HETANEWS

Para Dokter Minta Inggris Setop “Penyiksaan” Terhadap Julian Assange

Seorang demonstran mengenakan topeng pendiri Wikileaks, Julian Assange, dan baju narapidana, di luar Pengadilan Westminster di London, 19 Desember 2019.

Hetanews.com - Lebih dari 100 orang dokter, Senin (17/2/2020), menyerukan pada pemerintah Inggris untuk mengakhiri “penyiksaan” terhadap Julian Assange.Seruan itu muncul menjelang ekstradisi Assange ke Amerika untuk menghadapi persidangan atas tuduhan melakukan mata-mata.

Warga Australia yang berusia 48 tahun itu menghadapi 18 tuduhan kejahatan di Amerika, termasuk 17 tuduhan di bawah Undang-Undang Kegiatan Mata-Mata.Bila terbukti melakukan spionase, Assange bisa dihukum penjara selama 175 tahun.

Persidangan permintaan ekstradisi Amerika itu akan dimulai di pengadilan Woolwich, pada Senin (24/2/2020) depan, tidak jauh dari penjara Belmarsh di mana Assange ditahan.

Kelompok yang terdiri dari 117 dokter dan psikolog dari 18 negara menulis surat kepada majalah kesehatan Lancet dan mengatakan bahwa Assange mengalami siksaan dalam penjara itu.

“Kami mengutuk penyiksaan atas Assange, dan kami mengutuk penolakan pemberian layanan kesehatan yang layak baginya,” kata para dokter itu.

“Sejak dokter mulai memeriksa kesehatan Assange ketika ia tinggal di Kedutaan Besar Ekuador di London pada 2015, banyak laporan dan rekomendasi dokter untuk perawatan Assange telah diabaikan," kata para dokter itu lagi.

Pelapor khusus PBB tentang penyiksaan, Nils Melzer berulang kali memperingatkan bahwa Julian Assange telah mulai menunjukkan gejala bahwa ia mengalami siksaan psikologis.Assange sempat tinggal selama tujuh tahun di Kedutaan Besar Ekuador di London di mana ia mendapat suaka.

Polisi Inggris menangkap dan membawanya keluar dari kedutaan itu dan menahannya sejak April tahun lalu atas permintaan ekstradisi Amerika.Assange mulanya dicari oleh pengadilan Swedia atas tuduhan perkosaan, tuduhan yang kemudian dicabut secara resmi.

Assange sejak lama curiga bahwa ia akhirnya akan ditangkap oleh Amerika karena telah menerbitkan ribuan halaman dokumen rahasia pemerintah Amerika yang merinci tuduhan kejahatan perang yang dilakukan Amerika di Afghanistan dan Irak. 

Sumber: voaindonesia.com

Editor: tom.