HETANEWS

25 Perwira Polres Tebing Tinggi jadi Pembina Upacara di Sekolah-sekolah

Kasat Lantas Polres Tebing Tinggi, AKP Sarifuddin Siagian  saat menjadi pembina upacara. (foto/wh)

Tebing Tinggi, hetanews.com – Sebanyak 25 Perwira Polres Tebing Tinggi, menjadi pembina upacara, di sekolah, mulai dari  tingkat SMA dan SMP sederajat, di wilayah hukum Polres Tebing Tinggi, Senin(17/2/2020), sekira pukul 07.30 WIB.

Dari 25 Perwira itu, diantaranya Kasubbag Humas, AKP J. Nainggolan  sebagai Pembina Upacara di SMA KF Tendean, dan Kasat Lantas, AKP Sarifuddin Siagian di SD, SMP Terpadu Jalan Sutomo.

Adapun arahan dan bimbingan yang sama disampaikan  Kasubbag Humas, AKP J.Nainggolan dan Kasat Lantas Polres Tebing Tinggi, AKP Sarifuddin Siagian, di masing - masing sekolah dengan tema "Perilaku yang tidak sepatutnya dilakukan oleh anak remaja" karena perilaku tersebut seperti penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, balap liar dan bully”.

Dari contoh perilaku, lanjut AKP J. Nainggolan, perlu diberikan suatu gambaran khusus tentang perilaku bully atau perundungan.

Dimana kasus bully adalah perbuatan yang sangat tidak baik dan tidak terpuji. Karena akibat perbuatan itu, dampaknya sangat fatal, kata Nainggolan.

Adapun maksud dan tujuan Polres Tebing Tinggi hadir di setiap sekolah – sekolah, lanjut Siagian, untuk memberikan informasi sekaligus mengajak anak didik untuk tidak terjerumus pada perilaku yang tidak baik, khususnya kasus bully atau perlindungan.

Dimana berdasarkan data dari komisi perlindungan anak, antara 2011 – 2017, angka diperkirakan lebih tinggi dan banyak korban yang tidak melapor, katanya.

"Jelas..apabila anak - anak dan remaja menjadi korban perundungan, maka dampaknya sangatlah buruk. Dimana korban tersebut akan mengalami gangguan mental dan menjadi pengguna obat - obatan  terlarang dan prestasi akademiknya akan menurun. Dengan demikian, bagi siapa saja terduga sebagai pelaku bully atau perundungan akan ada sanksi hukumnya yang sudah tercantum didalam UU perlindungan anak Nomor 35 Tahun 2014, pasal (80) dengan ancaman minimal 5 tahun dan UU No 11 Tahun 2012 tentang perlindungan anak,”tegas Sarifuddin.

Untuk cara mengatasi peristiwa perundungan ada beberapa hal yaitu dengan ungkapan perasaan atau bercerita kepada orang yang dipercaya, tumbuhkan keberanian, berdamai dengan diri sendiri (lupakan kesedihan) dan jangan malu melaporkan kepihak yang berwenang.

Dengan demikian, jadilah polisi bagi diri sendiri, tutup para perwira di setiap sekolah.

Penulis: wh. Editor: gun.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.