HETANEWS

Islamofobia dan Sejarah Penindasan Muslim di Dunia

Dua anak laki-laki menunjukkan poster-poster selama protes terhadap Islamofobia di Brussels, Minggu, 26 Oktober 2014. Foto: AP/Yves Logghe

Hetanews.com - Kendati saban negara punya sejarahnya masing-masing, tapi kebencian terhadap Islam bisa ditarik benang merah yang sama. Sejarah Islam adalah sejarah pertumpahan darah. Setiap suksesi dalam pemerintahan sejak era Kasultanan Andalusia di abad ke-7, selalu diwarnai dengan perang dan pembunuhan.

Islam menurut catatan Edward E. Curtis IV di Rewire News juga dibenci saat itu, karena tentara mereka kerap menyerang kelompok Kristen Eropa hingga di abad pertengahan. Namun, ada secuil sejarah yang luput dibicarakan, bahwa Muslim juga pernah berjuang bersama militer Nasrani untuk membabat habis musuh.

Curtis mencontohkan, saat periode Taifa dari sejarah Spanyol abad ke-11 hingga ke-13 ketika ada beberapa kerajaan kecil yang bersaing untuk memperebutkan kontrol politik Semenanjung Iberia orang-orang Kristen dan Islam mesra melawan musuh bersama. Masalahnya, bab sejarah tersebut sengaja dilupakan atas nama narasi imperial tentang supremasi Barat.

Ada ambisi dari masyarakat kulit putih untuk “menghapus sejarah” lantaran mendambakan kehidupan yang homogen, di mana mereka menjadi satu-satunya anasir yang penting. Sayangnya, penghapusan sejarah itu dirawat sedemikian rupa hingga sekarang, mewujud dalam kebencian bernama Islamofobia.

Itu mungkin jadi jawaban yang masuk akal untuk menjelaskan mengapa masyarakat Muslim Hui dan Uighur ditindas oleh pemerintah China. Mengapa perempuan Rohingya di Myanmar diperkosa, rumah mereka dibakar habis, dan para suami dibunuh.

Pun, mengapa para pemimpin di Eropa termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron keras hati ingin menyingkirkan imigran Muslim di negaranya. Kendati saban negara punya sejarahnya masing-masing, tapi kebencian terhadap Islam bisa ditarik benang merah yang sama.

Muslim dimusuhi setidaknya karena beberapa hal, yakni faktor politik di mana otoritas non-Muslim ingin sejarah Muslim dilenyapkan; karakteristik Muslim dipandang berbeda dan cenderung kaku; serta terorisme yang diusung Muslim puritan global sekaligus bergesernya corak politik makin ke kanan.

Di China misalnya, ketidaksukaan terhadap Islam sudah dicicil sejak era kedinastian. Sejak era dinasti Yuan (1271–1368) di mana muslim banyak menduduki jabatan penting pemerintahan, mereka kerap dijadikan sebagai bahan olok-olok berbau rasisme. 

Historia mengutip Jilid 28 Catatan Sehabis Bertani (Chuo Geng Lu) karangan Yuan Tao Zongyi, orang China sering mencemooh Muslim yang didominasi keturunan Arab, Persia, dan Asia Tengah dengan sebutan si “belalai gajah” (xiang bi) dan si “mata kucing” (mao jing).

Muslim juga dihina karena punya tradisi berbeda dan kaku yang menolak makan babi, seperti orang China kebanyakan. Di masa dinasti Qing (1636–1912), minoritas Muslim lebih dibenci lagi, dan dianggap sebagai kelompok marjinal, bengis, barbar, brutal, dan kaku.

Khusus untuk Muslim Uighur, kebencian terhadap Muslim di sana selain disebabkan faktor ekonomi–mengingat Xinjiang menyimpan cadangan minyak dan mineral cukup besar–juga karena ada gerakan separatis seperti East Turkestan Islamic Movement (ETIM) yang sudah eksis sejak 1990-an.

Beijing mengategorikan ETIM sebagai kawanan teroris yang berafiliasi dengan Al-Qaeda, sehingga laik diperangi. Anggapan senada soal Muslim juga terjadi di Eropa yang arah politiknya memang lebih condong ke kanan.

Majalah Sayap Kanan Polandia, wSieci atau The Network menyebut, imigran Muslim menciptakan neraka dan merupakan invasi dari kebudayaan, tata nilai, dan norma masyarakat Eropa.

Islam dalam hemat mereka disebut-sebut tak bisa menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tata nilai, dan kebudayaan Eropa. Beberapa media dan kelompok sayap kanan menyebut jika imigran Muslim mau ke Eropa, mereka yang mesti menyesuaikan diri dengan Eropa dan bukan sebaliknya.

Berdasarkan European Islamophobia Report (EIR), kebencian dan Islamofobia menyebutkan, usai insiden Charlie Hebdo, sentimen anti muslim di Prancis naik 500 persen.

Di Jerman, kelompok Pegida alias Patriotic Europeans Against the Islamisation of the West menduga ada upaya sistematis, terukur, dan masif untuk mengislamkan Eropa, dan berusaha mengganti nilai nilai luhur kebudayaan Eropa dengan Islam.

Mereka juga menyebut Muslim adalah biang kerok atas naiknya berbagai kekerasan dan kriminalitas termasuk perkosaan, pelecehan seksual.

Di India, politik yang juga bergeser ke kanan, ditambah dengan sejarah permusuhan panjang Muslim versus Hindu, membuat minoritas ini disia-siakan. Bahkan, rezim Modi sudah melegitimasi diskriminasi atas kelompok Muslim lewat UU Kewarganegaraan dan dukungan penuh Amerika Serikat.

Merujuk pada sejumlah kasus penindasan minoritas Muslim tersebut, maka bisa diambil kesimpulan sementara, sepanjang akar masalah tak pernah dilenyapkan, maka kekerasan sistemik pada kelompok Muslim akan terus ada.

Terlebih, melihat tren yang berkembang kini, di mana politik bergeser ke-kanan-kanan-an dan kelompok puritan Muslim masih menganggap jalan kedamaian dicapai lewat terorisme, maka jangankan membayangkan penindasan tak berumur panjang.

Untuk mengubah citra Islam menjadi agama yang lemah lembut sudah pasti jauh panggang dari api. Ini artinya, tugas membumikan Islam dan Muslim sebagai sesuatu yang setara dengan kelompok lain bukan semata-mata menjadi tugas satu pihak, dalam hal ini kelompok Muslim saja.

Harus ada andil dari kelompok non-Muslim untuk mengakui Muslim sebagai entitas yang laik untuk dilindungi dan dihargai atas nama kemanusiaan.

Sumber: matamatapolitik.com

Editor: tom.