HETANEWS

Tantangan Berat yang Mengadang India Selama Lockdown

Perdana Menteri India Narendra Modi memutuskan untuk mengunci negara yang berpenduduk 1,3 miliar ini. Penguncian tersebut bakal berimbas ke sektor ekonomi jika Modi gagal mengelolanya dengan baik. Foto: AP

Hetanews.com - Pemerintah India harus mengaktifkan langkah-langkah kesehatan dan menjaga jalur pasokan makanan tetap terbuka selama masa lockdown.

Selasa (24/3/2020), menurut laporan dari Gulf News, Perdana Menteri India Narendra Modi mengumumkan untuk menutup negara dengan penduduk 1,3 miliar ini.

Kebijakan itu menjadi langkah paling berani yang diambil oleh pemerintah manapun dalam perang mereka melawan COVID-19. Pasalnya, imbas penguncian ini bakal mematikan seluruh negara dari 36 negara bagian dan teritori yang membentang lebih dari 3,2 juta kilometer persegi selama tiga minggu.

Ini merupakan skala penguncian yang begitu besar, bahkan melampaui langkah-langkah serupa yang dilakukan oleh China. Kebanyakan ahli kesehatan setuju, mematikan wilayah besar untuk waktu yang lama itu menyakitkan, namun itu sangat diperlukan.

Negara yang terkunci membuat orang di dalamnya tak bisa menebarkan virus ke yang lain, sehingga akhirnya bisa membantu untuk memutus rantai penularan secara efektif. Pun, memperlambat penularan virus corona baru itu.

Tampaknya, Modi meniru langkah yang dilakukan di Wuhan, China di mana tingkat infeksi turun menjadi nol karena kebijakan lockdown. Meski demikian, penguncian saja tidak akan memenangkan perang melawan COVID-19 atau virus corona baru.

Mike Ryan, pakar kesehatan darurat dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan, mengunci kota tidak cukup. Negara ditutup tanpa mengaktifkan langkah-langkah kesehatan, termasuk menemukan dan mengisolasi orang yang terinfeksi, maka kemungkinan untuk gagal dan penyakit akan terus menyebar kembali ketika penguncian selesai, sangat mungkin terjadi, tulis Gulf News.

Italia mungkin adalah contoh terbaik. Negara itu mengumumkan pembatasan besar-besaran pada 9 Maret, menutup ibu kota Milan yang terkenal dengan modenya dan tempat wisata bagi turis.

Meskipun demikian, Italia tetap menjadi negara terparah di Eropa. Dengan hampir 7.000 orang meninggal dan hampir 70.000 orang sakit, tidak ada indikasi adanya kemajuan dalam penanggulangan virus. Jadi penguncian, meskipun penting, bukan peluru ajaib.

Meskipun langkah pemerintah Modi diperlukan, ada tantangan serius yang dihadapi India, terutama kemampuan untuk mempertahankan penutupan yang berkepanjangan ini.

Pada hari pertama, Rabu (25/3/2020), media India melaporkan gangguan yang meluas terhadap pasokan susu, obat-obatan, dan sayuran, ketika negara bagian menyegel perbatasan, serta memotong koridor pengangkutan.

Sementara, saat pemerintah federal menerapkan Undang-undang penanggulangan bencana, dilaporkan ada kebingungan di antara pejabat tingkat bawah yang tidak jelas tentang apa yang merupakan layanan penting. Rantai pasokan grosir berjuang untuk menjaga jalur pasokan tetap utuh karena vendor menghadapi tantangan logistik.

Tantangan-tantangan ini jika tak dikelola dengan baik, hanya akan menjadi lebih besar dan menimbulkan problem baru. Selain itu, para pejabat harus menemukan cara untuk memberi makan kaum miskin di kota yang harus bekerja setiap hari untuk membawa makanan ke rumah.

Selama penguncian ini, orang miskin yang tinggal di kota-kota besar akan berjuang untuk memberi makan keluarga mereka. Di sisi lain, konsekuensi ekonomi dari penguncian yang berkepanjangan tersebut cenderung kolosal dan sangat menyakitkan.

Akan ada kehilangan pekerjaan dan gangguan luas pada skala yang mungkin memerlukan intervensi pemerintah, mirip dengan apa yang sedang dilakukan di negara lain yang telah menetapkan paket stimulus untuk membantu perekonomian, tulis Gulf News.

Sumber: matamatapolitik.com

Editor: tom.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.