HETANEWS

Julian Assange Telah Peringatkan Gedung Putih atas Risiko Nyawa

Julian Assange dalam foto tanggal 11 April 2019 di London. Foto: Jack Taylor/Getty Images

Hetanews.com - Salah satu pendiri Wikileaks, Julian Assange, telah mencoba menelepon Gedung Putih untuk memperingatkan mereka dokumen-dokumen rahasia akan tersebar online.Saat ini Assange tengah berjuang melawan ekstradisi ke AS untuk menghadapi persidangan atas bocornya dokumen-dokumen rahasia militer AS.

Menurut laporan BBC, pengacaranya menolak klaim yang menyatakan ia “secara sadar” mempertaruhkan nyawa dengan menerbitkan nama-nama informan.Dia mengatakan kepada Pengadilan Woolwich Crown, buku yang diterbitkan oleh surat kabar The Guardian lah yang bersalah atas penerbitan nama-nama itu.Tuduhan itu telah dibantah oleh The Guardian.

Klaim itu muncul pada hari kedua sidang ekstradisi untuk Assange (48 tahun), yang dituduh berkonspirasi dalam peretasan pangkalan militer AS untuk memperoleh informasi rahasia yang sensitif, yang kemudian dipublikasikan di situs web Wikileaks.

Pengacara Assange, Mark Summers QC, mengklaim tuduhan AS bermotivasi politik.Dia mengatakan, pada Februari 2011, The Guardian menerbitkan buku tentang Wikileaks yang berisi kata sandi untuk dokumen-dokumen rahasia itu.

Dia menambahkan, setelah berbulan-bulan kemudian, diketahui kata sandi tersebut dapat digunakan untuk mengakses database rahasia.Hal ini diungkapkan oleh media berita Jerman Der Freitag pada 25 Agustus 2011.

Pada hari itu juga, Assange menghubungi Gedung Putih dan meminta untuk berbicara dengan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton.Dia menegaskan ada “masalah yang mendesak” dan khawatir dokumen-dokumen itu akan disebarluaskan secara online oleh pihak ketiga yang telah mendapatkan akses, menurut keterangan Summers kepada pengadilan. Dia disuruh menelepon kembali dalam beberapa jam.

Dilansir dari BBC, Summers menekankan, Assange telah memperingatkan, “Saya tidak mengerti mengapa kalian tidak menganggap ini mendesak. Kita harus melakukan sesuatu, atau nyawa orang-orang terancam.”

Tidak Ada Kekhawatiran Yang Diungkapkan

Menanggapi klaim yang dibuat di pengadilan, juru bicara The Guardian menegaskan, tuduhan yang menyatakan buku Wikileaks 2011 yang diterbitkannya menjadi sebab tersebarnya dokumen-dokumen rahasia “sepenuhnya tidak benar”.

Dia mengatakan, “Buku itu berisi kata sandi, namun penulis telah diberitahu oleh Julian Assange kata sandi itu bersifat sementara dan akan kedaluwarsa dan dihapus dalam hitungan beberapa jam.Buku itu juga tidak memuat rincian tentang keberadaan dokumen-dokumen itu.”

Dia menambahkan, “Tidak ada kekhawatiran yang diungkapkan” oleh Assange atau Wikileaks ketika buku itu diterbitkan.

Para jaksa berpendapat pada Senin (24/2/2020), Assange dengan sadar menempatkan ratusan narasumber di seluruh dunia dalam risiko penyiksaan dan kematian dengan menerbitkan dokumen-dokumen rahasia yang berisi nama atau rincian identitas lainnya.

Namun, Summers mengatakan kepada pengadilan, permintaan ekstradisi AS salah mengartikan fakta.Dia menyatakan, pemerintah AS, yang terlibat dalam proses redaksi, tahu “apa yang sebenarnya terjadi”.

Sebagai tanggapan, James Lewis QC, yang mewakili pemerintah AS, menegaskan kepada pengadilan, Assange “tidak harus mempublikasikan dokumen-dokumen itu”.

“Dia memutuskan untuk mempublikasikannya di situs web yang diketahui banyak orang dan mudah dicari, sementara mengetahui hal itu berbahaya untuk dilakukan,” imbuhnya, seperti yang dikutip dari BBC.

Assange telah ditahan di penjara Belmarsh sejak September lalu sebelum sidang ekstradisi ini.Dia sebelumnya dipenjara selama 50 minggu pada Mei 2019 karena melanggar aturan bebas bersyaratnya setelah bersembunyi di kedutaan Ekuador di London selama hampir tujuh tahun.

Dia mencari suaka di kedutaan untuk menghindari ekstradisi ke Swedia dengan tuduhan pemerkosaan yang dia bantah. Investigasi kasus pemerkosaan itu kemudian dibatalkan.

Baca juga: Pengadilan Ekstradisi Assange Berlangsung di London

Sumber: matamatapolitik.com

Editor: tom.