HETANEWS

Kematian Corona Terbanyak Kedua di Dunia, Spanyol Perpanjang Lockdown

Warga Kota Barcelona, Spanyol berdiri berjauhan selama mengantre sebelum berbelanja di supermarket pada Senin, 16 Maret 2020. Foto: David Ramos/Getty Images

Hetanews.com - Lockdown Spanyol diperpanjang pada Kamis (26/3/2020) dan mengatakan sedang memperjuangkan “perang nyata” atas pasokan medis untuk mengendalikan jumlah kematian tertinggi kedua di dunia akibat virus corona.

Lebih lanjut 655 orang meninggal dalam semalam, mendorong korban kematian di Spanyol menjadi 4.089, kedua setelah Italia dan jauh di atas China di mana wabah corona dimulai.

Penghuni panti jompo yang lanjut usia sangat terpukul. Di Madrid (wilayah yang paling parah terkena virus), pihak berwenang berjanji untuk mengawasi setiap tempat tinggal dan mengambil tindakan segera, seiring infeksi dan kematian di antara populasi mereka yang rentan meningkat.

“Lansia telah ditinggalkan dengan cara yang mencengangkan,” ujar Carmen Flores, kepala kelompok hak asasi pasien Defensor del Paciente kepada The Globe and Mail.

Di Madrid, ibu kota Spanyol dan kota terbesar (terletak di wilayah yang paling parah terkena dampaknya), gelanggang es telah diubah menjadi kamar mayat dan pemenang Liga Champions 13 kali, Real Madrid mengatakan stadion Santiago Bernabeu mereka akan digunakan untuk menyimpan persediaan medis.

Kasus virus corona naik 18 persen menjadi 56.188—tingkat yang lebih lambat daripada dalam beberapa hari terakhir. Kepala darurat kesehatan Fernando Simon mengatakan, dimulainya pengujian massal akan mengungkapkan lebih banyak infeksi, bahkan ketika Menteri Kesehatan Spanyol Salvador Illa dengan hati-hati mengatakan kepada parlemen bahwa data “membuat kita berpikir kita sedang memulai fase stabilisasi.”

Parlemen Spanyol telah menangguhkan aktivitas sejak Selasa, 10 Maret 2020 setelah seorang anggota legislatif terbukti positif dalam uji corona.
Foto: Bruno Thevenin/SOPA Images/LightRocket/Getty Images

Dengan jumlah kasus tertinggi keempat di dunia, Spanyol merasakan kekurangan peralatan perlindungan global.

“Kami berada dalam perang nyata untuk mendapatkan ventilator, masker wajah, dan alat tes cepat,” Menteri Anggaran Maria Jesus Montero mengatakan kepada televisi Telecinco.

“Semua negara berjuang untuk mengamankan produksi dalam negeri, berjuang untuk mendapatkan pasokan dari China,” imbuhnya.

Spanyol telah memesan €432 juta (U$670 juta) barang dari China, meminta bantuan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan berjanji untuk mendukung pabrik-pabrik yang menyesuaikan jalur produksi mereka untuk membuat lebih banyak barang di dalam negeri.

Secara terpisah, pemerintah mengembalikan sejumlah tes cepat buatan China yang dianggap tidak akurat kepada perusahaan Spanyol yang memasok mereka. Kedutaan Besar China di Madrid menulis di Twitter bahwa pabrikan tidak memiliki lisensi untuk menjualnya. Spanyol membalas bahwa produk tersebut memiliki sertifikasi Eropa.

Sumber diplomatik mengatakan, harga alat tes telah naik sepuluh kali lipat dalam beberapa kasus dan perusahaan China menuntut pembayaran di muka, The Globe and Mail melaporkan.

Sumber otoritas kesehatan mengatakan, ada antrean pesawat di beberapa bandara China hanya untuk membeli persediaan seperti itu dan para perantara sering menipu pembeli. Para pejabat tidak menyebutkan nama para penjual itu, hanya mengatakan mereka biasanya perusahaan swasta yang lebih kecil.

Sumber: matamatapolitik.com

Editor: tom.