata (20 persen dari PDB), diperkirakan akan sangat terpukul.

Goldman memangkas pertumbuhan menjadi -2,2 persen, dari 2,8 persen di permulaan tahun. Pertumbuhan ekonomi Singapura juga dipangkas dari 1,7 persen menjadi -1,8 persen, menurut laporan yang sama.

David Hutt dan Shawn A. Crispin, dalam tulisan mereka yang dimuat di Asia Times, menilai keputusasaan ekonomi tersebut akan memberikan dorongan baru bagi China untuk memperluas pengaruhnya di kawasan ini.

Investasi China kemungkinan akan lebih disambut daripada sebelumnya, seiring pemerintah kawasan itu mencari cara untuk menghidupkan kembali ekonomi mereka dari krisis virus corona.

Angin diplomatik sudah diprediksi akan menguntungkan China, bahkan sebelum badai COVID-19 datang. Menjelang pandemi, hubungan AS-Asia Tenggara bisa dibilang berada pada titik terendah sejak Trump menjabat sebagai presiden pada awal 2017.

Pada November tahun lalu, tidak satu pun dari tiga pejabat tinggi pemerintah AS (Trump, Wakil Presiden Mike Pence, dan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo) yang menghadiri KTT ASEAN tahunan di Bangkok.

Banyak pemimpin regional memandang ketidakhadiran mereka sebagai penghinaan tingkat tinggi dan menolak untuk menghadiri KTT AS-ASEAN yang diadakan beberapa hari kemudian, yang dipimpin oleh Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross.

Kemudian Trump berjanji ia akan menjadi tuan rumah KTT khusus AS-ASEAN di Las Vegas pada Maret, tetapi KTT itu dibatalkan karena wabah virus corona.

Pengaruh AS yang memudar di wilayah itu jelas terlihat pada Februari ketika Filipina (salah satu dari dua sekutu dekat Amerika di Asia Tenggara), mengumumkan mereka akan membatalkan pakta militer dengan AS. Pakta itu memungkinkan pasukan, peralatan, dan kapal AS bergerak bebas di negara itu.

Di bawah pemerintahan Obama, “poros” kebijakan Asia diluncurkan untuk mengembalikan aliansi Amerika yang pecah di wilayah strategis ini. Itu dilakukan setelah pemerintahan sebelumnya berfokus pada upaya memerangi risiko terorisme Timur Tengah, alih-alih mengimbangi pengaruh China yang meningkat di kawasan ekonomi paling dinamis di dunia.

“Poros” Obama berhasil meningkatkan kerja sama dengan militer di Vietnam, Filipina, dan Indonesia. Negara-negara ini merupakan penuntut dalam sengketa Laut China Selatan dengan China.

Ketika Trump menjabat pada Januari 2017, ia memutar “poros” itu dengan membatalkan banyak diplomasi pemerintahan Obama di wilayah tersebut, termasuk menarik AS dari pakta perdagangan multilateral Kemitraan Trans-Pasifik, yang khusus mengecualikan China.

Sebagai gantinya, AS menekankan aliansi keamanan dengan mendorong kemajuan hak dan diplomasi dengan imbalan insentif ekonomi dan perdagangan.

Hubungan dengan Thailand (yang mendingin di bawah Obama karena kudeta militer tahun 2014 yang menangguhkan demokrasi), diperbarui dan difokuskan pada pemulihan hubungan militer di bulan-bulan awal kepresidenan Trump.

Pemerintahnya juga menekankan peningkatan hubungan strategis dan militer dengan Vietnam yang memiliki pemerintahan otoriter. Vietnam secara khusus diberi kehormatan diplomatik sebagai tuan rumah KTT Trump dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.

Oleh karena itu, banyak analis melihat persaingan negara adidaya antara AS dan China di bawah Obama semakin meningkat menjadi “Perang Dingin Baru” di bawah Trump, seiring negara-negara ASEAN semakin merasa tertekan untuk memilih di antara keduanya.

Selama bertahun-tahun, pemerintah-pemerintah Asia Tenggara telah berusaha menghindar untuk memilih antara AS dan China. Mereka justru mempermainkan satu negara adidaya melawan yang lain untuk memenangkan sebanyak mungkin investasi, perdagangan, dan perhatian internasional dari keduanya.

Pandemi COVID-19 akan mempersulit negara-negara untuk memilih, terutama ketika AS dan China saling menyalahkan karena memulai pandemi. (Juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengklaim virus itu ditanam oleh militer AS di China.)

Wabah itu, yang dimulai di provinsi Hubei China pada Desember, pada awalnya sangat berdampak pada bisnis China dan hubungan diplomatik dengan negara-negara ASEAN.

Turunnya jumlah wisatawan China telah menyebabkan sektor pariwisata regional anjlok, memaksa pemerintah untuk mengintervensi dengan meluncurkan paket stimulus yang mahal dan tidak berkelanjutan.

Karantina wilayah di beberapa provinsi China sejak Januari telah membuat banyak rantai pasokan macet. Ini menjadi masalah bagi wilayah yang sangat terhubung, karena sebagian besar negara Asia Tenggara mengandalkan China sebagai sumber utama suku cadang, bahan, dan impor manufaktur lainnya.

Namun, ini adalah masalah sementara dan, seperti yang dilaporkan baru-baru ini, ekonomi China sekarang mulai hidup kembali. Masalah itu kemungkinan akan cepat diatasi setelah kawasan itu bangkit dari COVID-19.

China juga telah mengindikasikan, pihaknya bertujuan untuk segera meningkatkan jumlah orang China yang mengunjungi Asia Tenggara. Itu dapat menjadi cara yang pasti akan memulihkan hubungan dengan pemerintah Asia Tenggara, asalkan pengunjung memiliki riwayat kesehatan yang bersih.

Dengan banyak pemerintah Asia Tenggara yang berfokus pada ketahanan ekonomi selama krisis virus corona, mereka pasti akan kehilangan kendali atas kesepakatan investasi China mana yang dapat mereka terima atau tolak.

Menteri Perdagangan dan Industri Singapura Chan Chun Sing mengatakan bulan lalu, sebelum ada lonjakan jumlah pasien COVID-19 di wilayah itu, Singapura akan “memastikan kita tidak akan ‘disandera’ oleh satu sumber atau satu pasar tunggal”.

Namun, walaupun Singapura (negara kaya) mampu untuk mandiri di saat AS dan Barat tampak tidak terpengaruh oleh virus corona, negara-negara Asia Tenggara yang kurang berkembang hanya dapat mengandalkan bantuan luar, investasi, dan permintaan untuk membangkitkan ekonomi mereka.

Sumber: matamatapolitik.com

Editor: tom.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.