HETANEWS

Pemberontakan Anti-Xi Menyebar Saat Corona China Mereda

Presiden Tiongkok Xi Jinping mengunjungi Rumah Sakit Huoshenshan di Wuhan, Cina pada 10 Maret 2020. Foto: Xinhua

Hetanews.com - Xi Jinping dilabeli sebagai presiden ‘badut’ di tengah meningkatnya oposisi yang dipicu kemarahan publik atas penanganan epidemi corona di China. Ren Zhiqiang, mantan Kepala Beijing Huayuan Group, pengembang milik negara, kembali menggulirkan kritik teras terhadap Presiden China Xi Jinping awal bulan.

Dalam kritiknya itu, Ren menyebut Xi “badut” dan menyamakannya dengan kaisar dalam kisah terkenal karya penulis Denmark, Hans Christian Andersen.

Anak dari Wakil Menteri Perdagangan era Mao Zedong itu tak gentar memaki Xi Jinping lantaran tak tahan lagi dengan politik pencitraan dan cara ia menutup-nutupi fakta soal corona yang dimulai pada Desember 2019 di Wuhan. Menurutnya, Xi pantas disebut badut karena lamban mengambil langkah konkret untuk mengatasi virus, tulis Asia Times.

“Tidak ada potongan kaisar dalam pakaian barunya, melainkan badut yang dilucuti pakaianya, tetapi masih ngotot ingin jadi kaisar,” ujarnya sarkastik.

Pernyataan yang beredar marak di media sosial itu pertama muncul di Twitter dan dikutip beberapa outlet media luar negeri China awal bulan ini. Akun Ren di Weibo layanan seperti Twitter di China–sendiri ditutup empat tahun lalu.

Seruan Ren untuk menentang “Xi yang tidak bertanggung jawab,” dikeluarkan tepat sebelum pemimpin itu terbang ke pusat epidemi Wuhan awal bulan ini. Pelabelan itu makin menambah daftar panjang polemik yang harus Xi hadapi selama bertahun-tahun meraih jas partai dan kekuasaan negara pada 2012.

Ren (70), belum terlihat sejak itu, dan teman-temannya menelusuri media sosial guna mencari informasi tentang keberadaannya. Namun, menurut laporan dari Asia Times, muncul berita selama akhir pekan lalu, Ren ditahan di penjara rahasia di pinggiran kota Beijing.

Ia mungkin dikurung tidak kurang dari 15 tahun karena ia telah menjadi residivis, tanpa henti menyerang Xi. Dikatakan pula, interogatornya yang dikirim oleh komisi partai pada pemeriksaan disiplin, telah diberi instruksi dari pusat untuk memperlakukannya dengan keras, karena ia telah membuat marah pemimpin tertinggi.

Para pengamat mengatakan, ketakutan terbesar Xi adalah menerima pukulan tajam dari musuh di dalam partai, serta tuduhan terbuka yang dibuat tokoh terkenal seperti Ren, keturunan partai sekaligus pengusaha sukses.

Buat Xi mungkin, Ren jauh lebih berbahaya daripada pembangkang, intelektual, atau penghasut anti-China di Barat. Ren telah berada di lembaran buruk Xi sejak 2016, ketika dia diancam dengan penangguhan keanggotaan partai jika dia terus menertawakan upaya Xi untuk semakin memperketat cengkeramannya pada media.

Dalam sebuah memoar yang diterbitkan pada 2013, dilansir dari Asia Times, Ren mengungkapkan Wakil Presiden Wang Qishan, letnan terpercaya Xi dalam perang merupakan teman sekelas saat ia menjalani pendidikan sekolah menengahnya di Beijing.

Komentator China yang berbasis di Taiwan Paul Lin, profesional veteran berita yang bekerja untuk Hong Kong Economic Journal dan China Times, menulis di kolomnya, Ren dapat mengekspresikan pikiran Wang. Ini mengingat desas-desus Wang “diturunkan” saat ini, setelah memimpin pengawas anti-korupsi.

Wang sendiri mengaku hanya membantu Xi melakukan beberapa “tugas diplomatik seremonial” ketika menerima Menteri Luar Negeri Meksiko pada Juli 2019.

Lin mengatakan kepada Asia Times, Wang bisa saja dikesampingkan oleh Xi selama diskusi tentang sengketa perdagangan China-Amerika Serikat ketika ide-ide mereka menyimpang. Ini tetap dilakukan Xi meskipun keahlian Wang terbukti dalam mengelola risiko keuangan dan ekonomi, ketika menjalankan China Construction Bank dan China International Capital Co, Ltd, serta menjabat Wakil Perdana Menteri Keuangan.

Pun, seruan orang-orang kepada Wang untuk kembali memimpin pemerintahan selama puncak pandemi telah menempatkan absennya Xi yang lama dari mata publik. Wang berkecimpung di politik Beijing sebagai  Wali Kota pada 2003 dan dengan cepat memimpin kota yang dilanda SARS keluar dari krisis.

Ada juga surat terbuka lain yang beredar secara online sejak pekan lalu yang menyarankan diadakannya Sidang Pleno Politbiro  Luar Biasa untuk merenungkan “kesalahan Xi” sejak menjabat. Lalu, memutuskan apakah ia harus mundur sebagai presiden, kepala partai, dan komandan militer.

Kritik soal kinerja Xi tak hanya soal penanganan corona tapi juga pada kesalahan kebijakan utamanya sejak 2012, dari perselisihan perdagangan dan ekonomi dengan AS hingga kegagalan meningkatkan pengakuan nasional di antara warga Hongkong dan Taiwan untuk mendorong reunifikasi.

Surat itu telah disampaikan oleh beberapa anggota faksi penguasa yang cenderung melakukan reformasi politik dan liberalisasi, termasuk Chen Ping, penerbit dan pendiri jaringan SunTV yang berbasis di Hong Kong.

Chen mengatakan kepada RTI, justru kurangnya kebebasan pers di daratan yang memicu desas-desus dan surat anonim itu berbicara banyak tentang kejengkelan jamak yang dirasakan oleh sejumlah anggota partai karena Xi mengulangi reformasi politik dan ekonomi.

Sumber: matamatapolitik.com

Editor: tom.