HETANEWS

Pesawat Militer Indonesia Ditembak di Papua, Siapa Dalangnya?

Para pengunjuk rasa di Provinsi Papua, Indonesia membakar rumah-rumah dan bangunan-bangunan lain hari Senin, 23 September 2019 dalam sebuah protes yang dipicu oleh desas-desus bahwa seorang guru telah melontarkan hinaan rasial kepada para siswa. Foto: AP/STR

Hetanews.com - Pesawat TNI AU didor saat melintasi wilayah Pegunungan Bintang. Ini bukan insiden pertama, sebab penembakan terjadi di beberapa daerah di Papua sebelumnya, seperti Kabupaten Nduga, Intan Jaya, Mimika, Pegunungan Bintang, dan Keerom.

Beberapa aksi baku tembak itu relatif mematikan, bahkan membuat warga setempat terpaksa berbondong-bondong mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Radio New Zaeland (RNZ) melaporkan, sebuah pesawat CASA CN A-2909 TNI AU diberondong peluru saat terbang melintasi wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang yang terpencil. Penembakan yang terjadi pada Senin (23/3/2020) itu, konon didalangi oleh faksi Tentara Pembebasan Papua Barat di Provinsi Papua.

Seorang juru bicara Tentara Pembebasan Papua Barat, Sebby Sambom, membenarkan pasukannya menembaki pesawat itu. Alasannya, karena militer Indonesia telah menurunkan personel tambahan dalam jumlah besar ke Oksibil, ibu kota kabupaten.

Di tempat terpisah, juru bicara komando militer regional Indonesia, Letnan Kolonel Eko Daryanto menerangkan, dari hasil identifikasi dan penyelidikan sementara, sebanyak lima lubang peluru ditemukan di tubuh pesawat itu.

Beruntung, setelah dihujani tembakan, pesawat itu dapat mendarat dan belum mengalami kerusakan berat. Komandan Lanud Silas Papare Sentani Marsekal Pertama Tri Bowo mengatakan kepada Antara, dari lubang yang terdapat di dinding pesawat, diperkirakan peluru kaliber 5,56 mm. Ia menuturkan, senjata api yang digunakan untuk menembak diduga jenis M-16.

“Untuk memastikan masih perlu dilakukan penyelidikan,” kata Tri Bowo lagi kepada sumber yang sama.

Eko sendiri menambahkan, penembakan yang disinyalir didalangi oleh Tentara Pembebasan Papua Barat itu dilakukan saat pesawat sedang terbang di wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang, dan bersiap mendarat di Bandara Oksibil, ibu kota Kabupaten Pegunungan Bintang.

“Jadi pesawat ini ditembak saat sedang terbang. Saat landing di Oksibil dan dilakukan pengecekan, ternyata ada lima titik lubang bekas tembakan,” ujar Kapendam XVII/Cenderawasih, Kolonel Cpl Eko Daryanto saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Mendapat informasi itu, pihaknya spontan menerjunkan tim untuk memburu pelaku penembakan di lokasi tersebut. Sebelumnya, pada 2 Maret 2020 kondisi serupa juga terjadi ketika rombongan truk milik BUMN melintas di Distrik Oksop, Kabupaten Pegunungan Bintang.

Truk ini lantas diberondong tembakan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB). Aksi beringas yang dilakukan KKB tersebut diduga sengaja dilakukan demi menggagalkan agenda nasional yang akan digelar pada tahun ini di Papua, yaitu Pekan Olahraga Nasional dan Pilkada.

Provinsi Papua telah mengalami peningkatan penembakan sejak awal tahun, ketika Tentara Pembebasan Papua melanjutkan perangnya terhadap negara Indonesia. Penembakan terjadi di beberapa daerah di Papua, seperti Kabupaten Nduga, Intan Jaya, Mimika, Pegunungan Bintang, dan Keerom.

Beberapa aksi baku tembak itu relatif mematikan, bahkan membuat warga setempat terpaksa berbondong-bondong mengungsi ke tempat yang lebih aman. TNI, kata Tri Bowo, juga akan menyelidiki kaitan penembakan tersebut dengan peristiwa jatuhnya Helikopter MI-17 pada Juni 2019.

“Apakah senjata api yang digunakan berasal dari helikopter MI 17 yang jatuh dalam penerbangan Oksibil-Sentani,”ungkapnya.

Helikopter MI 17 yang jatuh di wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang membawa 12 kru dan penumpang dengan 11 pucuk senjata api berbagai jenis. Ketika evakuasi jenazah dilakukan pada pertengahan Februari, sebanyak 11 pucuk senjata api tidak ditemukan di lokasi dekat puing helikopter dan diduga sudah diambil masyarakat.

Kapendam XVII Cenderawasih Kol CPL Eko Daryanto mengaku, belum bisa memastikan apakah senjata api yang digunakan berasal dari reruntuhan helikopter MI 17 atau tidak.

“Masih butuh penyelidikan intensif untuk memastikannya,” kata Kol CPL Eko.

Sementara itu, untuk penembakan teranyar ini, The Jakarta Post menyitir laporan pihak berwenang Indonesia yang berujar, pesawat itu membawa tiga ton bahan makanan dan bahan lainnya yang seharusnya dimiliki oleh pemerintah kabupaten.

Sumber: matamatapolitik.com

Editor: tom.