HETANEWS

Indonesia Membangun Sistem Pertahanan Udara Terpadu, Jet Tempur Su-35 dan F-16 Viper Jadi Ujung Tombak

Indonesia Membangun Sistem Pertahanan Udara Terpadu. Foto: tni-au.mil.id

Hetanews.com - Jikalau Indonesia bingung-bingung mengenai tekanan Amerika Serikat (AS) yang melarang pembelian jet tempur Sukhoi Su-35 dari Rusia, maka ada jalan tengah. AS lantas menawarkan F-16 Viper ke TNI AU sebagai ganti Su-35.

Sebagai win-win solution maka bisa diborong dua-duanya saja untuk semakin mempertebal pertahanan udara Indonesia. AS senang, Rusia senang, Indonesia senang dengan jalan tengah itu.

Solusi diatas nyatanya bukan isapan jempol belaka karena Indonesia bisa saja mewujudkannya karena negeri ini sedang membangun sistem pertahanan udara terpadu.

Mengutip defenseworld.net, Selasa (24/3/2020) polemik pelarangan AS agar Indonesia membatalkan pembelian Su-35 malah membuat negeri ini semakin bersemangat membangun pertahanannya.

AS sendiri sejatinya melarang pembelian Flanker Family karena tak mau Indonesia mempunyai kemampuan taktis di udara. Selain itu Su-35 ditakutkan merusak pasaran F-35 dan F-16, dagangan AS bisa tak laku.

Bahkan sebelum AS melontarkan pelarangan itu, Indonesia sudah menyatakan minat membeli F-16 Viper sebanyak 32 unit. Seri tercanggih dari jet tempur Freedom Fighter itu memang sengaja akan dibeli Indonesia demi membentuk dua Skadron Tempur baru upaya mendukung pembentukan sistem pertahanan udara terpadu.

Indonesia memang berencana membeli F-16 Viper sebelum AS datang menawari.
Foto: Lockheed Martin

Menurut seorang sumber industri senior yang tak mau disebutkan namanya, Indonesia memasukan pembelian Su-35 di anggaran pertahanan tahun 2020-2024.

Selain itu TNI bakal membentuk sistem komunikasi alias Network Centric Warfare (NCW) demi mengintegrasikan semua mesin perang Indonesia. Dan Su-35 serta F-16 Viper sebagai ujung tombaknya.

Su-35 dan F-16 Viper, bakal jadi duo ujung tombak pertahanan udara Indonesia.
Foto: Rosoboronexport

"TNI merencanakan pembentukan sistem komunikasi Network-Centric Warfare (NCW) bagi Angkatan Udara supaya dapat mengintegrasikan semua pesawat tempur, radar, intelijen, sensor dan pengintaian (ISR) sensor serta rudal ke dalam satu jaringan terpusat, dan pengadaan pesawat Sistem Peringatan dan Kontrol Lintas Udara (AWACS) serta pesawat tanker," ujar sumber tersebut seperti dikutip dari defenseworld.net.

"Turut serta F-16 Blok 70/72 dari AS untuk pembentukan dua skuadron baru dan 11 pesawat tempur Sukhoi dari Rusia," tambahnya.

Pembangunan sistem pertahanan terpadu tersebut bakal meningkatkan kapabilitas militer Indonesia ke level yang lebih tinggi. Pasalnya dengan adanya Network-Centric Warfare pengerahan segala unsur TNI bisa lebih maksimal dan efektif dalam pelaksanaan misi di lapangan.

Sumber: sosok.grid.id

Editor: tom.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.