HETANEWS

Anies, Banjir, dan Batu Sandungan Pilpres 2024

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (tengah) dicegat warga untuk berfoto bersama saat sedang meninjau Pintu Air Karet, Jakarta Pusat, 25 Februrari 2020.

Jakarta, hetanews.com - Walau masih dini, setidaknya tiga lembaga survei telah merilis jajak pendapat untuk Pilpres 2024. Nama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pun masuk dalam sorotan kuat.

Di antara kepala daerah yang berpotensial jadi kandidat pada Pilpres 2024, Anies disebutkan paling unggul dalam survei-survei tersebut. Namun, bila disandingkan dengan tokoh nasional, Anies masih berada di bawah Menteri Pertahanan yang juga Ketum Gerindra Prabowo Subianto.

Meskipun masih lebih unggul dibandingkan para kepala daerah lain, lembaga PPI-PRC menemukan elektabilitas Anies anjlok dalam survei pada awal Januari dan awal Februari 2020.

Direktur Eksekutif PPI Adi Prayitno mengatakan elektabilitas Anies mengalami penurunan tak lepas dari permasalahan banjir di Jakarta sejak awal tahun ini.

Pendapat itu pun diamini Pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komarudin. Ia menyebut Anies sedang merasakan eskalasi banjir Ibu Kota yang terus meningkat di era kepemimpinannya.

"Banjir merupakan isu yang paling empuk untuk menyerang Anies dan bisa menjadi isu yang seksi untuk menjegal langkah Anies," kata Ujang saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (26/2).

Ujang menilai masalah banjir itu sudah mulai digunakan lawan politik Anies sebagai senjata untuk kepentingan elektoral. Namun, Ujang mengingatkan Pilpres 2024 masih empat tahun lagi.

Menurutnya, Anies memiliki waktu setidaknya dua tahun lagi sebelum kepemimpinannya berakhir untuk mengatasi banjir di wilayah ibu kota negara RI ini.

"Jadi tergantung pada Anies sendiri. Jika ke depan mampu mengatasi banjir dan ada kinerja lain yang bagus bisa saja akan terus melaju," ujarnya.

"Tapi jika banjir ke depan tidak bisa diatasi dan permasalahan-permasalahan lain muncul. Tentu hal itu kan menurunkan elektabilitasnya. Banjir bisa saja jadi batu sandungan Anies," kata Ujang menambahkan.

Ujang berpendapat kelemahan lainnya bila Anies ingin menjadi calon presiden 2024 adalah masa jabatan sebagai gubernur yang selesai pada 2022. Saat itu Pilgub DKI tak langsung digelar, karena ditarik dalam pelaksanaan Pilkada serentak 2024.

"Di saat itu (2022) Anies tak punya jabatan dan di saat itu Anies akan lemah. Kecuali dia punya jabatan baru. Maka dia masih bisa menjaga popularitas dan elektabilitasnya," tuturnya.

Kondisi yang Anies hadapi ini, kata Ujang, berbeda dengan yang dijalani saat Joko Widodo (Jokowi) maju jadi capres pada 2014. Kala itu, Jokowi masih memiliki jabatan Gubernur DKI Jakarta yang baru dijalaninya selama 2 tahun.

Lain halnya dengan Ujang, Peneliti politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati menyatakan persoalan di ibu kota, termasuk banjir, bukan masalah utama bagi Anies.

Masalah utama bagi pribadi Anies, kata Wasisto, adalah pada kapabilitas serta kepemimpinan dalam melihat dan menyelesaikan persoalan.

"Hal ini yang tidak muncul dalam sosok AB (Anies Baswedan). Saya lihat AB bukan tipe pemimpin yang pengambil risiko," ujarnya.

Wasisto lalu menyebut salah satu contoh yakni sejak memimpin Jakarta mulai 2017 lalu, Anies dilihatnya tak menyiapkan kebijakan mitigasi banjir. Menurutnya, jika kebijakan mitigasi itu berjalan, masyarakat dan jajaran pemprov bisa mengantisipasi sebelum banjir datang.

"Hal ini mengindikasikan kalau DKI tidak preventif soal banjir. Karena gubernur lebih sibuk membangun citra personalnya daripada mengurusi urusan lokal," tuturnya.

  • Tudingan Berkutat pada Konsep
Anggota DPR dari Fraksi PDIP Masinton Pasaribu menilai tak ada kesinambungan program yang dijalankan Anies dalam mengatasi masalah banjir ini dari gubernur sebelumnya.

Masinton mengatakan tantangan Anies hari ini adalah mengatasi persoalan banjir. Menurutnya, untuk maju ke level kepemimpinan yang lebih besar, harus mampu persoalan yang terjadi saat ini terutama banjir.

"Jadi enggak perlu harus sibuk dengan konsep-konsep baru yang kemudian tidak mampu dikerjakan. Dampaknya kan warga, masyarakat Jakarta," ujar anggota DPR yang terpilih dari Dapil Jakarta 2 (Dapil luar negeri, Jakpus, Jaksel) tersebut.

Masinton pun menyebut Anies hanya berkutat pada konsep normalisasi atau naturalisasi.

"Dalam hal normalisasi belum ada yang dikerjakan karena berkutat pada konsep tadi,"

Masinton juga menuding pengerjaan perbaikan saluran air di sejumlah titik Jakarta dikerjakan asal, sehingga dampak banjir meluas. Hal ini, kata Masinton bisa dilihat dari wilayah yang biasanya tak pernah banjir, kini ikut terendam.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PKS Mustafa Kamal menyambut baik Anies yang masuk ke dalam daftar kuat kandidat untuk Pilpres 2024 berdasarkan hasil survei tiga lembaga. PKS merupakan salah satu partai yang mengusung Anies pada Pilgub DKI 2017.

"[Hasil survei] ini tantangan buat Pak Anies Rasyid Baswedan untuk membuktikan kinerjanya yang lebih baik di Jakarta," ujarnya.

Terkait kritik atas Anies soal banjir, Mustafa menyebutnya sebagai yang wajar. Menurutnya, untuk menjadi pemimpin yang besar harus siap menerima kritik dan belajar dari kritikan tersebut.

"Harus membuktikan kritikan-kritikan itu ada jawaban kongkretnya, dan saya yakin Pak Anies Rasyid Baswedan bisa, insyaallah terus berjuang," kata dia.

 

sumber: cnnindonesia.com

Editor: sella.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.