HETANEWS

DKI Jakarta Buka Rekam Jejak Titik Lokasi Pasien Covid-19

Peta sebaran pasien Covid-19 di wilayah DKI Jakarta. Foto: Pemprov DKI

Hetanews.com - Jejak lokasi sebagian pasien yang dinyatakan positif terinfeksi virus corona mulai diungkap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Jejak tersebut muncul dari situs web corona.jakarta.go.id yang dikelola Pemprov DKI Jakarta yang diiakses pada Sabtu (21/3/2020).

Peta jejak lokasi itu ditempatkan di bawah peta persebaran Covid-19 yang datanya dikelompokkan per kelurahan. Untuk melihat peta tersebut, bisa mengankses laman: https://corona.jakarta.go.id/id/peta

Sejauh ini, data jejak lokasi yang dimunculkan baru 18 pasien (dari total 268 kasus positif Covid-19 atau SARS Cov2). Yaitu kasus 1, 2, 3, 4, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 18, 19, 22, dan 54.

Data yang ditampilkan berupa titik lokasi rumah dan tempat kontak dengan pasien positif corona, namun tidak disebutkan nama tempatnya.

Dilansir dari Cyberthreat.id, untuk mengakses data ini, pada "Peta Kronologis dan Perkembangan Kasus Covid-19" di website DKI Jakarta, pada bagian kanan ada tombol yang memungkinkan seseorang memilih berdasarkan nomor kasus yang ingin dilihat jejak lokasinya.

Secara keseluruhan, meskipun data lokasi yang dimunculkan masih beberapa kasus, ini adalah langkah maju dan bisa dijadikan panduan bagi masyarakat sekitarnya untuk mawas diri dan melakukan pemeriksaan jika pernah berada satu tempat dengan lokasi yang pernah dikunjungi pasien positif.

Hanya saja, dibutuhkan data lebih detail seperti kapan pasien positif berkunjung ke tempat itu. Dalam peta kronologis yang memuat jejak lokasi, pengelola situs DKI Jakarta menulis,"Tidak semua kasus ditampilkan dalam peta. Ini untuk memudahkan visualisasi. Kasus yang dipilih adalah representatif dan detail terkait pribadi/personal tidak ditampilkan untuk publik".

Pengamat sosial media dari Drone Emprit, Ismail Fahmi, ketika ditanya tentang ini mengatakan sebaiknya pemerintah membuka data lokasi yang pernah dikunjungi pasien Covid-19. Dengan begitu, warga bisa mengantisipasi apakah dirinya punya kemungkinan terjangkit atau tidak.

"Tidak perlu detail nama orang, karena penting juga menjaga privasi korban. Yang paling penting adalah data lokasi, kapan, dan dimana," kata Fahmi.

Fahmi memahami mengapa pemerintah sampai sekarang belum terbuka sepenuhnya soal data lokasi. Selain agar tidak membuat panik, mungkin pemerintah berpikir bisa merugikan pemilik bisnis jika data lokasiya diunggap.

"Tapi dalam kondisi sekarang dimana eksponensialnya luar biasa dan sudah menyebar kemana-mana, data tracing lokasi ini penting dan bisa jadi alert bagi orang-orang."

"Dikasih data jejak lokasi, kemudian beritahu orang-orang apa yang harus dilakukan. Untuk hal spesifik seperti ini, mestinya bisa dibuka karena untuk menyelamatkan publik yang lebih banyak.

Dengan begitu orang punya panduan saat melakukan social distancing seperti yang disarankan pemerintah. Kalau tidak dikasih tahu, bisa-bisa memperluas penyebarannya," kata Fahmi.

Menurut Fahmi, langkah itu telah dilakukan Korea Selatan dan Singapura dan terbukti ampuh menekan persebaran virus corona di sana. Namun begitu, Fahmi mengingatkan, yang harus dijaga jangan sampai ketahuan identitas lengkap pasiennya seperti yang terjadi dengan pasien kasus 1 dan 2 ketika pertama kali kasus itu terungkap.

"Semua ini demi menyelamatkan nyawa banyak orang. Ketika dia keluar, artinya dia kan membahayakan orang lain," kata Fahmi. Berikut merupakan data jejak lokasi pasien tersebut.

Kasus 15
- Kontak dengan pasien positif corona di Klub Dansa Amigos
- Kontak dengan pasien positif corona kasus 1 di Paloma Bistro
- Di rumah mengalami gejala batuk, pilek, sakit tenggorokan dan sesak nafas
- Ke RS YPK Mandiri, negatif

Kasus 18
- Di rumah, mengalami gejala batuk, pilek, sakit tenggorokan, sesak nafas dll
- Periksa swab di RSUD Kramat Jati. Sebelumnya juga berobat pada 3 Maret
- Dirujuk ke RSUP Persahabatan, namun sempat menolak di isolasi dan kabus. Sudah dilakukan pendekatan persuasif.

Kasus 19
- Mengalami gejala di rumah berupa batuk, sakit kepala, demam
- Ke RSUP Persahabatan dan positif
- Tidak ada riwayat lokasi sebelumnya.

Kasus 22
- Mengalami gejala batuk, pilek, nyeri otot, lemah, mual muntah di rumah
- Dirawat di RS Medistra
- Tidak ada data lain yang ditampilkan

Kasus 54
- Mengalami gejala di rumah
- Berobat ke praktek dokter
- Berobat ke RS Siloam Kebon Jeruk
- Dirujuk ke RSPAD Gatot Subroto, positif SARS CoV2 dan diisolasi

Meskipun pada peta riwayat lokasi tidak ditampilkan data rumahnya, namun data kelurahannya dapat ditelusuri di peta persebaran Corona meskipun agak rumit karena pengguna harus mengecek ke satu demi satu titik yang muncul di peta.

Kasus 54 misalnya. Karena disebutkan yang bersangkutan berobat ke RS Siloam Kebon Jeruk, maka penelusuran dilakukan dengan mencari data Kelurahan Kebon Jeruk di peta persebarannya.

Hasilnya, pasien kasus 54 tertera di sana sebagai salah satu dari 5 orang positif Covid-19 di Kebon Jeruk. Disebutkan, kasus 54 adalah seorang perempuan dengan usia 25 tahun. Penelusuran terhadap kasus 1 menemukan datanya termasuk dalam data Kelurahan Pluit yakni seorang wanita berusia 65 tahun.

Tidak diketahui pasti apakah kasus 1 adalah kasus yang sama dengan pasien kasus 1 Indonesia yang diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada 2 Maret lalu. Namun, jika mengacu kepada data jenis kelamin, usia, dan riwayat kontak dengan WN Jepang di Paloma Bistro, kemungkinan besar adalah orang yang sama yang berdomisili di Depok, Jawa Barat.

Untuk kasus 3 yang sudah dinyatakan meninggal dunia, datanya ditemukan di peta persebaran sebagai warga Kelurahan Petagogan, seorang perempuan berusia 33 tahun. Total ada dua orang yang terinfeksi di sana.

Untuk kasus 4 yang di peta kronologis disebut melakukan kontak dengan pasien positif corona MAA di Klub Crazy Uncle, lalu berkunjung ke Nouvelle dan Murphy`s Irish Pub, di peta persebaran namanya tercatat sebagai warga Duren Tiga, seorang perempuan berusia 48 tahun.

Kasus 5 dan 6 di peta persebaran tercatat sebagai warga Kelurahan Bangka, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Kasus 5 seorang laki-laki berusia 29 tahun, dan kasus 6 seorang perempuan berusia 53 tahun.

Mereka termasuk bagian dari 5 orang yang dinyatakan positif Covid-19 di Bangka, bersama pasien kasus 18 yang adalah seorang perempuan berusia 70 tahun.

Untuk kasus 7, datanya ditemukan di peta persebaran sebagai warga Kelurahan Pasar Manggis: seorang lelaki berusia 52 tahun. Ada dua orang lainnya yang dinyatakan positif di sana.

Data pasien kasus 8 dan 9 ditemukan di peta persebaran sebagai warga Pasar Minggu. Mereka adalah seorang laki-laki berusia 55 tahun dan perempuan berusia 54 tahun. Sejauh ini, baru mereka berdua yang dilaporkan positif di Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Sedangkan kasus 10, datanya ditemukan di peta persebagai sebagai warga Kelurahan Grogol Selatan, seorang perempuan berusia 55 tahun.

Total ada dua orang yang dinyatakan positif di kelurahan itu. Kasus 11 ditemukan sebagai warga Karet Semanggi, laki-laki berusia 34 tahun. Total ada dua kasus di sana.

Untuk kasus 19, datanya ditemukan sebagai korban dari Kelurahan Kembangan, Jakarta Barat. Di sana, kasus 19 tercatat sebagai seorang lelaki berusia 55 tahun.

Sejauh ini, ada dua orang yang dinyatakan positif Covid-19 di kelurahan itu. Kasus 12, datanya ditemukan di peta persebaran sebagai warga Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Orang ini tercatat sebagai perempuan berusia 47 tahun dan satu-satunya warga Kebon Melati yang dinyatakan positif sejauh ini.

Kasus 14 yang dalam peta kronologis disebut melakukan kontak denga kasus 1 di Paloma Bistro, ditemukan di peta persebaran sebagai warga Cawang, seorang perempuan berusia 36 tahun. Dia satu-satunya korban di sana.

Kasus 15 yang dalam peta kronologis disebut melakukan kontak dengan positif corona di Klub Dansa Amigos, dan pasien kasus 1 di Paloma Bistro, datanya ditemukan di peta sebaran kasus sebagai warga Kebayoran Lama Utara, seorang laki-laki berusia 50 tahun.

Sejauh ini, total ada 2 orang terinfeksi di sana. Untuk kasus 22, setelah berusaha mencarinya hampir dua jam, Cyberthreat.id belum menemukan di mana tempat domisilinya dalam peta persebaran.

Sumber: cyberthreat.id

Editor: tom.