HETANEWS

Bagaimana Hitler Raih Kekuasaan dari Balik Jeruji Besi

Adolf Hitler (kanan) dan Benito Mussolini di Munich, Jerman. Foto: Wikimedia/Koleksi Eva Braun

Hetanews.com - Di balik jeruji penjara, Adolf Hitler menulis manifestonya dan memupuk kultus kepribadiannya. Pada 1 April 1924, Adolf Hitler, pelukis dan mantan tentara dari Austria, yang saat itu berusia 34 tahun, tiba di penjara Landsberg di Bavaria.

Ia dihukum lima tahun penjara karena mengorganisasi kudeta yang gagal, yang menewaskan 18 orang, termasuk empat orang polisi.

Hitler masuk ke penjara Landsberg sebagai seseorang yang tidak percaya diri, dan merupakan pemimpin gerakan anti-semit yang kecil, miskin, dan amatir: Partai Buruh Sosialis Nasional Jerman.

Sembilan bulan kemudian, dia keluar dari penjara sebagai sosok yang lebih percaya diri, dan terus mendapatkan ketenaran dan kekuasaan.

Yang lebih penting dari itu, Hitler meninggalkan penjara sebagai penulis Mein Kampf, memoar dua volume dan pidato politik yang, menurut penulis biografi Volker Ullrich, “menghubungkan biografi (Hitler) dan program politiknya.”

Mein Kampf (yang diterbitkan antara Juli dan Desember 1925) adalah awal dari penciptaan sekte kepribadian di seputar penulis dan subjeknya. Hitler adalah Partai Nazi, dan Landsberg adalah laboratorium yang menciptakan dia dan Nazisme.

Diktator Jerman Adolf Hitler bersama kekasihnya Eva Braun, yang dinikahinya pada tanggal 29 April 1945, sehari sebelum mereka bunuh diri.
Foto: Getty Images/Hulton Archive

Ada banyak buku yang mengisahkan Hitler. Namun, biografi baru Ullrich, Hitler: Ascent, 1889–1939, menonjol karena penelitiannya yang menyeluruh.

“Industri hiburan global telah lama menjadikan dan mengubah Hitler menjadi ikon horor budaya pop yang sensasional,” tulis Ullrich, dikutip dari The National Interest.

Sama-sama meresahkan, studi tentang Hitler cenderung condong ke salah satu dari dua ekstrem: strukturalisme dan intensionalisme, yaitu, apakah kekuatan politik dan budaya yang lebih besar menjadikan Hitler pemimpin? Atau apakah Hitler menciptakan dirinya sendiri?

Misi Ullrich, tulisnya, adalah “menyatukan semuanya dan mensintesiskannya”.

Keseimbangan ini terbukti saat Ullrich mengeksplorasi saat Hitler berada di balik jeruji Landsberg.

“Pemenjaraannya mendorong kepercayaan Hitler pada dirinya sendiri dan misi bersejarahnya.”

Otoritas Bavaria memenjarakan Hitler bersama dengan komplotan kudetanya, termasuk Rudolf Hess, yang nantinya menjadi wakil Hitler.

“Rekan sesama napi Hitler, terutama Hess, melakukan segala yang mereka bisa untuk memperkuat keyakinannya.”

Orang Austria dan rekan senegaranya yang dipenjara bertemu setiap hari untuk makan siang.

“Rekan-rekan tahanan Hitler menunggu, berdiri diam di belakang kursi mereka, sebelum ada teriakan, ‘Perhatian!’ Fuehrer itu kemudian berjalan, ditemani oleh orang-orang dari lingkaran dalamnya, melalui barisan pengikut yang setia dan duduk di ujung meja.”

Hitler kemudian memberikan pidato singkat. “Sieg heil!” teriak pengikutnya. Landsberg sangat nyaman bagi Hitler, bahkan lebih nyaman daripada kebanyakan apartemen kumuh dan asrama yang dihuni Hitler muda selama sebagian besar masa dewasanya.

Selama penangkapan Hitler ke persidangan dan hukumannya, pemerintah Bavaria telah menunjukkan mereka juga takut akan pengaruh Hitler yang meningkat dan bersimpati pada filosofi fanatisme rasialnya.

“Saya kenal Anda,” salah seorang penjaga penjara Hitler memberitahunya. “Saya juga Sosialis Nasional.”

“Hitler menikmati beragam keistimewaan,” menurut Ullrich. “Ruangan selnya besar, lapang, nyaman, dengan pemandangan yang luas. Selain makanan lezat yang dimasak oleh dapur penjara, Hitler terus menerima paket makanan.”

“Kegagalan kudeta Hitler dan hukuman penjaranya, menunjukkan kepada rakyat Jerman bahwa Hitler adalah pria yang tidak hanya berani bicara, tetapi juga berani bertindak dalam situasi kritis, dan yang bersedia mengambil risiko pribadi yang besar.”

Dan bagi Hitler, berada di penjara meringankan tekanan hidup sehari-harinya, memberinya banyak waktu untuk mengunjungi para pendukung, dan memberinya waktu luang dan fokus untuk menulis Mein Kampf.

Dengan demikian, Hitler bisa santai, makan, mengasah kepemimpinan dan keterampilan pidato, mengerjakan bukunya, dan mengendalikan diri.

Berbeda sekali dengan dia sebelumnya, yang pandai menghasut, dan yang akhirnya membuatnya mendarat di Landsberg. Di penjara, Hitler adalah malaikat yang sempurna.

“Hitler dengan cermat menghindari konflik dengan otoritas penjara.”

Berperilaku baik bukan hanya cara Hitler mempertahankan hak-hak istimewanya di penjara. Bermain aman juga mewakili perubahan filosofis kunci untuk Hitler. Sebelumnya, ia bercita-cita menjadi orang kuat yang bisa menggulingkan negara.

Setelah dipenjara, Hitler ingin mendapatkan kendali atas negara melalui mekanisme negara itu sendiri.

“Ketika dipenjara di Landsberg, Hitler ‘menjadi yakin kekerasan tidak akan berhasil karena negara terlalu mapan dan memiliki persenjataan lengkap,” tulis Ullrich.

Hitler hidup dengan keyakinan itu. Setelah dibebaskan lebih awal dari penjara pada Desember 1924, Hitler mengatur kembali partai Sosialis Nasionalnya, mempromosikan bukunya dan memupuk audiensi massa yang (di tengah tekanan ekonomi dan ketegangan politik global) menjadi semakin simpatik terhadap retorika anti-semit.

Pada 1932, Hitler mencalonkan diri sebagai presiden dan kalah. Namun, dengan kepemimpinan Hitler, Partai Nazi memenangkan blok kursi terbesar di parlemen. Presiden Paul von Hindenburg dengan enggan menunjuk Hitler sebagai kanselir.

Setahun kemudian, legislator Nazi mengesahkan undang-undang yang membukakan jalan bagi Hitler untuk akhirnya mendapatkan kekuatan diktator. Hitler kemudian segera memimpin negaranya ke dalam perang genosidal. Hukuman penjara yang akomodatif telah mempersiapkannya untuk itu.

Sumber: matamatapolitik.com

Editor: tom.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.