HETANEWS

Berkat Virus Corona, Vladimir Putin bisa Berkuasa di Rusia hingga Tahun 2036

Russian President Vladimir Putin attends a meeting with Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu in Jerusalem, Jan. 23, 2020. Foto: Alexei Nikolskyi/Sputnik via Reuters

Hetanews.com - Vladimir Putin berpeluang untuk menjabat sebagai presiden Rusia hingga 2036! Rupanya, hal itu akibat dari wabah Virus Corona yang mulai masuk ke wilayah negara beruang merah tersebut. Rusia dikabarkan terpaksa menunda pemungutan suara publik atas amandemen terkait kepemimpinan Presiden Rusia, Vladmir Putin.

Menyadur dari Guardian, amandemen ini memungkinkan Putin kembali menjabat sampai periode 2036. Pembatalan ini tidak lain karena wabah Covid-19 yang berpotensi besar mengancam nyawa masyarakat.

Kremlin sejauh ini belum menjadwalkan kembali pemungutan suara yang harusnya dilaksanakan pada 22 April ini. Pengambilan suara ini dimaksudkan untuk mengatur ulang jabatan Putin dan memungkinkannya mencalonkan diri untuk masa jabatan kelima dan keenam.

Hal ini tentunya berlandaskan konstitusi yang telah direvisi. Para otoritas pemilu Rusia terbesit ide untuk melakukan pemungutan suara di rumah-rumah.

Tentu untuk memfasilitasi negara berpenduduk 140 juta ini agar tetap memilih, namun tidak harus berkerumun dan tatap muka.

"Pemungutan suara ditetapkan pada 22 April, tetapi kesehatan warga negara adalah yang paling penting," kata Dmitry Peskov, juru bicara Putin.

"Jika pertumbuhan situasi epidemiologis memberi alasan untuk menjadwal ulang, maka itu akan dilakukan," tambahnya.

Pakar Ragu dengan Jumlah Infeksi Covid-19 di Rusia

Rusia, negara yang memiliki 140 juta penduduk ini ternyata mengantongi kasus Covid-19 yang tidak terlampau tinggi. Bisa jadi dianggap sebagai negara yang memiliki kesiapan melawan pandemi global asal Wuhan, China ini.

Pada Minggu lalu, Rusia mengonfirmasi ada 367 kasus Covid-19. Sementara menurut catatan The Wuhanvirus, ada 350 kasus aktif dan satu orang korban jiwa.

Sedangkan pasien yang dinyatakan sembuh ada 16 orang. Melansir NBC News, angka ini tentu bisa dikatakan tidak fatal. Bukan karena kurangnya pengujian, sebab Pemerintah Rusia mengklaim bahwa mereka telah melakukan lebih dari 140.000 tes.

Sebagai perbandingan, Amerika Serikat melaporkan 25.000 lebih kasus Covid-19 dengan total pengujian yang sama. Fakta ini berasal dari penelitian dan perhitungan yang dilakukan John Hopkins University.

Sementara itu, Pejabat Rusia justru mengaitkan sedikitnya angka infeksi dengan kontrol dan penutupan perbatasan yang agresif. Kondisi ini tidak lepas dari kritikan pakar yang memberi peringatan bahwa bisa saja ada infeksi corona yang jauh lebih tinggi.

Kenyataannya Presiden Rusia Vladmir Putin berniat mempertahankan citra pemerintahan yang tenang. Terlepas dari apa yang sebenarnya mungkin saja sedang terjadi di negara ini. Pada rapat kabinet Selasa lalu, Putin menyatakan bahwa situasi terkendali.

"Berkat tindakan cepat yang diambil secara proaktif pada minggu-minggu pertama epidemi, kami berhasil menahan masifnya (infeksi)."

"Saya ingin menggarisbawahi (maksudnya) penyebaran corona secara besar-besaran dan penyebaran infeksi di Rusia," kata Putin.

Tidak bisa dipungkiri, Rusia cepat tanggap menanggulangi pandemi Covid-19 ini. Lepas kabar pecahnya virus corona di China pada Januari 2020 lalu, Rusia dengan cepat menutup perbatasannya yang luas di area darat.

Sejak Februari lalu pemerintah Rusia juga telah melarang kedatangan turis dari Tiongkok. Upaya pencegahan infeksi terbarunya adalah megarantina semua warga asing yang berasal dari negara terjangkit.

Sumber: suar.grid.id

Editor: tom.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.