HETANEWS

5 Daerah di Jawa Timur yang Rawan Banjir, Salah Satu Disebut Kota Banjir

Ilustrasi Banjir Bandang

Solo, hetanews.com - Fakta beberapa daerah di Jawa Timur dilintasi sungai Bengawan Solo menjadi perhatian tersendiri. Berada di daerah aliran Bengawan Solo memiliki banyak keuntungan sekaligus kerugian.

Keuntungan yang diperoleh misalnya, akses air untuk mengairi kawasan pertanian tidak pernah kurang. Bahkan di musim kemarau, cadangan air di daerah lintasan Bengawan Solo masih tergolong aman.

Sebaliknya, ada juga kerugian yang harus dialami masyarakat yang tinggal di daerah-daerah aliran Bengawan Solo. Hampir setiap tahun, daerah-daerah ini rutin terkena bencana banjir dari luapan Bengawan Solo. Selain diakibatkan oleh luapan Bengawan Solo, banjir di beberapa daerah di Jawa Timur ini antara lain dikarenakan curah hujan yang tinggi, irigasi atau daerah resapan air tidak memadahi, dan lain sebagainya.

Menghimpun informasi mengenai 5 daerah yang rawan banjir di Jawa Timur. Sebaiknya, masyarakat yang hendak bepergian ke daerah-daerah ini perlu melakukan sejumlah antisipasi. Sementara itu, masyarakat yang tinggal di daerah-daerah rawan banjir bisa lebih mempersiapkan diri bagaimana supaya dampak banjir bisa diminimalkan.

  • Kabupaten Bojonegoro

Orang-orang di luar Bojonegoro mengenal kota ini sebagai kota banjir. Setiap tahun Bojonegoro tidak pernah luput dari bencana banjir.

Sebagai salah satu daerah yang dialiri sungai Bengawan Solo, Bojonegoro rutin terdampak luapan sungai ketika musim penghujan. Tanggul-tanggul di sepanjang aliran Bengawan Solo sering tidak bisa menampung debit air yang terlalu tinggi. Sehingga air sungai meluap sampai ke pemukiman warga.

Selain karena luapan sungai Bengawan Solo, banjir di Bojonegoro juga disebabkan oleh faktor lain. Daerah sekitar pusat kota merupakan daerah yang sering tiba-tiba banjir. Banjir lokal ini disebabkan oleh curah hujan yang tinggi. Sementara irigasi dan daerah resapan tidak cukup untuk menampung air hujan.

Hujan yang mengguyur kota Bojonegoro pada Sabtu (22/2) lalu disebut-sebut menyebabkan banjir terparah sejak tahun 2008. Ruas-ruas jalan tergenang dengan ketinggian variatif antara 10 hingga 60 sentimeter. Banjir yang biasanya tidak sampai masuk ke dalam rumah warga, kini berhasil menerobos sampai ketinggian 5 sampai 10 sentimeter.

  • Kabupaten Tuban

Kabupaten di sebelah utara Bojonegoro ini juga rutin terkena banjir. Seperti yang terjadi di Bojonegoro, curah hujan yang tinggi sering menyebabkan beberapa kawasan di Tuban mengalami banjir. Pada Selasa (18/2) lalu, hujan deras mengguyur hampir seluruh wilayah pegunungan di Tuban.

Hujan yang terjadi di kawasan pegunungan itu mengakibatkan dua kecamatan di Tuban bagian timur terkena banjir bandang. Banjir merendam arus jalan penghubung antar desa dan areal pertanian. Banjir kiriman dari pegunungan yang diakibatkan oleh hujan lebat sudah menjadi langganan bagi masyarakat Tuban.

  • Kabupaten Lamongan

Banjir di Lamongan disebabkan oleh luapan anak sungai Bengawan Solo dan juga intensitas hujan yang tinggi. Biasanya curah hujan yang tinggi menyebabkan Sungai Bengawan Njero meluap dan melanda daerah pemukiman warga.

Setiap kali curah hujan tinggi, Sungai Bengawan Njero memang kerap meluap. Sungai tidak lagi mampu menahan debit air yang meninggi.

Pada Selasa (4/2) lalu, hujan deras mengguyur sebagian wilayah Lamongan dengan durasi yang cukup lama. Hujan tidak berhenti selama 4 jam. Akibatnya, sejumlah ruas jalan dan kawasan pertanian di Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan terendam banjir.

  • Kabupaten Gresik

Di Gresik, banjir biasanya terjadi karena luapan air dari Kali Lamong. Daerah yang berada di sekitar Kali Lamong menjadi langganan banjir setiap tahunnya. Curah hujan sangat menentukan seberapa tinggi debit air hujan yang melanda wilayah pemukiman dan kawasan pertanian warga.

Awal tahun 2020, banjir di kawasan Kali Lamong setinggi 20 hingga 60 sentimeter. Pondasi-pondasi rumah warga yang sudah ditinggikan tetap tidak berhasil membendung air. Banjir tetap masuk sampai ke dalam rumah warga.

  • Kota Surabaya

Awal Februari 2020 lalu, Surabaya diguyur hujan dengan intensitas yang tinggi. Curah hujan yang mencapai 125.7 mm perhari itu bahkan sudah masuk kategori ekstrem.

Akibat curah hujan yang ekstrem, sejumlah wilayah di Surabaya mengalami banjir. Banjir awal Februari 2020 lalu, daerah Wonokromo dan Gubeng menjadi dua daerah yang paling terdampak. Hal ini lantaran curah hujan di kedua daerah ini paling tinggi di antara yang lainnya.

sumber: merdeka.com

Editor: sella.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.