HETANEWS

Salam Siku: Dipraktikkan Lingkaran Istana, Tak Dianjurkan WHO

Erick Thohir dan Doni Monardo bersalam siku

Jakarta, hetanews.com - Merebaknya virus Corona membuat orang-orang berpikir ulang tentang cara hidup yang aman, termasuk cara memberi salam supaya tidak tertular COVID-19. Para pejabat di lingkungan Istana Kepresidenan memberi contoh salam siku sebagai ganti jabat tangan. Ternyata, WHO tidak menyarankan salam siku yang trendi itu.

Tren salam siku muncul usai sejumlah pejabat tinggi dunia menyoroti potensi penularan virus COVID-19. Jabat tangan tentu mengharuskan telapak tangan dua orang untuk berkontak fisik secara langsung. Jabat tangan dinilai tidak aman di situasi seperti ini, maka salam siku atau elbow bump greeting dinilai lebih aman. Kepala Staf Staf Kepresidenan Moeldoko pun menilai salam siku tersebut bagus.

"Ya saya pikir itu cara bagus karena intinya kita sama-sama tidak tahu kalau memasuki area. Kalau salaman ada risiko, tapi kalau dengan cara-cara begini nggak ada yang tersinggung walaupun agak lucu-lucuan, tapi itu bagus," ujar Moeldoko di di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (12/3) kemarin.

Moeldoko mengaku sudah menerapkan salam siku tersebut. Namun Moeldoko menyebut Jokowi belum melakukan hal serupa.

Salam siku agaknya mulai populer. Menteri Keuangan yang juga Ketua Umum Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Sri Mulyani Indrawati dan Ketua Dewan Pertimbangan IAEI Jusuf Kalla (JK) menemui Wakil Presiden Ma'ruf Amin. Sebelum masuk ke ruangan, JK dan Sri Mulyani sempat melakukan 'salam Corona'.

Setiba di Kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Kamis (12/2) kemarin, JK dan Sri Mulyani tampak bersalaman dengan sikut saling diadu. Salam tersebut juga dinamakan salam Corona, sebagai salah satu upaya menangkal penyebaran virus COVID-19.

Salam Siku: Dipraktikkan Lingkaran Istana, Tak Dianjurkan WHO
Foto: Dok. Akun Twitter @husainabdullah1

Salam siku juga dilakukan Menteri BUMN Erick Thohir dan Kepala BNPB Doni Monardo. Mereka melakukan salam siku setelah meninjau proses penyemprotan cairan disinfektan di Stasiun Gambir. Salam itu dilakukan sebelum keduanya masuk ke mobil masing-masing.

"Ada salaman tanpa menyentuh ujung dari lengan bahkan mungkin juga dengan siku. Ada banyak cara lah tanpa kita mengurangi rasa hormat satu sama lainnya," kata Doni kepada wartawan.

Ternyata, pimpinan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tak menganjurkan salam siku. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyampaikan pendapatnya soal salam siku sejak 7 Maret kemarin. Pendapatnya soal salam siku disampaikan dalam rekomendasi perihal penjagaan diri dari COVID-19.

"Ketika memberi salam ke orang-orang, sebaiknya hindari salam siku karena salam tersebut berada pada jarak 1 meter dengan orang lain. Saya memilih untuk meletakkan tangan saya di hati saya ketika saya memberi salam ke orang lain, belakangan ini," kata Tedros lewat akun Twitter resminya.

Tedros kemudian berbicara soal topik salam siku lagi lewat cuitan 11 Maret. Dia menilai 'hand on a heart' atau salam 'tangan di hati' lebih baik. Dia merespons cuitan akun QuickTake by Bloomberg yang memberitakan saran menghindari salam siku yang dikemukakan Tedros sendiri, "Tidak jabat tangan, tidak ciuman, bahkan tidak salam siku."

Salam Siku: Dipraktikkan Lingkaran Istana, Tak Dianjurkan WHO
Foto: Salvatore Di Nolfi/Keystone via AP

"'Tangan di hati' adalah cara yang baik untuk memberi salam ke rekan-rekan, kolega, dan tetangga Anda... selama COVID-19, tapi yang lebih penting adalah menjaga diri Anda dan yang lainnya agar aman dari virus Corona. Saya menggunakan kesempatan ini untuk meminta setiap orang untuk berbagi pandangan, bagaimana Anda beresalaman pada hari-hari belakangan ini?" cuit Tedros.

sumber: detik.com

Editor: sella.