HETANEWS

Meski Tak Berdamai, Hakim Ringankan Vonis Sales dan PNS yang Kompak Buat Drama Perampokan

Dua terdakwa saat digiring petugas. (foto/ay)

Simalungun, hetanews.com - Majelis hakim yang diketuai Roziyanti SH, meringankan hukuman Sugianto als Jarot (48), selaku sales Taking Order (TO) PT.Indorasa Prima Sukses Gemilang, menjadi 2,8 tahun penjara. Padahal sebelumnya, terdakwa Jarot dituntut 3,6 tahun penjara.

Sedangkan Suhar als Bedak, oknum PNS Pemkab Simalungun yang diajak untuk melakukan drama perampokan, divonis 2,4 tahun penjara yang tadinya dituntut 3 tahun penjara.

Meski dalam persidangan sebelumnya, hakim menganjurkan agar kedua terdakwa melakukan perdamaian.

Faktanya,  meskipun belum berdamai, hakim tetap memberi keringanan hukuman. Putusan itu, dibacakan Roziyanti dalam persidangan PN Simalungun, Kamis (27/2/2020).

Keduanya dinyatakan  terbukti bersalah, melanggar pasal 374 Jo pasal 55 (1) ke-1 KUH Pidana.

Berdasarkan fakta yang terungkap dalam persidangan, Suhar  disuruh mengikat Jarot, di pohon mangga dan menyimpan uang Rp38.700.000.- Akal-akalan terdakwa Jarot dilakukan pada Kamis, 24 Oktober 2019 lalu, dan memilih lokasi modus perampokan, di jalan Asahan Km 8, Kecamatan Gunung Malela. Keduanya bertemu di jembatan kompleks asrama TNI 122/TS dan Jarot menyerahkan uang Rp38.700.000 dalam plastik biru, kepada Suhar, lalu melanjutkan perjalanan menuju jalan Asahan.             

Tak jauh dari perumahan warga, Jarot membuka tas ranselnya dan meletakkannya di tanah, lalu mengeluarkan lakban dari sepeda motornya.

Suhar disuruh mengikat kedua tangannya di pohon mangga dan melakban mulutnya. Lalu sepeda motornya dijatuhkan dan terdakwa Suhar, disuruh pulang ke rumahnya, di Simpang Saripah Dusun Hataran Jawa, Nagori Marubun Jaya.            

Sebelum sampai di rumah, terdakwa Suhar, disuruh membuang Hp milik Jarot ke sungai, dekat asrama TNI 122/TS. Suhar menggali tanah di belakang rumahnya dan mengubur uang tersebut.             

Uang tersebut merupakan hasil penyetoran dari beberapa toko yang telah membeli barang dari PT Indorasa melalui terdakwa. Karena sebagai sales TO, terdakwa Jarot bertugas mengorder barang dan mengutip uang hasil penjualan untuk disetorkan ke rekening perusahaan. Setiap bulannya, terdakwa mendapatkan gaji Rp5 juta/bulan.               

Seyogianya uang yang telah diterima Jarot sebesar Rp51.742.500.- dari beberapa toko disetorkan ke kas perusahaan.

Atas kejadian tersebut, Ardiansyah Pohan, selaku pengawas perusahaan melaporkan kepada atasannya, Unggul Pakpahan, jika terdakwa Jarot mengalami perampokan.         

Setelah kasus ini dilaporkan ke polisi dan dilakukan penyelidikan maka terungkaplah sandiwara terdakwa.

Penulis: ay. Editor: gun.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.