HETANEWS

Gejala COVID-19 dan Dampaknya terhadap Tubuh

Virus corona memiliki gejala yang bervariasi tergantung kekebalan tubuh pasien. Foto: Getty Images

Hetanews.com - Berikut ini hal-hal yang telah dipelajari para ilmuwan tentang bagaimana virus corona baru menginfeksi dan menyerang sel tubuh. Bagaimana penyakit COVID-19 dapat memengaruhi organ tubuh selain paru-paru?

Ketika kasus infeksi virus corona baru terus berkembang dan pemerintah negara-negara di dunia mengambil langkah-langkah luar biasa untuk membatasi penyebaran, masih ada banyak kebingungan tentang apa sebenarnya dampak yang ditimbulkan virus terhadap tubuh manusia.

The New York Times melaporkan, gejala COVID-19 berupa demam, batuk, dan sesak napas secara umum dapat menandakan sejumlah penyakit lainnya, mulai dari flu hingga radang. Berikut ini beberapa hal yang telah dipelajari para ahli dan peneliti medis tentang perkembangan infeksi yang disebabkan oleh virus corona baru dan apa saja yang masih belum mereka ketahui.

1. BAGAIMANA VIRUS CORONA SEBABKAN INFEKSI?

Virus corona baru menyebar melalui droplet atau partikel cairan yang ditransmisikan ke udara melalui batuk atau bersin. Akibatnya, orang-orang terdekat dapat tertular oleh penderita melalui hidung, mulut, atau mata mereka.

Partikel-partikel virus dalam tetesan tersebut bergerak dengan cepat ke bagian belakang rongga hidung dan selaput lendir di belakang tenggorokan Anda, menempel pada reseptor tertentu dalam sel, dan mulai menyebar dari sana.

Partikel-partikel virus corona telah meningkatkan protein yang mencuat dari permukaannya. Bagian menyerupai mahkota itu akan mengaitkan diri ke membran sel tubuh manusia dan memungkinkan transfer materi genetik virus memasuki sel manusia.

Materi genetik itu lantas akan “membajak metabolisme sel dan pada dasarnya memerintahkan, ‘Jangan lakukan pekerjaan Anda (sel tubuh manusia) seperti biasa.

Tugas Anda sekarang adalah membantu saya melipat gandakan diri dan membuat virus,” tutur Dr. William Schaffner, spesialis penyakit menular di Vanderbilt University Medical Center di Nashville, Tennessee, Amerika Serikat.

2. BAGAIMANA PROSES ITU SEBABKAN MASALAH PERNAPASAN?

Ketika salinan virus berlipat ganda, mereka akan meledak dan menginfeksi sel-sel tetangga. Gejalanya seringkali mulai di bagian belakang tenggorokan lewat radang tenggorokan dan batuk kering.

Virus kemudian “merayap secara progresif ke saluran bronkus,” ujar Dr. Schaffner.Ketika virus mencapai paru-paru, selaput lender akan mengalami radang.

Hal itu dapat merusak alveoli atau kantung paru-paru sehingga mereka harus bekerja lebih keras untuk menjalankan fungsinya memasok oksigen ke darah yang bersirkulasi di seluruh tubuh manusia dan membersihkan karbon dioksida dari darah sehingga bisa diembuskan melalui napas.

“Jika Anda mengalami pembengkakan di sana, itu membuat oksigen jauh lebih sulit untuk bergerak melalui selaput lendir,” tegas Dr. Amy Compton-Phillips, kepala petugas klinis untuk Providence Health System, termasuk rumah sakit di Everett, Washington, yang melaporkan kasus pertama corona di Amerika Serikat pada Januari 2020.

Pembengkakan dan gangguan aliran oksigen dapat menyebabkan area-area di paru-paru terisi dengan cairan, nanah, dan sel-sel mati. Pneumonia, yakni infeksi di paru-paru, selanjutnya pun dapat terjadi.

Beberapa orang mengalami kesulitan bernapas sehingga harus menggunakan ventilator. Dalam kasus terburuk yang dikenal sebagai Sindrom Gagal Napas Akut (Acute Respiratory Distress Syndrome), paru-paru dipenuhi dengan banyak cairan sehingga tidak ada alat bantu pernapasan yang dapat membantu dan pasien akan meninggal dunia.

3. BAGAIMANA JALUR LINTASAN VIRUS DI PARU-PARU?

Pekerja medis yang mengenakan pakaian pelindung mendatangi seorang pasien di bangsal isolasi Rumah Sakit Palang Merah Wuhan di Kota Wuhan, pusat penyebaran wabah virus corona baru, di Provinsi Hubei, China, 16 Februari 2020.
Foto: Reuters/China Daily

Dr. Shu-Yuan Xiao, profesor patologi di Fakultas Kedokteran Universitas Chicago telah memeriksa laporan patologi tentang pasien corona di China. Dia mengatakan virus muncul mulai di daerah periferi di kedua sisi paru-paru dan dapat memerlukan waktu cukup lama untuk mencapai saluran pernapasan bagian atas, trakea, dan saluran udara sentral lainnya.

Dr. Xiao, yang juga menjabat sebagai direktur Center For Pathology and Molecular Diagnostics di Universitas Wuhan, menyebutkan pola itu membantu menjelaskan mengapa di Kota Wuhan di mana wabah dimulai, banyak kasus paling awal tidak segera diidentifikasi.

Tahap uji awal di banyak rumah sakit China tidak selalu mendeteksi infeksi di periferi paru-paru, sehingga beberapa orang yang menunjukkan gejala akhirnya dikirim pulang tanpa menjalani perawatan.

“Mereka akan pergi ke rumah sakit lain untuk mencari perawatan atau tinggal di rumah dan menginfeksi keluarga mereka,” kata Xiao.

“Itulah salah satu alasan penyebaran yang begitu luas.”

Dilansir dari The New York Times, studi baru-baru ini dari tim yang dipimpin oleh para peneliti di Icahn School of Medicine at Mount Sinai di Manhattan, New York menemukan lebih dari setengah dari 121 pasien di China memiliki hasil CT Scan normal pada tahap awal penyakit mereka.

Penelitian dan pekerjaan Dr. Xiao menunjukkan, seiring perkembangan penyakit, CT Scan menunjukkan “kekeruhan ground glass” (ground glass opacities), sejenis selubung samar di bagian paru-paru yang terbukti pada banyak jenis infeksi saluran pernapasan virus.

Area buram itu dapat menyebar dan menebal di tempat-tempat lain ketika penyakit memburuk, menciptakan apa yang disebut oleh para ahli radiologi sebagai pola “paving gila” pada pemindaian.

4. APAKAH PARU-PARU SATU-SATUNYA BAGIAN TUBUH YANG TERDAMPAK?

Belum tentu. Dr. Compton-Phillips menegaskan, infeksi dapat menyebar melalui selaput lendir, mulai dari hidung hingga rektum. Jadi, sementara virus nampak memburuk di paru-paru, virus mungkin juga dapat menginfeksi sel-sel dalam sistem pencernaan, menurut para ahli.

Oleh karena itu, beberapa pasien memiliki gejala seperti diare atau gangguan pencernaan. Virus corona baru juga bisa masuk ke aliran darah, menurut Dr. Schaffner.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat mengatakan, RNA dari virus corona baru telah terdeteksi dalam spesimen darah dan tinja, tetapi tidak jelas apakah virus infeksi dapat bertahan dalam darah atau tinja.

Sumsum tulang dan organ-organ tubuh seperti hati dapat meradang juga, menurut Dr. George Diaz, kepala bagian untuk penyakit menular di Providence Regional Medical Center di Everett, Washington.

Timnya telah merawat pasien pertama virus corona di AS. Mungkin juga ada beberapa peradangan pada pembuluh darah kecil, seperti yang terjadi dengan SARS, wabah virus pada 2002 dan 2003.

“Virus ini sebenarnya akan mendarat di organ-organ seperti jantung, ginjal, hati, dan dapat menyebabkan kerusakan langsung pada organ-organ itu,” tutur Dr. Schaffner.

Ketika sistem kekebalan tubuh mulai meningkat untuk melawan infeksi, peradangan yang dihasilkan dapat menyebabkan organ-organ tersebut tidak berfungsi, katanya.

Akibatnya, beberapa pasien dapat mengalami kerusakan organ yang ditimbulkan bukan hanya oleh virus, tetapi oleh sistem kekebalan tubuh mereka sendiri demi memerangi infeksi.

Para ahli belum mendokumentasikan apakah virus dapat mempengaruhi otak. Namun, para ilmuwan yang mempelajari SARS telah melaporkan beberapa bukti virus SARS dapat menyusup ke otak pada beberapa pasien.

Mengingat kesamaan antara penyakit SARS dan COVID-19, infeksi yang disebabkan oleh virus corona baru, makalah yang diterbitkan pada Februari 2020 dalam Journal of Medical Virology berpendapat, kemungkinan virus corona mungkin dapat menginfeksi beberapa sel saraf tidak boleh dikesampingkan.

5. MENGAPA BEBERAPA ORANG SANGAT SAKIT, TAPI KEBANYAKAN TIDAK?

Seorang pekerja yang mengenakan pakaian pelindung mengukur suhu tubuh seorang wanita selama pemeriksaan dari pintu ke pintu untuk memeriksa penduduk setelah merebaknya virus corona baru di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China, 17 Februari 2020.
Foto: Reuters/China Daily

Sekitar 80 persen orang yang terinfeksi virus corona baru memiliki gejala yang relatif ringan. Namun, sekitar 20 persen orang menjadi sakit parah. Pada sekitar 2 persen pasien di China, negara yang memiliki kasus terbanyak, penyakit COVID-19 telah berakibat fatal.

Para ahli mengatakan efeknya tampaknya tergantung pada seberapa kuat atau lemahnya sistem kekebalan seseorang. Orang yang berusia lebih tua atau yang memiliki masalah kesehatan mendasar seperti diabetes atau penyakit kronis lainnya lebih cenderung mengembangkan gejala yang parah.

Dr. Xiao melakukan pemeriksaan patologis terhadap dua orang di China yang pergi ke rumah sakit di Wuhan pada Januari 2020 karena alasan yang berbeda. Mereka membutuhkan pembedahan untuk kanker paru-paru tahap awal, tetapi catatannya kemudian menunjukkan mereka juga menderita infeksi virus corona baru, yang tidak dikenali oleh rumah sakit tersebut pada saat itu.

Kanker paru-paru dari kedua pasien tidak cukup berkembang pesat untuk membunuh mereka, kata Dr. Xiao. Salah satu pasien itu, wanita berusia 84 tahun dengan diabetes, meninggal karena pneumonia yang disebabkan oleh corona, tandas Dr. Xiao.

Pasien lain, pria berusia 73 tahun, agak lebih sehat dengan riwayat hipertensi yang telah dikelola dengan baik selama 20 tahun. Xiao berkata, lelaki itu berhasil menjalani operasi untuk mengangkat tumor paru-paru, dipulangkan, dan sembilan hari kemudian kembali ke rumah sakit karena menderita demam dan batuk yang dianggap sebagai infeksi virus corona baru.

Menurut Dr. Xiao, pria itu hampir pasti telah terinfeksi selama pertama kali tinggal di rumah sakit, karena pasien lain di ruang pemulihan pasca-operasi kemudian ditemukan terjangkit virus corona baru. Seperti banyak kasus lain, pria itu butuh berhari-hari untuk menunjukkan gejala gangguan pernapasan.

Pria itu pulih setelah 20 hari di unit penyakit menular rumah sakit. Para ahli mengatakan, ketika pasien seperti itu pulih, seringkali karena perawatan suportif berupa cairan infus, alat bantu pernapasan, dan perawatan lainnya, akan memungkinkan mereka untuk bertahan lebih lama dari efek terburuk peradangan yang disebabkan oleh virus.

6. APA YANG MASIH BELUM DIKETAHUI TENTANG PASIEN CORONA?

Sangat banyak. Meskipun penyakit COVID-19 menyerupai SARS dalam banyak hal dan memiliki unsur-unsur yang sama dengan influenza dan pneumonia, perjalanan penyakit infeksi pasien corona masih belum sepenuhnya dipahami.

Beberapa pasien dapat tetap stabil selama lebih dari seminggu dan kemudian tiba-tiba terserang pneumonia, menurut Dr. Diaz. Beberapa pasien tampaknya pulih tetapi kemudian kembali mengalami gejala.

Dr. Xiao berkata, beberapa pasien di China sembuh tetapi sakit lagi, tampaknya karena mereka memiliki jaringan paru-paru yang rusak dan rentan, yang kemudian diserang oleh bakteri di dalam tubuh mereka.

Beberapa pasien tersebut akhirnya meninggal karena infeksi bakteri, bukan karena virus. Namun, hal itu tampaknya tidak menyebabkan sebagian besar kematian, tuturnya.

Kasus-kasus lain merupakan misteri yang tragis. Menurut Dr. Xiao, secara pribadi dia mengenal seorang pria dan wanita yang terinfeksi, tetapi tampaknya membaik. Pria itu kemudian memburuk dan dirawat di rumah sakit.

“Pria itu berada di UGD, dipasangi selang oksigen, dan mengirimkan sms kepada istrinya bahwa dia telah membaik, dia memiliki selera makan yang baik dan sebagainya,” tandas Dr. Xiao.

“Namun, kemudian pada sore hari, sang istri berhenti menerima pesan dari suaminya dan tidak tahu apa yang sedang terjadi. Pukul 10 malam, sang istri mendapatkan pemberitahuan dari rumah sakit, suaminya telah meninggal dunia.”

Sumber: matamatapolitik.com

Editor: tom.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.