HETANEWS.COM

Jokowi Dilarang ke Kediri, Demokrat Bandingkan dengan SBY

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Andi Arief menduga ada pesan mendalam usai Sekretaris Kabinet Pramono Anung melarang Presiden Joko Widodo ke Kediri, Jawa Timur.

Jakarta, hetanews.com - Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Andi Arief menduga ada pesan mendalam usai Sekretaris Kabinet Pramono Anung melarang Presiden Joko Widodo ke Kediri, Jawa Timur. Pramono melarang karena tak ingin Jokowi bernasib seperti Abdurrahman Wahid atau Gus Dur lengser sebagai Presiden pada 2001 silam.

"Ada pesan mendalam bahwa kekuasaan Pak Jokowi sedang dalam berbagai tekanan yang tidak mudah," ujar Andi melalui akun Twitter yang, Senin (17/2).

Andi menilai tak ada kaitannya antara Kediri dengan mitos lunturnya kekuasaan bagi penguasa. Menurutnya, Pramono sudah paham soal itu. Sebab Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dua kali mengunjungi Kediri selama dua periode sebagai Presiden.

"Tahun 2007, SBY mengunjungi Kediri. Kunjungan kedua di tahun 2014. Pak Pramono Anung sangat mengerti bahwa tidak ada hubungan Kediri dengan pudarnya kekuasaan Pak Jokowi," ujar Andi.

Tahun 2007, SBY mengunjungi Kediri. Kunjungan kedua di tahum 2014. Pak Pramono Anung sangat mengerti bahwa tidak ada hubungan Kediri dengan pudarnya kekuasaam Pak Jokowi. Ada pesan mendalam bahwa kekuasaan Pak Jokowi sedang dalam berbagai tekanan yang tidak mudah.

Pramono Anung melarang Presiden Jokowi berkunjung ke Kediri karena khawatir Jokowi bisa bernasib seperti Gus Dur yang lengser dari Presiden pada 2001 usai bertandang ke kota yang dia percaya sebagai daerah wingit alias angker bagi seorang presiden.

Pramono mengatakan demikian saat pidato di hadapan kiai sepuh pengasuh Ponpes Hidsyatul Mubtadien Lirboyo Kediri.

"Ngapunten kiai, saya termasuk orang yang melarang Pak Presiden untuk berkunjung di Kediri," ucap Pramono disambut gelak tawa para undangan, Sabtu (15/2).

"Saya masih ingat karena percaya atau tidak percaya, Gus Dur setelah berkunjung ke Lirboyo tidak begitu lama gonjang-ganjing di Jakarta," tambah Pramono.
 

sumber: cnnindonesia.com

Editor: sella.

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!