HETANEWS

Kerusuhan India: Bentrokan Berdarah Massa Hindu Versus Muslim

Kisruh di India menewaskan puluhan orang di jalan baru-baru ini. Foto: Reuters

Hetanews.com - Undang-Undang Kewarganegaraan India yang kontroversial masih terus memicu gelombang kekerasan dan kerusuhan India sejak disahkan pemerintahan Perdana Menteri India Narendra Modi pada Desember 2019.Bentrokan berdarah antara massa Hindu dan Muslim itu terjadi di tengah kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke India.

Mohammad Zubair sedang dalam perjalanan pulang dari sebuah masjid lokal di timur laut New Delhi ketika dia berhadapan dengan kerumunan besar.Dia berbalik ke jalan bawah tanah (underpass) untuk menghindari keributan, yang terbukti salah langkah.

Dalam hitungan detik, dia meringkuk di tanah dikelilingi oleh lebih dari selusin pemuda yang mulai memukulinya dengan tongkat kayu dan batang logam.Darah mengalir dari kepalanya dan membasahi pakaiannya. Pukulan itu semakin intensif, Zubair mengira dia hampir mati.

Zubair mengisahkan peristiwa itu di rumah seorang kerabat di bagian lain ibu kota India, dengan kepalanya masih terbungkus perban.Serangan tengah hari pada Senin (24/2/2020) yang ditangkap dalam foto-foto dramatis Reuters terjadi di tengah ketegangan dan kekerasan rasial.

Di dekat daerah ibu kota India di mana peristiwa itu terjadi, para demonstran Muslim dan Hindu telah bertempur selama berjam-jam melintasi penghalang beton dan logam yang membagi jalan utama serta melempar batu dan bom bensin.

Namun, pemandangan massa yang meneriakkan slogan-slogan pro-Hindu tiba-tiba berbalik kepada seseorang yang tidak bersenjata tampaknya karena dia adalah seorang Muslim adalah indikasi meningkatnya ketegangan antara anggota dua kelompok agama dominan India mungkin sulit untuk dibendung.

Menurut catatan Reuters, keresahan di seluruh India dimulai pada Desember 2019 dengan disahkannya Undang-Undang Kewarganegaraan yang membuat non-Muslim dari beberapa negara tetangga memenuhi syarat untuk mengajukan kewarganegaraan India dengan cepat.

Langkah itu dipandang diskriminatif oleh umat Muslim dan menandai berakhirnya tradisi sekuler India.Minoritas agama yang menjadi korban persekusi di negara-negara tetangga India termasuk dari komunitas Hindu, Sikh, atau Kristen berhak mendapatkan kewarganegaraan, tetapi umat Muslim tidak menikmati keuntungan yang sama.

Partai nasionalis Hindu Perdana Menteri India Narendra Modi Bharatiya Janata (BJP) menegaskan undang-undang kewarganegaraan baru diperlukan untuk melindungi minoritas korban persekusi dari Pakistan, Bangladesh, dan Afghanistan.Modi menyangkal adanya bias terhadap Muslim India.

“Mereka melihat saya sendirian, mereka melihat peci saya, jenggot, pakaian shalwar kameez, dan melihat saya sebagai seorang Muslim,” keluh Zubair kepada Reuters.

“Mereka segera menyerang dan meneriakkan slogan-slogan Hindu. Kemanusiaan macam apa ini?”

Semuanya Akan Baik-baik Saja

Juru bicara Partai BJP Tajinder Pal Singh Bagga mengatakan partainya tidak mendukung segala bentuk kekerasan, termasuk serangan terhadap Zubair.Dia menyalahkan pihak-pihak yang saling berselisih karena memicu kekacauan selama kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertujuan merusak citra India.

“Kerusuhan ini 100 persen direncanakan,” katanya tentang kekerasan.Bagga menambahkan partainya atau kebijakan mereka tidak ada hubungannya dengan kekacauan. 

Reuters tidak memiliki bukti independen bahwa protes Delhi tersebut telah direncanakan sebelumnya.Bagga menuturkan pemerintah federal yang mengendalikan polisi Delhi telah mengerahkan pasukan paramiliter untuk mengendalikan situasi.

“Saya percaya dalam 24 jam semuanya akan baik-baik saja.”

Polisi Delhi belum dapat mengomentari serangan terhadap Zubair.

Protes menentang amandemen RUU Kewarganegaraan di India diwarnai bentrokan dengan aparat.
Foto: Reuters

Sejak terpilih kembali dalam pilpres India pada Mei 2019, Modi telah mengejar agenda mengutamakan Hindu India yang telah menguatkan para pengikutnya, sekitar 80 persen dari populasi, dan membuat 180 juta umat Islam di India terguncang.

Para penentang dan pendukung UU Kewarganegaraan sebagian besar terpecah berdasarkan kelompok Muslim dan Hindu yang saling menentang satu sama lain.Beberapa pihak mengatakan polarisasi kali membangkitkan babak gelap di masa lalu India.

“Kekerasan sekarang terjadi di wilayah Delhi dan mengingatkan Anda tentang awal kerusuhan anti-Sikh 1984,” tutur Yogendra Yadav, ilmuwan politik yang memimpin partai politik kecil yang menentang BJP.

Dia merujuk pada serangan massa terhadap minoritas Sikh setelah anggota komunitas itu membunuh Perdana Menteri India saat itu Indira Gandhi.Ribuan pemeluk Sikh terbunuh di kota-kota termasuk Delhi dalam apa yang dikatakan penyelidik India sebagai kekerasan yang diorganisir.

Modi Serukan Suasana Tenang

Modi menyerukan ketenangan pada Rabu (26/2/2020) setelah sedikitnya 20 orang tewas dan lebih dari 200 orang lainnya mengalami cedera dalam kekerasan sektarian terburuk di New Delhi selama beberapa dekade.

Undang-Undang Kewarganegaraan di balik kerusuhan India kali ini adalah salah satu dari beberapa langkah yang diambil oleh pemerintah Modi sejak terpilih kembali yang telah didukung oleh mayoritas Hindu.

Pada Agustus 2019, Modi mencabut status khusus Kashmir, satu-satunya negara bagian mayoritas Muslim di India.Modi bersikeras langkah itu merupakan cara mengintegrasikan kawasan tersebut dengan bagian lain negara itu.

Pada November 2019, Mahkamah Agung India menyerahkan kelompok-kelompok Hindu kendali atas sebuah situs yang diperebutkan di Kota Ayodhya yang membuka jalan bagi sebuah kuil untuk dibangun di sebuah situs di mana sebuah masjid pernah berdiri. Itu adalah salah satu janji kampanye Partai BJP.

Reuters melaporkan, posisi Modi sebagai kepala menteri negara bagian Gujarat selama beberapa kerusuhan terburuk dalam sejarah independen India yang terjadi di sana pada 2002 sejak lama telah memicu ketidakpercayaan di antara umat Muslim.

Hingga 2.500 orang yang sebagian besar Muslim tewas dalam kerusuhan yang dipicu setelah 59 peziarah Hindu dibakar hingga mati ketika kereta api mereka dibakar oleh orang-orang yang diduga Muslim.Dalam penyelidikan selanjutnya, Modi dibebaskan dari kesalahan, bahkan ketika puluhan orang di kedua sisi kerusuhan dihukum.

Mengingat Allah

Sebelum bentrokan minggu ini di New Delhi, 25 orang tewas dalam pertempuran antara demonstran dan polisi di seluruh negeri.Jumlah itu sekarang hampir dua kali lipat setelah dua hari pembakaran, penjarahan, pemukulan, dan penembakan di bagian timur laut New Delhi yang telah susah-payah dipadamkan polisi setempat.

Polisi Delhi mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Selasa (25/2/2020) malam, mereka melakukan segala upaya untuk menahan bentrokan dan mendesak orang-orang untuk menjaga situasi damai.

Para saksi mata menyebutkan polisi dan pasukan paramiliter berpatroli di jalanan dalam jumlah yang jauh lebih besar pada Rabu (26/2.2020).Sebagian wilayah yang dilanda kerusuhan telah ditinggalkan penduduknya.

Beberapa orang yang terbunuh dan terluka telah mendapatkan luka tembak, menurut dua petugas medis di Rumah Sakit Guru Teg Bahadur, di mana banyak korban dirawat.Reuters tidak dapat menentukan siapa yang menembaki mereka.

Di antara mereka terdapat Yatinder Vikal, umat Hindu berusia 33 tahun yang dibawa dengan luka tembak di lutut kanannya.Menurut saudaranya, Yatinder sedang mengendarai skuter ketika sebuah peluru menghantamnya.

Saksi-saksi Reuters di rumah sakit setempat berbicara kepada korban Hindu dan Muslim yang terluka dalam kekerasan itu.Zubair yang tidak sadar akhirnya diseret ke tempat yang aman oleh sesama umat Muslim yang datang membantunya setelah melemparkan batu untuk membubarkan para penyerang.

Pria berusia 37 tahun yang mencari nafkah dengan melakukan pekerjaan serabutan itu dilarikan ke rumah sakit. Ia dirawat karena luka di kepalanya dan dibebaskan pada Senin (24/2/2020) malam.

“Saya mengira tidak akan selamat dari ini dan terus berusaha mengingat Allah.”

Sumber: matamatapolitik.com

Editor: tom.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.