HETANEWS.COM

Cerita Anas, Hidup Serba Pas-pasan karena Katarak

Anas, penerima operasi katarak gratis dari Sido Muncul.

Jakarta, hetanews.com - Tidak sedikit orang yang menganggap enteng katarak, salah satu penyakit yang bisa menyebabkan kebutaan. Padahal, katarak yang dialami seseorang berpengaruh pada tingkat produktivitasnya. Hal ini dialami Anas.

Diakui Anas, ia tak tahu pasti kapan ia menderita katarak. Namun pria berusia 61 tahun ini bercerita, pada 2006 matanya mulai kabur — seperti ada kabut yang mengelilinginya.

Saat itu Anas tak memusingkannya. Pikirannya hanya satu, mungkin penglihatan kabur akibat terlalu lelah menjahit pakaian. Ya, sehari-hari, Anas bekerja sebagai penjahit rumahan. Bermodal satu mesin jahit, Anas bisa mendapatkan penghasilan Rp 2 juta per bulan.

Namun lambat laun, penglihatan mata kanan Anas makin buruk. Kemampuan penglihatannya menurun tajam. Bola matanya mengalami perubahan. Bermodal kartu kesehatan dari pemerintah, Anas ditemani istrinya datang ke rumah sakit. Dokter pun memvonis katarak pada mata kanan Anas.

Saat itu, Anas menolak untuk operasi. Anas menganggap katarak bisa disembuhkan tanpa harus melakukan operasi.

“Masih bisa lihat, yang penting kan masih bisa ngejahit,” kata Anas saat ditemui kumparan di RS Bhayangkara Sartika Asih, Bandung, Selasa, (10/3).

Sayangnya pengobatan itu tidak membuahkan hasil, penglihatannya semakin buruk hingga ia harus melepas pekerjaan utama sebagai penjahit.

“Saya masih bisa cuma istri saya minta, udah enggak usah jahit lagi daripada bahaya, biar aku aja yang kerja,” ujar Anas menirukan ucapan sang istri sambil menahan air matanya.

Anas mengaku hanya bisa pasrah dan berserah diri. Keterbatasan soal biaya akhirnya membatasi Anas untuk sembuh. Ya bagaimana tidak, hanya operasi jalan satu-satunya untuk membuat Anas terbebas dari katarak.

“Kalau mau operasi katarak butuh dana sekitar Rp 35 juta, karena katarak saya sudah parah,” ungkap Anas.

Sejak tak lagi menjahit, istrinya menggantikan posisi Anas sebagai tulang punggung keluarga. Katarak pun benar-benar mengubah kehidupannya menjadi terbatas dan serba pas-pasan, sebab penghasilan istri yang bekerja sebagai buruh pakaian tidak seberapa.

Bertahun-tahun hidup dengan katarak membuat keinginan Anas untuk sembuh semakin menggebu-gebu. Ia ingin segera menggantikan posisi istrinya sebagai pencari nafkah keluarga. Di saat Anas merasa putus asa, secercah harapan datang pada bulan Februari lalu. Saat itu, Anas mendapat kabar dari tetangganya bahwa ada operasi katarak gratis yang digelar Sido Muncul bersama SDM Polri di RS Bhayangkara Sartika Asih.

Selasa (10/3), menjadi hari penuh suka cita bagi Anas. Setelah melalui tahapan screening, akhirnya mata kanan Anas dioperasi.

Anas mengaku awalnya sempat ragu dan takut karena katarak yang dideritanya sudah bertahun-tahun hingga nyaris buta.

“Pasien yang lain dioperasi cuma 10-15 menit, saya satu jam karena saya paling parah kondisinya. Sempat takut dan putus asa engga bisa sembuh, tapi dokter menyakinkan saya dan istri saya menguatkan saya. Alhamdulilah operasi berjalan lancar, semoga matanya udah gak rabun lagi jadi bisa bantu istri saya lagi,” ungkap Anas.

Pria yang tinggal di Jalan Simpang, Balong Gede, Bandung itu merupakan satu dari 70 pasien lolos tahap screening untuk menjalani operasi katarak gratis RS Bhayangkara Sartika Asih Bandung.

unnamed.jpg
Penerima operasi katarak gratis dari Sido Muncul.

Operasi tersebut merupakan salah satu rangkaian kegiatan rapat kerja teknis (Rakernis) Sumber Daya Manusia (SDM) Kepolisian Negara Republik Indonesia ( Polri) Tahun 2020. Polri menggandeng Sido Muncul dan Persatuan Dokter Mata Indonesia (Perdami) dalam kegiatan ini.

Dalam Rakernis SDM Polri Tahun 2020 itu, Polri bersama Sido Muncul — yang konsisten memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat pra sejahtera melalui penyelenggaraan operasi gratis bagi penderita katarak — menggelar operasi gratis bagi 200 penderita katarak di Balikpapan dan Bandung. Secara simbolis, bantuan diserahkan oleh Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat kepada As SDM Polri Irjen. Pol. Prof. Dr. Eko Indra Heri., M.M. di RS Bhayangkara Sartika Asih Bandung, pada Selasa (10/03).

DSC05405.jpg
Simbolis penyerahan bantuan operasi katarak gratis dari Sido Muncul.

Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat mengatakan operasi Katarak Gratis Sido Muncul bersama SDM Polri merupakan yang kedua kalinya pada tahun 2020.

“Tahun lalu, kami sudah melaksanakannya di Makassar dan Denpasar. Pada tahun ini SDM Polri mengajukan kembali untuk Balikpapan dan Bandung dengan target masing-masing 100 mata. Untuk Balikpapan sudah terlaksana pada 6 Maret lalu di RS Bhayangkara Balikpapan,” ujar Irwan.

Lebih lanjut Irwan mengatakan, proses screening pasien telah berlangsung sejak 20 Februari hingga 6 Maret. Pemeriksaan awal ini dilakukan di 17 Polres dan tiga Polrestas yang tersebar di Jawa Barat. Tercatat sebanyak 232 calon pasien terdaftar dan 70 di antaranya memenuhi syarat untuk operasi di RS Bhayangkara Sartika Asih Bandung.

Terhitung sejak 2011 hingga saat ini, Sido Muncul telah mengoperasi lebih dari 54.000 mata di seluruh Indonesia.

“Kami telah mengadakan operasi katarak gratis ini selama 10 tahun. Selama ini pula kami selalu berjalan dengan dokter mata yang tergabung di Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia atau Perdami. Dan tahun ini, Sido Muncul kembali berkomitmen dengan melakukan penandatanganan nota kesepahaman bersama Perdami untuk mengoperasi 4.000 mata,” tutup Irwan.

Sumber: kumparan.com 

Editor: suci.

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!