HETANEWS

Setengah Juta Warga Indonesia Kontak Langsung dengan Pasien Corona

Lebih dari setengah juta warga Indonesia kemungkinan besar sudah melakukan kontak langsung dengan penderita corona. Foto: EPA EFE

Hetanews.com - Jika pemerintah tak bertindak agresif mengatasi corona di Indonesia, maka jumlah penderita akan mencapai 8.000 jiwa pada April mendatang. Sekarang saja, jumlah orang yang diprediksi kontak langsung dengan pasien positif mencapai setengah juta jiwa. 

Pemerintah Indonesia memperkirakan, jumlah orang yang memiliki kemungkinan kontak dengan pasien COVID-19 mencapai lebih dari setengah juta.

Pihak berwenang menerangkan kepada The Straits Times pada Jumat (20/3/2020), saat pemerintah memulai pengujian cepat untuk virus pada penduduknya, kelompok “berisiko tinggi” antara 600.000 dan 700.000 orang yang tersebar di seluruh negeri, Jakarta Selatan menjadi daerah yang paling terpukul virus itu.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo dalam pernyataan yang disiarkan langsung di televisi nasional mengatakan, Indonesia memulai pengujian cepat untuk virus tersebut pada Jumat sore,.

“Kami melakukannya di daerah berdasarkan pelacakan kontak kami dari (coronavirus) pasien. Kami akan pergi dari rumah ke rumah untuk menguji orang,” kata Joko.

“Hasil pemetaan kami menunjukkan daerah yang paling parah terkena dampak adalah Jakarta Selatan,” imbuhnya kepada media yang sama.

Dia sendiri enggan mengungkapkan lokasi lain dalam pemetaan tersebut. Indonesia, negara terpadat keempat di dunia, dengan jumlah penduduk 270 juta, sedang melakukan uji coba terhadap warganya yang mungkin membawa infeksi virus corona.

Langkah itu diambil usai pemerintah menghadapi kritik masif lantaran dinilai lambat dalam mendeteksi infeksi. Sebagai informasi, Indonesia baru mengumumkan dua kasus pertama virus corona pada 2 Maret 2020.

Ada beberapa kasus di mana pasien Indonesia hanya diidentifikasi mengidap pneumonia. Umumnya, mereka berhasil terdeteksi memiliki virus corona setelah mereka meninggal, atau hanya sehari sebelum kematian mereka.

Achmad Yurianto, juru bicara resmi pemerintah untuk manajemen COVID-19, menerangkan kepada media pada Jumat, negara itu memiliki 60 kasus baru, sehingga total infeksi menjadi 369 pada hari itu.Total kematian meningkat 7 hingga 32, sehingga Indonesia menjadi negara dengan penghitungan kematian tertinggi di Asia Tenggara.

Sementara itu, kepala Palang Merah Indonesia menjelaskan kepada Reuters, Indonesia kemungkinan memiliki jumlah kasus virus corona yang jauh lebih tinggi daripada yang dilaporkan, karena tingkat pengujian yang rendah dan perlu mempertimbangkan tindakan yang lebih keras seperti penguncian alias lockdown.

Negara terpadat keempat di dunia itu berubah dari nol kasus menjadi 309 dalam waktu kurang dari tiga minggu dan jumlah kematian telah mencapai 25, lebih tinggi dari negara Asia Tenggara lainnya.

“Jika tesnya rendah, maka kasusnya rendah,” kata Jusuf Kalla, mantan wakil presiden dua periode Indonesia dan ketua Palang Merah negara itu.

Ia menambahkan, jumlah sebenarnya kasus harus diungkapkan setelah Indonesia mendapat lebih banyak hasil pengujian dari laboratorium untuk meningkatkan pengujian.

Jika pemerintah tetap tak bertindak agresif dalam penanganan corona, maka jumlah penduduk yang terjangkit virus menjadi lebih besar. Bahkan, BBC Indonesia mencatat, jumlah kasus COVID-19 di Indonesia diprediksi akan melampaui angka 8.000 hingga pertengahan April 2020.

Sementara, fasilitas kesehatan dan jumlah tenaga medis diperkirakan tidak cukup, meski pemerintah mengaku sudah menyiapkan segala yang diperlukan. Angka prediksi tersebut didapat jika Indonesia menerapkan sistem pencegahan yang baik seperti Korea Selatan, yang melakukan deteksi dini dan menerapkan pembatasan sosial.

“Bisa lebih buruk dari prediksi 8.000 kasus jika pencegahan tidak bisa ditekan. Ini belum sampai satu minggu dari hasil riset dikeluarkan (15 Maret 2020), angka kasus sudah dua kali lipat. Ini memengaruhi kenaikan yang lain,” ungkap Kepala Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Nuning Nuraini kepada media itu.

Sumber: matamatapolitik.com

Editor: tom.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.