HETANEWS.COM

Tiga Skenario Pertempuran Memperebutkan Idlib di Suriah

Seorang gadis Suriah menangis ketika sekelompok warga Suriah bersiap naik bus untuk kembali ke Suriah melalui Distrik Esenyurt di Istanbul, Turki, 6 Agustus 2019. Foto: AFP/Ozan Kose

Hetanews.com - Turki ingin menghentikan serangan pasukan rezim pemerintah Suriah. Namun, Turki tidak dapat mengambil risiko konfrontasi dengan pendukung utama mereka, Rusia.Dalam beberapa minggu terakhir, pertempuran memperebutkan Idlib di barat laut Suriah telah memasuki fase baru.

Pasukan rezim Suriah yang didukung oleh Rusia dan Iran telah berupaya merebut jalan raya strategis M4 dan M5 yang masing-masing menghubungkan Kota Latakia dan ibu kota Suriah, Damaskus ke Kota Aleppo.

Serangan pasukan pemerintah Suriah yang disertai dengan kampanye pengeboman udara intensif terhadap kubu terakhir oposisi Suriah telah menewaskan puluhan warga sipil, pejuang oposisi, dan 13 tentara Turki serta menimbulkan gelombang pengungsian ratusan ribu warga sipil yang melarikan diri ke perbatasan Turki.Hal ini telah mendorong Turki untuk mengambil tindakan.

Militer Turki telah mengirimkan beberapa konvoi pasukan ke wilayah Suriah, memperkuat pos-pos pengamatan di barat laut yang telah dikuasai pasukan rezim Suriah, dan mendirikan pos baru di daerah-daerah yang dikuasai oposisi.

Turki khawatir, tujuan utama Rusia adalah mengepung kelompok oposisi bersenjata dan memotong rute pasokan utama dari wilayah Turki, perkembangan yang sangat ingin dihindari. Dalam kondisi tersudut, Turki kini mempertimbangkan pilihan-pilihannya untuk mencegah kekalahan total sekutu-sekutunya di Suriah.

Zona Deesklasi Terbaru

Anggota pasukan Rusia dan Suriah berjaga di dekat poster Presiden Suriah Bashar al-Assad dan rekan Rusia-nya, Vladimir Putin, di persimpangan Abu Duhur di tepi timur provinsi Idlib pada 20 Agustus 2018. (Foto: AFP/Getty Images/George Ourfalian)

Idlib merupakan salah satu yang terbaru dari empat zona deeskalasi yang disepakati oleh Rusia, Iran, dan Turki pada 2017 yang masih belum diambil alih oleh rezim pemerintah Suriah.

Tiga zona lainnya, Ghouta Timur di dekat Damaskus, Provinsi Deraa dan Quneitra di selatan, serta kantong wilayah Rastan dan Talbiseh di Provinsi Homs telah diserang dan direbut oleh pasukan rezim Suriah satu demi satu dalam rentang waktu satu tahun.

Setelah setiap perebutan wilayah tersebut, puluhan ribu warga sipil dan pejuang yang tidak ingin tinggal di bawah pemerintahan rezim Suriah diizinkan pergi ke Idlib, menambah populasi pengungsi yang terus bertambah di sana.

Pada 2018, Turki berhasil menyelamatkan Idlib dibandingkan dengan nasib tiga zona deeskalasi lainnya dengan mewujudkan perjanjian dengan Rusia di Sochi, Rusia untuk membangun zona demiliterisasi di Idlib.

Sebagai imbalannya, Turki berjanji untuk melucuti senjata dan menyingkirkan Hay’et Tahrir al-Sham (HTS), kelompok bersenjata yang sebelumnya terkait dengan al-Qaeda dari daerah demiliterisasi.

Kedua pihak juga sepakat untuk membuka kembali jalan raya M4 dan M5 untuk perdagangan dan pergerakan.Namun, perjanjian gencatan senjata itu tidak pernah dilaksanakan secara keseluruhan.

Turki tidak bisa memaksa HTS untuk menghormatinya, sementara Rusia tidak menghentikan pasukan rezim Suriah dari menyerang zona aman.Sebelumnya, zona demiliterisasi selalu dianggap sebagai solusi sementara dan pada akhirnya bertujuan agar semua wilayah Suriah kembali di bawah kendali rezim pemerintah Suriah.

Dalam hal ini, eskalasi serangan di Idlib tidak bisa dihindari.Namun, tidak seperti perebutan zona deeskalasi lainnya, jatuhnya Idlib akan menjadi bencana bagi Turki.Kejatuhan Idlib berarti kekalahan total oposisi Suriah dan pengucilannya dari negosiasi solusi akhir untuk Suriah pasca-perang.

Sebagai tambahan, Turki yang merupakan pendukung utama oposisi juga akan dikesampingkan dan tidak memiliki suara dalam negosiasi di masa depan, yang akan menjadi kerugian diplomatik besar mengingat bertahun-tahun keterlibatan Turki dalam konflik.

Selain itu, perebutan Idlib oleh rezim pemerintah Suriah akan mengakibatkan pengusiran sekitar tiga juta warga sipil ke perbatasan Turki atau daerah perbatasan kecil yang dikontrolnya di utara Provinsi Aleppo.

Dengan meningkatnya permusuhan domestik terhadap para pengungsi Suriah, Turki tidak mampu mengakomodasi lebih banyak warga Suriah di wilayahnya.

Pemerintah Turki juga berada di bawah tekanan domestik yang besar untuk membalas setelah pembunuhan 13 tentara Turki oleh pasukan rezim Suriah.Turki akan dikritik di dalam negeri jika pasukannya dipaksa untuk menarik diri dari pos pengamatan yang saat ini dikepung oleh rezim Suriah.

Hubungan Turki-Rusia

Meskipun Turki menolak solusi militer di Suriah barat laut, Turki juga tidak bisa mengambil risiko konfrontasi dengan Rusia.Turki telah membayar harga yang berat ketika terakhir kali mengalami bentrok dengan Rusia pada 2015. Militer Turki saat itu menembak jatuh jet tempur Rusia di dekat perbatasan Suriah-Turki.

Sebagai tanggapan, Kremlin melarang impor barang-barang Turki dan membuat warganya tidak ingin berlibur di Turki, yang sangat merugikan perekonomian Turki.Pada saat yang sama, Uni Eropa mau pun Amerika Serikat tidak mendukung Turki dalam eskalasi terhadap Rusia.

Terlebih lagi, keduanya lambat mengutuk upaya kudeta terhadap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Juli 2016.Merasa terisolasi oleh sekutu-sekutu tradisionalnya, Turki harus berupaya keras, termasuk mengajukan permintaan maaf publik oleh Erdogan, untuk memperbaiki hubungan dengan Rusia.

Saat ini, hubungan Turki dengan Rusia telah tumbuh lebih kuat dan lebih penting bagi pemerintah Turki daripada 2015. Rusia adalah mitra dagang utama Turki, dengan perdagangan bilateral melebihi US$25 miliar per tahun.Jauh lebih penting ialah pemasok minyak dan gas utama Turki, dengan pangsa pasar Turki meningkat setelah AS menjatuhkan sanksi atas ekspor energi Iran.

Turki juga menjadi pusat transit untuk ekspor gas Rusia ke Eropa. Pada Januari 2020, Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin meresmikan Turk Stream, pipa gas yang melintasi Laut Hitam dari Rusia ke Turki, yang dimaksudkan untuk mengirimkan gas ke Eropa tenggara.

Turki juga berharap mendapatkan dukungan Rusia dalam meningkatnya ketegangan atas pengeboran gas di Mediterania Timur, terutama setelah AS mengisyaratkan dukungannya untuk Yunani.

Kerja sama diplomatik antara Turki dan Rusia juga meningkat di Libia, di mana kedua negara mendukung pihak-pihak yang saling berseberangan.Turki dan Rusia telah secara aktif terlibat dalam upaya menegosiasikan gencatan senjata antara Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui PBB dan pemberontakan Jenderal Khalifa Haftar.

Kerja sama Turki-Rusia juga semakin intensif di bidang pertahanan. Turki membeli sistem pertahanan rudal S-400 dari Rusia, meskipun ditentang para sekutu NATO. Turki juga telah membahas kemungkinan pembelian jet tempur Rusia Su-35 dan Su-57.

Tiga Skenario Untuk Idlib

Abu Mohammed al-Golani dari Komite Pembebasan Levant yang militan dan pemimpin afiliasi al-Qaeda Suriah membahas rincian peta medan perang di Aleppo, Suriah dengan komandan lapangan atas. Golani telah bersumpah untuk bertarung di provinsi Idlib, dalam menghadapi kemungkinan serangan pemerintah. (Foto: AP)

Di bawah tekanan untuk menghentikan serangan rezim pemerintah Suriah di Idlib dan pada saat yang sama untuk mempertahankan hubungannya dengan Rusia, Marwan Kabalan dari Al Jazeera berpendapat, Turki memiliki sedikit ruang untuk bermanuver. Pada titik ini, tampaknya ada tiga skenario yang mungkin terjadi.

Skenario pertama dan paling menguntungkan bagi Turki adalah Rusia setuju untuk menegakkan perjanjian zona deeskalasi di Idlib dan memerintahkan pasukan rezim Suriah untuk kembali ke posisi mereka sebelum serangan terbaru.

Skenario ini dapat dikombinasikan dengan kebangkitan kembali proses politik dan dimulainya kembali pertemuan-pertemuan komite konstitusional, yang ditugaskan untuk merancang amandemen konstitusi Suriah yang disetujui oleh rezim, oposisi, dan komunitas internasional.

Meskipun Turki telah mencoba untuk mendorong penyelesaian seperti itu dengan mengancam aksi militer jika rezim Suriah tidak mundur, kemungkinan itu terjadi sangat kecil.Skenario kedua adalah Turki menerima kenyataan baru di lapangan dan memungkinkan rezim Suriah mengendalikan jalan raya M4 dan M5, tetapi menggunakan kekuatan untuk mencegah kemajuan lebih lanjut.

Turki bisa berusaha untuk membangun “zona aman” di Idlib dengan mendirikan posisi pertahanan yang diperkuat di sepanjang garis depan dan memasok oposisi Suriah dengan senjata berat, terutama rudal anti-pesawat.Tampaknya Turki telah mengadopsi kebijakan ini mengingat dua helikopter rezim ditembak jatuh di Idlib dengan senjata anti-pesawat.

Skenario ketiga dan yang ingin dihindari Turki adalah eskalasi dengan Rusia. Kehadiran senjata anti-pesawat di darat meningkatkan risiko pesawat Rusia ditembak jatuh.Militer Turki kemungkinan akan mengambil tindakan pencegahan untuk menghindari perkembangan berbahaya seperti itu.

Namun, mengingat pengerahan pasukan besar-besaran di darat, situasi itu adalah yang paling dekat sejak 2015 dengan konfrontasi dengan pasukan Rusia.Sementara, Turki akan terus melangkah hati-hati dalam masalah Idlib, apa yang terjadi selanjutnya sangat tergantung pada apa yang diputuskan untuk dilakukan Amerika Serikat.

Sejauh ini AS telah mengirim sinyal campuran ke Turki.Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyatakan dukungannya untuk Turki.Demikian pula Perwakilan Khusus untuk Keterlibatan Suriah James Jeffrey.Namun, Pentagon menanggapi dengan menegaskan, “tidak ada perjanjian yang dibuat” mengenai AS mengambil langkah-langkah lebih konkret di Idlib.

Namun, sama seperti Rusia yang telah berusaha untuk memisahkan Turki dan sekutu-sekutu NATO-nya lebih jauh, AS dapat memutuskan untuk mengambil kesempatan untuk melakukan hal yang sama dengan pemulihan hubungan Turki-Rusia dengan mendukung operasi Turki di Idlib.

Bagaimanapun, Marwan Kabalan dari Al Jazeera menyimpulkan, harus ada keputusan besar yang diambil di Turki, Rusia, dan Amerika Serikat dalam beberapa minggu mendatang. Keputusan itu kelak dapat menentukan fase selanjutnya dari konflik Suriah.

Sumber: matamatapolitik.com

Editor: tom.

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!