HETANEWS

Sosok Kalapas Klas IIA Siantar, "Menangis" Bersama Napi

Sholat malam bersama warga binaan. (foto/ist)

Simalungun, hetanews.com - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIA Pematangsiantar yang berada di jalan Asahan Km 6,5, Kabupaten Simalungun, sejak dipimpin Porman Siregar,  September 2018 lalu, mengalami banyak perubahan baik fisik maupun mental.

Fisik bangunan lapas dan juga mental warga binaan pemasyarakatan (WBP) dan petugas sipir.           

"Pertama kali bertugas, saya kaget mendengar warga binaan berbicara seenaknya dan seperti sudah biasa berbicara kasar dan mengucapkan kata kata tak etis,"kata Porman Siregar (49) And IP SH MH saat bincang - bincang khusus dengan hetanews.com kemarin, di Lapas.

"Saya sedih dan prihatin melihat keadaan ini, lalu saya berpikir untuk merubah kebiasaan buruk ini. Di awal 3 bulan pertama terasa berat bagi saya, karena tidak ada yang mendukung saya, bahkan banyak yang ingin menjatuhkan saya,"ungkap bapak dari 3 putra ini.

Secara manusiawi dan saya hadir sebagai teman bersama warga binaan, dengan duduk bersama mendengarkan keluh kesahnya selama menjalani masa hukuman. Secara spiritual/kerohanian juga saya lakukan, ungkapnya. Memberi arahan kepada semua anggota saya untuk memperlakukan warga binaan selayaknya teman/saudara, tambahnya.

Hingga akhirnya sikap dan perilaku napi menjadi lebih baik. Setidaknya tidak berbicara dengan bahasa yang kasar dan kata kata kotor lagi. Setiap Selasa, Jumat dan Minggu, semua warga binaan wajib mendengarkan khotbah dari pendeta, ustad dan pendeta (Budha) yang kami datangkan dari departemen keagamaan, katanya.

Menurutnya, setiap Kamis malam juga diadakan pewiridan di Mesjid yang sudah rampung dibangun dan bisa diisi ratusan warga binaan. Bahkan sholat subuh berjamaah setiap harinya. "Mungkin cuma saya yang betani mengeluarkan napi pada malam hari, untuk ibadah,"katanya.

"Kadang sholat malam bersama warga binaan membuat saya menangis. Ketika saya memberikan siraman rohani, banyak warga binaan yang menangis. Air mata mereka mengalir begitu saja ketika saya berbicara, bahkan saya juga ikut meneteskan air mata,"ungkapnya.

Porman Siregar, sosok pemimpin pekerja keras yang banyak membuat perubahan yang sangat pesat meski baru 1 tahun 6 bulan menjadi Kalapas Klas IIA Pematangsiantar. Beliau memulai karirnya sebagai petugas Lapas sejak 1993 di Rutan Batam. Lalu dimutasi ke Lapas Tanjung Gusta Medan.              

Setelah 6 tahun bertugas di Lapas Medan, kemudian diangkat menjadi Kalapas di Kota Padangsidimpuan. Selama 1 tahun 7 bulan melaksanakan tugas di sana, ia dilantik menjadi Kalapas Kelas IIA P. Siantar.

Porman saat menjelaskan kepada masyarakat pengunjung jika tak ada lagi kutipan apapun. (foto/ay)

"Selama 6 bulan saya di sini tugas pertama melakukan pembenahan secara internal sesama pegawai, kemudian membenahi administrasi dan pembenahan terhadap pelayanan kepada warga binaan dan publik,"sebut Porman.

Dipastikan, tak ada lagi kutipan yang dilakukan petugas kepada masyarakat yang akan berkunjung atau pihak keluarga yang akan membesuk. Pelayanan save server secara jelas dan transparansi bisa diakses. Dengan satu alat bisa didapat informasi kapan bebas, kapan bisa melakukan pengajuan pembebasan bersyarat dan lainnya, jelas Porman.        

Jebolan Universitas Sumatera Utara, baik S1 dan S2 itu, memiliki tiga putra dari hasil perkawinannya dengan istri tercintanya  Masita Tanjung, berprofesi sebagai dosen di USU Medan.                 

Putra kelahiran Gunungtua tahun 1971 itu, mengaku banyak mendapat pengalaman dalam membina bawahan dan warga binaan dengan pendekatan pribadi. "Yang terpenting bekerja dengan hati, meski awalnya banyak yang tidak menginginkan kehadiran kita, tapi akhirnya kita dicintai karena kita bekerja dengan hati, biarlah Tuhan yang membalasnya,"ujarnya.              

Seperti diketahui berbagai perubahan yang dilakukan Porman selama bertugas di Lapas Siantar antara lain, pendirian tiga rumah ibadah yang cukup luas dan besar seperti gereja, masjid dan vihara untuk dimanfaatkan tidak kurang dari 2200 warga binaan. Seyogianya Lapas Klas IIA Siantar berkapasitas 550 orang, tapi kini sudah mencapai 2000 an lebih. Maka kita harus bekerja dengan hati hati dan jangan memancing kemarahan WBP.            

Kini lingkungan Lapas lebih bersih dan ramah. "Saya juga sering duduk bersama mereka sambil ngopi di depan sel mereka. Dengan pendekatan seperti itu kita bisa banyak mengetahui berbagai masalah ataupun curhatan mereka,"kata Porman.

Selain itu juga, Lapas telah membuat tempat keterampilan para napi seperti pabrik roti hasil rotinya diberi  Cap "Kayna" yang artinya Karya Narapidana. Juga ada salon kecantikan, barber shop, menjahit baju, menenun ulos, bengkel las dan pertanian. Surplusnya,  Lapas juga menyetorkan  PNBP-nya (Penerimaan Negara Bukan Pajak) sebesar Rp 56 juta per tahun dari hasil usaha kreatif yang dikelola langsung oleh warga binaan dan didanai oleh keuangan koperasi Lapas Siantar, “ucap Porman Siregar.                

Ditambahkannya, setelah beroperasinya rumah makan "Saung Sadulur" yang bekerjasama dengan pihak ketiga, kini pihaknya sedang giat membangun kolam pancing ikan yang terbuka untuk umum dan direncanakan pengadaan 30 ekor  ternak sapi yang akan dikelola warga binaan dan  juga pembiayaannya bersumber dari dana koperasi Lapas Siantar.

Penulis: ay. Editor: gun.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.