HETANEWS

Kilas Balik Kudeta Kamboja 1970

Kerumunan penduduk setempat menyambut pasukan Khmer Merah yang menang ketika mereka memasuki Kota Phnom Penh tanggal 17 April 1975, tetapi senyum di wajah mereka tidak akan bertahan bahkan hingga akhir hari. Foto: Roland Neveu

Hetanews.com - Melihat kembali perkembangan signifikan di Kamboja dengan implikasi yang terus berlangsung hingga hari ini. Minggu ini adalah peringatan ke-50 tahun kudeta Kamboja 1970, di mana Raja Norodom Sihanouk dicopot dari kekuasaan, membuka jalan Lon Nol untuk mengambil kendali dan mengubah Kamboja menjadi republik.

Langkah ini diyakini telah memicu perebutan kekuasaan yang pada akhirnya akan menghancurkan negara itu: mengarah pada perang saudara, pengambilalihan Khmer Merah (sayap militer Partai Komunis Kamboja yang beraliran Maois) berikutnya, jutaan kematian, dan sepuluh tahun pendudukan Vietnam.

Hari ini, kudeta itu telah menjadi alat politik, cara bagi Perdana Menteri Hun Sen untuk menjelekkan perubahan rezim apa pun yang mengarah pada kekacauan massal dan perang saudara.

Ini adalah strategi yang terus digunakannya selama puluhan tahun, dengan manifestasi yang dapat dilihat bahkan dalam politik kontemporer Kamboja, menurut Andrew Nachemson dalam tulisannya di The Diplomat.

Partai oposisi Kamboja dilarang pada 2017 karena diduga berusaha menggulingkan pemerintah dengan dukungan AS. Itu adalah klaim aneh yang yang dibuat tanpa didasarkan pada bukti apa pun.

Tahun lalu, pemimpin oposisi Kamboja yang diasingkan, Sam Rainsy, mengumumkan dia akan kembali memimpin protes damai terhadap rezim otoriter Hun Sen. Hun Sen langsung menyebut rencana itu sebagai upaya kudeta.

Pemerintah menangkap sejumlah pendukung Rainsy, mengerahkan pasukan di sepanjang perbatasan Thailand, dan berhasil meminta pemerintah Thailand untuk menolak aksesnya ke negara itu.

Perdana Menteri Kamboja Hun Sen.
Foto: AP

“Pemerintah dan Kementerian Dalam Negeri telah sukses besar dalam menjaga perdamaian dan stabilitas,” kata Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Kamboja Khieu Sopheak pada konferensi pers bulan ini, dikutip dari The Diplomat. Ia juga membual pihak berwenang telah menangkap lebih dari 200 orang.

Walaupun sebagian besar orang kesulitan memahami mengapa protes damai terhadap diktator otoriter disebut sebagai kudeta, itu bukan pertama kalinya Hun Sen menyebut kata sakti itu demi keuntungan politiknya sendiri.

Bahkan, “kudeta” Lon Nol sebenarnya bukan kudeta. Kudeta biasanya didefinisikan sebagai perebutan kekuasaan dengan cara yang kejam atau ilegal, menurut Nachemson.

Lengsernya Sihanouk tidak dilakukan dengan cara seperti itu. Tidak ada pertempuran di jalanan, tidak ada eksekusi massal, tidak ada setetes darah pun tumpah pada saat itu. Anggota Majelis Nasional memilih dengan suara bulat untuk meminta pasal konstitusi untuk menghapus Sihanouk dari kekuasaan.

Semua ini terjadi setelah semakin meningkatnya keresahan masyarakat terhadap Sihanouk, yang memungkinkan Vietnam Utara untuk menggunakan Kamboja sebagai basis operasi selama Perang Vietnam. Tahun lalu, putra Lon Nol secara terbuka membela ayahnya, mengatakan dia bukan “pengkhianat”.

“Itu bukan keputusannya, itu adalah keputusan Majelis Nasional dan rakyat Kamboja,” kata Lon Rith kepada Khmer Times.

Dia juga menyalahkan Sihanouk karena mendukung Khmer Merah, yang telah berjanji untuk mengembalikannya sebagai raja ketika mereka mengambil alih kekuasaan. Sebaliknya, dia akhirnya menjadi tahanan rumah.

Komentar Rith memicu kemarahan dari Hun Sen. Meski Lon Nol memiliki hubungan positif dengan Amerika Serikat, tidak ada bukti langsung yang menunjukkan AS terlibat dalam transfer kekuasaan itu.

Namun, Hun Sen tidak membiarkan itu mengganggu narasinya. Pada Maret tahun lalu, perdana menteri menyatakan “perang dan kudeta” terjadi karena “hasutan oleh pihak asing”.

“Memainkan kartu anti-Amerika sangat menyenangkan bagi Hun Sen dan ‘klien’ China-nya,” ujar David Chandler, sejarawan terkemuka di Kamboja modern, kepada The Diplomat.

Ketika Kamboja jatuh semakin dalam ke dalam orbit China, rincian seperti pendanaan langsung China untuk Khmer Merah terlupakan, disingkirkan demi teori konspirasi terhadap Amerika Serikat.

Kenyataannya adalah Sihanouk tidak disukai rakyat pada saat itu, dan itu tercermin dalam pemilu Majelis Nasional 1966, di mana orang Kamboja memilih perwakilan yang pada akhirnya akan menyingkirkannya dari kekuasaan.

Chandler mengatakan, anggota Majelis Nasional yang terpilih pada 1966 tidak “dipilih sendiri oleh Sihanouk dan sebagian besar merupakan orang-orang yang tidak menyukainya.”

Dalam The History of Cambodia karya Justin Corfield, ia mencatat Sihanouk secara terbuka berbicara menentang empat kandidat yang mencalonkan diri untuk dipilih kembali.

“Keempatnya dengan mudah terpilih kembali, di mana editor surat kabar Soth Polin kemudian berkomentar, publisitas yang didapat keempat kandidat itu karena Sihanouk rutin menyerang mereka justru membuat mereka lebih dikenal di daerah pemilu mereka,” tulis Corfield.

Chandler sendiri berada di Phnom Penh pada Juni tahun itu, sekitar tiga bulan setelah lengsernya Sihanouk. Dia mengatakan, semua orang yang dia wawancarai “senang” dengan jatuhnya pemimpin itu.

Bertentangan dengan klaim Hun Sen, hanya ada satu kudeta yang dilakukan dalam sejarah Kamboja baru-baru ini, dan itu dilakukan oleh dirinya sendiri.

Pada 1997, Hun Sen secara paksa mengeluarkan partai Funcinpec dari kekuasaan, meskipun Funcinpec memenangkan lebih banyak suara dalam pemilu 1993.

Sementara “kudeta” Lon Nol terjadi dengan pemungutan suara di parlemen, apa yang dilakukan Hun Sen adalah pengerahan tank di jalanan dan eksekusi massal. Namun, kudeta Hun Sen juga merusak satu aspek penting lain dari narasinya.

Perebutan kekuasaan pada 1997 tidak menyebabkan ketidakstabilan atau perang saudara selama bertahun-tahun, tetapi justru memperkuat cengkeraman kekuasaannya dan mengantarkan negara itu pada periode pemerintahan tirani yang berlanjut hingga hari ini.

Sumber: matamatapolitik.com

Editor: tom.