HETANEWS.COM

Belajar dari Penanganan Wabah Corona Italia, Pusat Pandemi Baru

Para pekerja mengenakan pakaian hazmat pelindung saat bersiap melakukan sanitasi terhadap gedung regional di tengah persiapan Italia untuk menerapkan penutupan wilayah demi membendung persebaran virus corona baru, di Roma, Italia, Minggu, 8 Maret 2020. Foto: Reuters/Remo Casilli

Hetanews.com - Pengalaman Italia menunjukkan, langkah-langkah untuk mengisolasi virus corona baru dan membatasi pergerakan orang harus ditegakkan dengan ketat dan dilakukan sejak lebih awal dengan kejelasan mutlak agar tidak membingungkan masyarakat. 

Ketika infeksi virus corona baru di Italia mencapai lebih dari 400 kasus dan jumlah kematian mencapai dua digit, pemimpin Partai Demokrat yang berkuasa mengunggah foto dirinya bersulang untuk di Milan. Ia mendesak orang-orang “agar tidak mengubah kebiasaan kita.”

Saat itu 27 Februari 2020. Tidak sampai 10 hari kemudian, ketika jumlah infeksi mencapai 5.883 kasus dan 233 orang telah meninggal, pimpinan partai Nicola Zingaretti mengunggah video baru, kali ini memberi tahu Italia, ia juga telah terjangkit virus.

Italia sekarang memiliki lebih dari 53.000 infeksi tercatat dan lebih dari 4.800 korban jiwa. Tingkat peningkatan kini terus naik, dengan lebih dari setengah kasus dan kematian terjadi dalam seminggu terakhir.

Pada Sabtu (21/3/2020), para pejabat melaporkan 793 kematian tambahan, sejauh ini kenaikan terbesar dalam satu hari. Italia telah melampaui China sebagai negara dengan jumlah kematian tertinggi, menjadi pusat pandemi COVID-19 yang situasinya terus berubah.

The New York Times melaporkan, pemerintah Italia telah mengirim pasukan untuk memberlakukan penguncian wilayah (lockdown) di Lombardy, wilayah utara di pusat wabah, tempat mayat-mayat menumpuk di gereja-gereja.

Pada Jumat (20/3/2020) malam, pihak berwenang memperketat penguncian nasional, menutup taman, serta melarang kegiatan di luar ruangan termasuk berjalan kaki atau jogging hingga jauh dari rumah.

Pada Sabtu (21/3/2020) malam, Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte mengumumkan langkah drastis lain dalam menanggapi apa yang disebutnya krisis paling sulit di negara itu sejak Perang Dunia II.

Italia akan menutup pabrik-pabrik dan semua produksi yang tidak begitu penting. Pengorbanan ekonomi besar itu bertujuan untuk membendung penyebaran virus dan melindungi nyawa warga negara Italia.

Namun, tragedi Italia sekarang menjadi peringatan bagi negara-negara tetangga di Eropa dan Amerika Serikat, di mana virus merebak dengan kecepatan yang sama.

Belajar dari pengalaman Italia, langkah-langkah untuk mengisolasi daerah yang terdampak dan membatasi pergerakan populasi yang lebih luas perlu diambil lebih awal, diberlakukan dengan kejelasan mutlak, dan kemudian ditegakkan secara ketat.

Meskipun sekarang telah menerapkan beberapa langkah terberat di dunia, pihak berwenang Italia tidak melakukan langkah-langkah tersebut sejak awal penularan demi melestarikan kebebasan sipil dan ekonomi mendasar.

Upaya sedikit demi sedikit Italia untuk memutus penyebaran wabah penyakit COVID-19 dengan mengisolasi kota-kota terlebih dahulu, wilayah, kemudian menutup negara itu dengan cara penguncian secara sengaja, selalu tertinggal dari proses penyebaran virus secara mematikan.

“Sekarang kita nyaris tak terkejar,” tutur Sandra Zampa, asisten di Kementerian Kesehatan. Menurutnya, Italia telah melakukan upaya terbaik yang bisa diberikan sejauh informasi yang dimilikinya.

“Kami melakukan penutupan wilayah secara bertahap, seperti yang dilakukan Eropa. Prancis, Spanyol, Jerman, AS melakukan hal yang sama. Setiap hari Anda menutup sedikit, Anda menyerah pada sedikit saja ritme kehidupan normal. Virusnya tidak memungkinkan pola kehidupan normal.”

Beberapa pejabat Italia enggan untuk membuat keputusan yang menyakitkan lebih awal. Sementara itu, virus corona baru telah mengganas di tengah rasa puas yang berlebihan  itu.

Pemerintah negara-negara di luar Italia sekarang dalam bahaya mengikuti jalan yang sama, mengulangi kesalahan yang sudah terkenal, dan mengundang bencana serupa. Tidak seperti Italia yang menavigasi wilayah yang belum terpetakan untuk negara-negara demokrasi Barat, pemerintah negara-negara lain memiliki lebih sedikit ruang untuk berdalih.

Para pejabat Italia telah membenarkan tanggapan mereka. Mereka menekankan, krisis semacam ini belum pernah terjadi sebelumnya di zaman modern. Mereka menegaskan, pemerintah Italia telah merespons dengan cepat dan kompeten, segera bertindak atas saran para ilmuwan, dan bergerak lebih cepat menerapkan langkah-langkah drastis yang menghancurkan secara ekonomi daripada negara-negara lain di Eropa.

Namun, menelusuri catatan tindakan para pejabat Italia menunjukkan peluang yang terlewatkan dan kesalahan langkah yang kritis. Pada hari-hari awal wabah yang kritis, PM Conte dan para pejabat tinggi lainnya berusaha untuk memainkan ancaman serta menciptakan kebingungan dan rasa aman palsu yang memungkinkan virus terus menyebar.

Mereka menyalahkan tingginya jumlah infeksi di Italia yang konon akibat pengujian agresif terhadap orang-orang tanpa gejala di wilayah utara. Mereka berpendapat, pengujian masif seperti itu hanya menciptakan kehebohan dan menodai citra Italia di dunia.

Begitu pemerintah Italia mempertimbangkan solusi penguncian wilayah secara universal yang diperlukan untuk mengalahkan penyebaran virus, pemerintah Italia gagal mengkomunikasikan ancaman dengan cukup kuat untuk membujuk orang-orang Italia untuk mematuhi aturan, yang tampaknya penuh celah.

“Tidak mudah di negara demokrasi liberal,” ujar Walter Ricciardi, anggota dewan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan penasihat utama untuk Kementerian Kesehatan. Ia berpendapat pemerintah Italia telah bertindak berdasarkan bukti ilmiah yang tersedia untuk itu.

Sebuah rute kereta menuju Roma tampak sepi ketika Italia berjuang membendung persebaran virus corona, di Bologna, Italia, Minggu, 8 Maret 2020.
Foto: Reuters/Alberto Lingria

Ricciardi menuturkan, pemerintah Italia telah bergerak dengan kecepatan yang jauh lebih cepat serta menganggap ancaman itu jauh lebih serius, jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga di Eropa atau Amerika Serikat.

Namun, Ricciardi mengakui, menteri kesehatan Italia telah mengalami kesulitan untuk membujuk rekan-rekan pemerintahnya untuk bergerak lebih cepat. Menurutnya, kesulitan menavigasi pembagian kekuasaan Italia antara pemerintah pusat di Roma dan daerah mengakibatkan rantai komando yang terpecah dan pesan yang tidak konsisten.

Pada masa perang, seperti epidemi, Ricciardi, sistem itu menghadirkan masalah besar. Ricciardi menambahkan, pemerintah Italia mungkin te;ah menunda penerapan tindakan pembatasan.

“Jika saya berkuasa, saya akan melakukannya sepuluh hari sebelumnya, itulah satu-satunya perbedaan.”

Pandemi Covid-19 Tak Mungkin Terjadi Di Italia?

The New York Times melaporkan, selama wabah virus corona baru, waktu selama 10 hari bisa menimbulkan perbedaan yang dampaknya bertahan seumur hidup.

Pada 21 Januari 2020, ketika para pejabat tinggi China memperingatkan kasus-kasus virus yang tersembunyi itu “akan terpatri pada pilar rasa malu untuk selamanya”,  Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Italia menjadi tuan rumah delegasi China untuk konser di National Academy of Santa Cecilia untuk meresmikan tahun Kebudayaan dan Pariwisata Italia-China.

Michele Geraci, mantan asisten di Kementerian Pembangunan Ekonomi Italia dan pendorong hubungan yang lebih erat dengan China, minum-minum dengan para politisi lain tetapi melihat sekeliling dengan gelisah.

“Apakah kita yakin ingin melakukan ini?” tanya Geraci, “Haruskah kita ke sini hari ini?”

Dengan belajar dari pengalaman, para pejabat Italia mengatakan tentu saja tidak. Zampa, asisten di Kementerian Kesehatan Italia, mengaku akan segera menutup semuanya jika saja dia berwenang. Namun, faktanya, situasi itu tidak cukup jelas.

Para politisi di seluruh spektrum politik Italia khawatir tentang ekonomi dan kesejahteraan negara. Mereka merasa sulit untuk mengakui ketidakmampuan mereka dalam menghadapi pandemi virus.

Italia yang paling penting memandang China, menurut Zampa, bukan sebagai peringatan praktis, tetapi sebagai “film fiksi ilmiah yang tidak ada hubungannya dengan kita.

”Ketika wabah virus akhirnya meledak, menurut Zampa, “Eropa memandang kami seperti kami dulu memandang China.”

Namun, sejak Januari 2020, beberapa pejabat Italia di sayap kanan mendesak PM Conte, mantan sekutu mereka dan sekarang musuh politik, untuk mengarantina anak-anak sekolah di wilayah utara Italia yang baru saja kembali dari liburan di China, langkah yang menurut mereka bertujuan melindungi sekolah. Banyak dari anak-anak itu berasal dari keluarga imigran China.

Banyak kaum liberal mengkritik proposal tersebut sebagai langkah menyebarkan rasa takut ala kaum populis. Conte menolak proposal itu dan menjawab para gubernur di bagian utara Italia harus mempercayai penilaian otoritas pendidikan dan kesehatan yang menurutnya tidak mengusulkan hal semacam itu.

Conte juga menunjukkan ia menganggap serius ancaman penularan. Pada 30 Januari, ia memblokir semua penerbangan masuk dan keluar dari China.

“Kami adalah negara pertama di Eropa yang mengadopsi tindakan pencegahan seperti itu,” tegas Conte.

Selama bulan berikutnya, Italia dengan cepat merespons ketakutan akibat wabah virus corona baru. Dua turis China yang sakit dan seorang Italia yang kembali dari China menerima perawatan dari rumah sakit penyakit menular yang terkenal di Roma. Ketakutan palsu menyebabkan pihak berwenang membatasi penumpang di kapal pesiar yang berlabuh di luar Roma.

Pasien Satu Italia

Lapangan Piazza delle Erbe yang biasanya menjadi pusat keramaian kota tampak sepi pengunjung ketika Italia berjuang membendung persebaran virus corona, di Verona, Italia, Sabtu, 7 Maret 2020.
Foto: Reuters/Alberto Lingria

Seorang pria berusia 38 tahun pergi ke ruang gawat darurat di rumah sakit di Codogno, kota kecil di Provinsi Lodi di Lombardy pada 18 Februari 2020. Pria itu menunjukkan gejala flu parah tetapi saat itu tidak memicu kekhawatiran akan merebaknya pandemi COVID-19.

Pasien itu menolak dirawat di rumah sakit dan justru pulang. Pria itu kemudian sakit lebih parah, kembali ke rumah sakit beberapa jam kemudian, dan dirawat di bangsal kedokteran umum. Pada 20 Februari 2020, ia dibawa ke ruang perawatan intensif, tempat ia dinyatakan positif terinfeksi virus corona baru.

Pria itu, yang kemudian dikenal sebagai Pasien Satu, telah melalui sebulan yang sibuk. Dia menghadiri setidaknya tiga makan malam, bermain sepak bola dan berlari bersama tim, semuanya dilakukan ketika ia berpotensi menularkan virus dan tanpa menunjukkan gejala berat.

Ricciardi mengatakan Italia cukup sial karena memiliki super spreader di daerah padat penduduk dan dinamis yang pergi ke rumah sakit tidak hanya sekali, tetapi dua kali. Pasien Satu itu kemudian menginfeksi ratusan orang, termasuk para dokter dan perawat.

“Dia telah menularkan virus dengan sangat aktif,” tutur Ricciardi. Namun, pria itu juga tidak memiliki kontak langsung dengan China. Para ahli menduga dia tertular virus dari negara Eropa lain. artinya, Italia tidak memiliki Pasien Nol yang dapat diidentifikasi atau sumber penularan yang dapat dilacak yang dapat membantu membendung virus.

Virus corona baru konon sudah aktif di Italia selama berminggu-minggu saat itu, menurut para ahli saat ini. Virus telah saling ditularkan oleh orang-orang yang tidak menunjukkan gejala dan seringkali disalahartikan sebagai flu biasa.

Virus corona baru menyebar di sekitar Lombardy, wilayah Italia yang sejauh ini paling banyak berdagang dengan China dan merupakan lokasi Milan, kota yang paling ramai secara budaya dan menjadi pusat bisnis.

“Pria yang kita sebut ‘Pasien Satu’ mungkin sebenarnya ialah ‘Pasien 200’,” tegas ahli epidemiologi Fabrizio Pregliasco.

Pada Minggu, 23 Februari 2020, jumlah infeksi mencapai lebih dari 130 kasus dan Italia telah menutup 11 kota dengan mendirikan pos pemeriksaan polisi dan militer. Hari-hari terakhir Karnaval Venesia dibatalkan. Wilayah Lombardy segera menutup sekolah, museum, dan bioskop.

Orang-orang Milan bergegas memborong barang-barang kebutuhan hidup di supermarket. Namun, sementara PM Conte sekali lagi memuji Italia karena tindakan pembatasan yang kuat, ia juga meremehkan penularan tersebut. Conte mengaitkan tingginya jumlah orang yang terinfeksi dengan pengujian corona yang dianggapnya berlebihan dan terlalu bersemangat di Lombardy.

“Kita telah menjadi negara pertama dengan kontrol yang paling ketat dan akurat,” katanya dalam pidato di hadapan negara. “Kita memiliki lebih banyak orang yang terinfeksi karena kita melakukan lebih banyak tes seka (swab).”

Keesokan harinya ketika infeksi melebihi 200 kasus, tujuh orang meninggal dan pasar saham anjlok, PM Conte dan para pembantunya di bidang kesehatannya melipatgandakannya upaya pembatasan.

Conte menyalahkan rumah sakit Codogno atas penyebaran itu. ia mengaku pihaknya telah menangani berbagai hal dengan “cara yang tidak sepenuhnya tepat” dan berpendapat wilayah utara lainnya di Lombardy dan Veneto telah memperparah krisis dengan menyimpang dari pedoman global dan menguji orang-orang yang tidak menunjukkan gejala.

Ketika para pejabat Lombardy berjuang untuk mengosongkan tempat tidur rumah sakit dan jumlah orang yang terinfeksi naik menjadi 309 kasus dengan 11 orang meninggal, PM Conte mengatakan pada 25 Februari, “Italia adalah negara yang aman dan mungkin lebih aman daripada banyak negara lain.”

Pada Jumat (20/3/2020), kantor Conte menawarkan wawancara dengan syarat ia dapat menjawab pertanyaan secara tertulis. Ketika dikirimi pertanyaan, termasuk pertanyaan tentang sejumlah pernyataannya yang kontradiktif di masa lalu, PM Conte menolak untuk menjawab.

Pesan Berlawanan Yang Menebarkan Kebingungan

Pasukan militer berjaga di Lapangan Duomo setelah pemerintah Italia memberlakukan penutupan wilayah di bagian utara negara itu demi membendung persebaran virus corona, di Milan, Italia, Minggu, 8 Maret 2020.
Foto: Reuters/Flavio Lo Scalzo

Jaminan dari para pemimpin telah membingungkan penduduk Italia. Pada 27 Februari 2020, Zingaretti menggungah gambar dirinya bersulang.

Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Italia Luigi Di Maio, mantan pemimpin salah satu partai penguasa Gerakan Bintang Lima, mengadakan konferensi pers di Roma.

“Di Italia, kita beralih dari risiko epidemi menjadi infodemik,” tegas Di Maio. Ia meremehkan liputan media yang menyoroti ancaman penularan dan menambahkan hanya “0,089 persen” dari populasi Italia yang dikarantina.

Di Milan, hanya beberapa mil dari pusat wabah, wali kota Beppe Sala mempublikasikan kampanye “Milan Tidak Berhenti”. Duomo, katedral penting di kota yang menjadi daya tarik wisatawan, telah kembali dibuka. Orang-orang pun keluar dari rumah-rumah dan kembali memadatai jalanan.

Namun, di lantai enam markas pemerintah daerah di Milan, Giacomo Grasselli, koordinator unit perawatan intensif di seluruh Lombardy, melihat jumlah kasus meningkat.

Ia dengan cepat menyadari, tidak mungkin untuk mengobati semua orang sakit jika infeksi virus corona baru terus menyebar secara tak terkendali.

Gugus tugasnya bekerja untuk mencocokkan orang sakit dengan tempat tidur di unit perawatan intensif di rumah sakit terdekat yang mungkin menampung pasien dan sumber daya manakah yang tengah kekurangan.

Dalam salah satu pertemuan harian antara sekitar 20 pejabat kesehatan dan politik, dia memberi tahu presiden daerah Attilio Fontana tentang meningkatnya jumlah kasus. Seorang ahli epidemiologi menunjukkan kurva infeksi. Menurutnya, ada bencana yang membayangi sistem kesehatan wilayah itu.

“Kita perlu melakukan lebih banyak upaya,” tutur Grasselli kepada seisi ruangan.

Fontana setuju. Ia telah menekan pemerintah pusat Italia agar melakukan tindakan yang lebih keras. Dia mengatakan pesan yang saling berlawanan dari pemerintah pusat di Roma dan pelonggaran pembatasan telah membuat orang Italia percaya “wabah ini adalah lelucon dan mereka dapat terus melanjutkan pola hidup seperti biasanya.”

Fontana mengimbau langkah-langkah nasional yang lebih keras dalam konferensi video dengan perdana menteri dan para presiden regional lainnya. Ia beralasan jumlah kasus yang meningkat mengancam untuk menghancurkan sistem perawatan kesehatan di wilayah utara, tetapi permintaannya berulang kali ditolak.

“Mereka yakin situasinya tidak begitu serius. Mereka tidak ingin terlalu menyakiti perekonomian kita,” keluh Fontana.

Pemerintah Italia mulai memberikan beberapa bantuan ekonomi, yang kelak akan diikuti oleh paket bantuan senilai 25 miliar euro atau US$28 miliar. Namun, negara itu terpecah-belah antara pihak yang mengakui ancaman wabah dan kelompok lain yang membantahnya.

Zampa mengatakan sekitar waktu itu pemerintah mengetahui infeksi di Kota Vò, pusat virus di wilayah Veneto, tidak memiliki hubungan epidemiologis dengan wabah di Codogno.

Menurut Zampa, Menteri Kesehatan Italia Roberto Speranza dan PM Conte berunding tentang apa yang harus dilakukan. Dalam sehari, mereka memutuskan untuk menutup sebagian besar wilayah utara.

PM Conte berbicara dalam konferensi pers pukul 2 pagi yang mengejutkan pada Minggu, 8 Maret 2020, ketika 7.375 orang telah dinyatakan positif mengidap virus corona baru dan 366 pasien telah meninggal. Saat itu ia mengumumkan langkah luar biasa untuk membatasi pergerakan bagi sekitar seperempat populasi Italia di wilayah utara yang berfungsi sebagai mesin ekonomi negara itu.

“Kita menghadapi keadaan darurat,” tegas PM Conte pada saat itu. “Darurat nasional.”

Rancangan keputusan tersebut bocor ke media Italia pada Sabtu malam dan mendorong banyak warga Milan untuk bergegas ke stasiun kereta dalam jumlah besar dan berusaha untuk meninggalkan wilayah itu.

Hal itu menyebabkan apa yang kemudian dianggap sebagai gelombang penularan berbahaya ke wilayah selatan Italia. Namun, keesokan harinya, sebagian besar orang Italia masih bingung tentang kerasnya pembatasan.

Untuk mengklarifikasi masalah ini, Kementerian Dalam Negeri mengeluarkan formulir “sertifikasi otomatis” yang akan memungkinkan orang untuk keluar masuk area terkunci untuk urusan pekerjaan, kesehatan, atau keperluan lainnya.

Sementara itu, beberapa gubernur daerah secara mandiri memerintahkan orang-orang yang datang dari daerah yang baru saja mengalami penguncian wilayah untuk melakukan karantina mandiri.

Meski demikian, sejumlah gubernur lainnya menolak melakukan tindakan pencegahan serupa. Pembatasan yang lebih luas di Lombardy juga secara efektif mencabut karantina pada Codogno dan kota-kota “zona merah” lainnya yang terkait dengan wabah asli. Pos-pos pemeriksaan menghilang. Para wali kota setempat mengeluh pengorbanan mereka telah sia-sia.

Sehari kemudian, pada 9 Maret 2020, ketika kasus-kasus positif corona mencapai 9.172 dan jumlah kematian meningkat menjadi 463, PM Conte memperketat pembatasan dan memperluas penguncian wilayah secara nasional. Namun, pada saat itu, beberapa ahli mengatakan tindakan pencegahan pemerintah Italia sudah terlambat untuk situasi pandemi.

Eksperimen Lokal

Seorang pria mengenakan masker saat melewati bangunan bersejarah Colosseum di Roma, Italia, Sabtu, 7 Maret 2020.
Foto: Getty Images/AFP

Italia masih membayar harga mahal atas pesan-pesan yang saling berlawanan sejak awal oleh para ilmuwan dan politisi. Orang-orang yang meninggal dalam jumlah yang mengejutkan baru-baru ini, lebih dari 2.300 dalam empat hari terakhir, sebagian besar terinfeksi selama masa kebingungan satu atau dua minggu lalu.

Roberto Burioni, ahli virologi terkemuka di Universitas San Raffaele di Milan, mengatakan orang-orang Italia merasa aman untuk menjalani rutinitas biasa.

Dia mengaitkan lonjakan kasus pekan lalu dengan perilaku ceroboh itu. Pemerintah Italia telah mendesak persatuan di tingkat nasional dalam mematuhi langkah-langkah pembatasan pergerakan.

Namun, pada Sabtu (21/3/2020), ratusan wali kota dari daerah yang paling parah mengatakan kepada pemerintah, langkah-langkah itu sangat tidak memadai.

Para pemimpin di wilayah utara Italia sangat ingin pemerintah melakukan penindakan dengan lebih keras. Pada Jumat (20/3/2020), Fontana mengeluh 114 pasukan yang dikerahkan pemerintah tidak signifikan dan setidaknya 1.000 pasukan harus dikirim. Pada Sabtu (21/3/2020), ia menutup kantor publik, tempat kerja, dan melarang jogging.

Dia mengatakan dalam sebuah wawancara, pemerintah Italia perlu berhenti mengacaukan penanganan wabah dan “menerapkan tindakan secara ketat”.

“Gagasan saya, jika kita telah menutup semuanya pada awalnya selama dua minggu, mungkin sekarang kita akan merayakan kemenangan,” keluh Fontana.

Sekutu politiknya, Luca Zaia, presiden wilayah Veneto, mendahului pemerintah nasional dengan tindakan kerasnya sendiri. Zaia mengatakan, pemerintah pusat Italia perlu menegakkan “isolasi yang lebih drastis”, termasuk menutup semua toko dan melarang kegiatan publik selain bepergian menuju tempat bekerja.

“Berjalan-jalan seharusnya dilarang,” tegas Zaia.

Zaia memiliki kredibilitas pada masalah ini. Ketika infeksi baru merebak di seluruh negeri, jumlah kasus baru secara signifikan turun di Vò, kota berpenduduk sekitar 3.000 orang, salah satu yang pertama dikarantina dan memiliki kematian pertama karena virus corona baru di Italia. Beberapa ahli pemerintah mengaitkan penurunan itu dengan karantina ketat yang telah berlaku selama dua minggu.

Namun, Zaia juga telah meminta tes menyeluruh (blanket test) di sana, bertentangan dengan pedoman ilmiah internasional dan pemerintah nasional. Pemerintah Italia berpendapat, pengujian orang tanpa gejala akan menguras sumber daya.

“Setidaknya hal ini telah memperlambat laju virus,” tutur Zaia. Ia beralasan, pengujian corona membantu mengidentifikasi orang yang berpotensi menular tanpa gejala.

“Memperlambat laju penyebaran virus memungkinkan rumah sakit untuk berfungsi tanpa tekanan.”

Jika tidak, jumlah pasien yang sangat banyak akan membuat sistem perawatan kesehatan kewalahan dan menyebabkan bencana nasional. Amerika Serikat dan negara-negara lainnya, menurut Zaia, harus siap menghadapi bencana yang sama buruknya dengan yang dialami Italia.

Sumber: matamatapolitik.com

Editor: tom.

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!