HETANEWS

Mengepung Corona di Ruang Siber

Wabah virus corona tak hanya menjadi ancaman di dunia nya. Di ruang siber, teknologi ibarat pedang bermata dua. Efek Medusa pun tak terelakkan. Foto: Kunsthistorisches Museum Wien/Peter Paul Rubens

Hetanews.com - Dua bulan sudah virus corona menjadi momok global. Bermula dari kota Wuhan di Provinsi Hubei China awal Desember lalu, virus corona kini menjalar ke 77 negara. Rumor dan fakta pun berseliweran tanpa batas. Fakta bahwa belum ada obat yang ampuh untuk membunuh virus tersebut, membuat banyak orang kalang kabut.

Saat laporan ini ditulis, situs yang mencatat penyebaran virus itu secara global bikinan Johns Hopkins University di Amerika, menyebutkan sudah 95.748 orang terinfeksi, 3.286 diantaranya meninggal, dan 53.423 dinyatakan bisa disembuhkan.  

Padahal, pada 11 Februari lalu 2020 jumlahnya masih 43.141 orang, dengan 1.018 jiwa diantaranya meninggal dunia dan 4.340 orang dinyatakan sembuh. Di dunia nyata, pemerintah di negara-negara yang terinfeksi selain China, antara lain Korea Selatan, Italia, Rusia, Singapura, juga Indonesia, membatasi lalu lintas orang antar negara.

Mereka yang terinfeksi dilacak dengan siapa saja mereka pernah berinteraksi. Yang paling menderita tentu warga China, mereka ditolak dimana-mana. Di ruang siber, dunia yang terkoneksi lintas negara, virus corona muncul dalam bentuk lain.

 Ada yang menyebarkan kepanikan lewat disinformasi dan hoax ke seantero bumi, namun tak sedikit pula yang memanfaatkan teknologi untuk membantu mengatasi penyebaran corona, meskipun perusahaan-perusahaan teknologi juga terpukul oleh wabah tersebut.

Di China, misalnya, terlepas dari kontroversi yang muncul, pemerintah setempat mengggandeng raksasa e-commerce Alibaba untuk membuat aplikasi yang dapat mendeteksi apakah seseorang telah melakukan 'kontak dekat' dengan orang-orang yang terpapar virus corona.

Untuk menggunakan aplikasi yang disebut The Alipay Health Care itu, pengguna diharuskan memindai QR code di smartphone menggunakan aplikasi Alipay. Nantinya, aplikasi akan memindai pemilik ponsel dengan warga hijau, kuning, atau merah.

Jika yang keluar adalah warna hijau, artinya orang tersebut sehat dan dapat berkeliaran di kota tanpa batas. Jika mendapat warna kuning, itu artinya harus menjalani karantina tujuh hari. Sedangkan jika mendapat warna merah, orang itu harus menjalani karantina 14 hari.

Belakangan, laporan The New York Times menyebutkan terkadang aplikasi itu tidak akurat. Seseorang yang sebelumnya mendapat warna hijau, hari berikutnya berganti menjadi merah.

Namun, Alibaba tak menyerah. Terbaru, perusahaan itu mengatakan sedang mengembangkan teknologi artificial intelligence atau kecerdasan buatan untuk mendeteksi dan mendiagnosa apakah seseorang terinfeksi corona atau tidak.

Alibaba menyebut, sistem barunya itu dapat mendeteksi virus corona lewat pemindaian momografi terkomputerisasi atau yang biasa disebut CT scan pada bagian dada seseorang.

Teknologi itu diklaim akurasinya mencapai 96 persen dalam membedakan kasus pneumonia virus biasa dengan pneumonia virus corona. Diketahui, virus corona dapat menyebabkan pneumonia atau infeksi yang menimbulkan peradangan paru-paru.

Para peneliti di Alibaba Damo Academy menyebut mereka telah melatih model AI-nya dengan data sampel lebih dari 5.000 kasus virus corona dan telah diuji di rumah sakit di seluruh China.

Dengan algoritma itu, Alibaba juga mengklaim hanya butuh waktu 20 detik bagi AI untuk menyimpulkan apakah seseorang terinfeksi virus corona atau tidak. Biasanya, dokter butuh waktu sekitar 15 menit untuk mendiagnosis pasiennya melalui CT scan.

Nikkei's Asian Review melaporkan, teknologi AI ini setidaknya telah diadopsi di lebih dari 100 rumah sakit di provinsi, Hubei, Guangdong dan Anhui.

Sebelumnya, dua perusahaan raksasa China yang berfokus pada AI, Megvii dan Baidu juga telah mengembangkan sistem pemindaian suhu tubuh berbasis kecerdasan buatan. Alat pemindaian itu dapat mendeteksi suhu tubuh dan mengirimkan peringatan kepada pekerja perusahaan jika suhu tubuh seseorang tinggi hingga demam.

Peluncuran Megvii dan Baidu dilakukan tak lama setelah pemerintah Beijing menetapkan langkah-langkah pemantauan suhu di semua stasiun kereta bawah tanah. Sistem Megvii disebut-sebut dapat mendeteksi suhu tubuh hingga 15 orang per detik.

Ada pun Baidu, salah satu perusahaan mesin pencari terbesar di China, menyaring penumpang kereta bawah tanah di stasiun Qinghe dengan pemindai inframerah. Namun, mereka  juga menggunakan sistem pengenalan wajah, mengambil foto wajah penumpang.

Jika sistem Baidu mendeteksi suhu tubuh setidaknya 99 derajat Fahrenheit, selanjtunya mesin mengirimkan peringatan kepada anggota staf untuk dianalisis. Teknologi ini dapat memindai suhu lebih dari 200 orang per menit.

Terpaut ribuan kilometer dari China, Center for Systems Science and Engineering (CSSE) dariJohn Hopkins University mengambil inisiatif untuk membuat sebuah dashboard digital yang bisa diakses dari seluruh dunia. Dashboad itu merekam persebaran wabah virus corona secara real-time. Pasokan datanya didapat dari Organisasi Kesehatan Dunia, WHO.

Mengudara pertama kali secara publik pada 22 Januari lalu 2020, para peneliti membuat semacam pemetaan global yang memperlihatkan lokasi dan jumlah kasus Covid-19 yang terkonfirmasi, jumlah korban meninggal, hingga mereka yang berhasil disembuhkan di semua negara yang terdampak.

"Ini dikembangkan untuk memberi para peneliti, otoritas kesehatan masyaraakt, dan masyarakat umum alat yang mudah digunakan untuk melacak wabah saat terungkat," tulis John Hopkins University di laman resminya.

Selama 22 - 31 Januari 2020, seluruh pengumpulan dan pemrosesan data dikelola secara manual. Mulai 1 Februari, barulah CSSE mengadopsi strategi aliran data semi otomatis dengan data utama bersumber dari DXY sebuah platform online yang dijalankan oleh komunitas medis Tiongkok. Sejak itu, data diperbaharui setiap 15 menit.  

Selain itu, untuk mengidentifikasi kasus baru, CSSE memantau laporan media massa, termasuk media sosial. Temuan itu lantas dikonfirmasi ke otoritas kesehatan negara terdampak dan WHO.

Saat sebagian orang berjuang mencari cara memanfaat teknologi informasi untuk berkontribusi mencegah meluasnya wabah corona, di sisi lain, para penjahat siber juga menjalankan aksinya.

Sebagian memanfaatkan kepanikan orang-orang terkait virus corona, sebagian lain melihatnya sebagai kesempatan mendulang pundi-pundi uang.

Tak lama setelah kabar virus corona menghiasi halaman media massa cetak dan online, muncul kabar sekelomppok penjahat dunia maya memanfaatkan isu itu untuk menipu.

Akhir Januari 2020 lalu, peneliti IBM X-Force dan Kaspersky menemukan kampanye penyebaran malware yang mengusung tema virus corona. Yang disasar adalah pengguna internet di Jepang.

Modusnya, pelaku mengirimkan email yang sekilas terlihat seperti informasi tentang bagaimana menghindari terpapar virus corona. Namun, begitu diklik, sistem akan otomatis mengunduh file jahat dan menetap di komputer , untuk kemudian menginfeksi komputer.

"Termasuk trojan dan worm yang mampu menghancurkan, memblokir, memodifikasi atau menyalin data, dan mengganggu operasi komputer atau jaringan," kata peneliti Kaspersky.

Di sisi lain, para pedagang di platform e-commerce dan sosial media memanfaatkan isu corona untuk meningkatkan penjualan mereka.

Di Indonesia, sekedar menyebut contoh, para pedagang di platform Tokopedia dan Shopee menawarkan obat-obatan yang diklaim mampu menangkal dan menyembuhkan virus corona. Padahal, belum ada pembuktiannya secara medis. Bahkan, hingga kini, para peneliti masih berjuang menemukan obat penawar untuk menyembuhkan virus corona.

Di Amerika, platform e-commerce milik orang terkaya di dunia, Amazon, juga tak luput dari hal serupa. Bedanya dengan e-commerce di Indonesia, Amazon bertindak cepat memblokir produk yang diklaim bisa menyembuhkan corona, bahkan pedagang yang menaikkan harga masker berkali lipat juga turut dilibas.

Raksasa sosial media Facebook dan Twitter juga telah melakukan upaya serupa dengan mencegah disinformasi terkait virus corona dengan melarang iklan produk penawar virus corona.

Laporan terbaru dari Info Security Magazine menyebut fenomena itu sebagai Efek Medusa.  Dalam mitologi Yunani, Medusa adalah makhluk mistis yang berwujud seorang wanita cantik dengan ular sebagai rambutnya.

Efek Medusa, dapat disarikan sebagai: ketika Anda memiliki terlalu banyak risiko, coba abaikan sedapat mungkin dan berharap itu tidak terjadi. Perusahaan-perusahaan dengan cepat harus membuat skenario baru, yang mungkin tidak terpikirkan sebelum sebelumnya.

Di era digital, keamanan siber selalu terkait dengan kelangsung bisnis dan ketahanan melindunginya dari peretas. Jika berhasil, selamat, Anda bisa keluar dari kepungan yang mengancam.

Sumber: cyberthreat.id

Editor: tom.