HETANEWS

Memahami Proses Karantina Coronavirus pada 238 WNI di Natuna

238 WNI sebelum masuk karantina coronavirus (dok. Kemlu)

Hetanews.com - Sebanyak 238 warga negara Indonesia (WNI) pulang ke Tanah Air pada Minggu (2/2). Penjemputan dilakukan setelah novel coronavirus mewabah di Kota Wuhan, Tiongkok, sejak sebulan terakhir. Mereka menjalani karantina di kompleks militer di Natuna, Kepulauan Riau, selama 14 hari sebelum dikonfirmasi bersih dari coronavirus.

Kepulangan para WNI dari Kota Wuhan sebenarnya tidak terlepas dari penolakan warga setempat. Mereka menilai lokasi barak karantina terlalu dekat dengan tempat tinggal warga sehingga mereka berisiko terjangkit coronavirus. Lantas, apa sebenarnya yang terjadi selama karantina? Apakah proses ini bisa mengatasi wabah dengan baik?

Pentingnya karantina untuk mencegah penyebaran coronavirus

Indonesia bukan negara pertama yang menerapkan barak karantina guna mencegah penularan novel coronavirus. Tiongkok sebelumnya melakukan karantina terhadap Kota Wuhan dan beberapa negara lain telah membatasi kunjungan dari luar negeri ke wilayahnya.

Sejak wabah Black Death pada abad ke-14, karantina memang menjadi salah satu cara paling efektif guna mencegah penularan penyakit. Berkat karantina, penularan penyakit dapat dibatasi. Orang-orang yang diduga terinfeksi juga bisa dideteksi dengan mudah.

Karantina mungkin identik dengan prosedur medis yang ketat. Namun, karantina pada zaman modern kini dikelola oleh pemerintah atau badan kesehatan dengan prosedur yang sesuai. Hal yang sama juga terjadi pada proses karantina coronavirus di Natuna.

Masyarakat mungkin cemas mengetahui karantina dilakukan di wilayahnya. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa karantina berbeda dengan isolasi. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), berikut perbedaan keduanya:

1.Isolasi memisahkan orang yang terkena penyakit menular dari orang-orang yang masih sehat.

2.Karantina memisahkan dan membatasi ruang gerak orang-orang yang terpapar penyakit untuk melihat apakah mereka tertular.

Ini berarti para WNI yang menjalani karantina di barak belum tentu terjangkit novel coronavirus. Karantina justru bermanfaat karena tenaga kesehatan yang bertugas bisa mengobservasi para WNI untuk memastikan apakah mereka sehat atau terinfeksi.

Apabila salah satu WNI terbukti terinfeksi novel coronavirus, tenaga kesehatan di barak karantina dapat memberikan perawatan seoptimal mungkin. Orang-orang yang berada di tempat karantina pun terbatas sehingga virus berkode 2019-nCoV ini tidak bisa menyebar lebih luas lagi.

Apa yang terjadi selama masa karantina novel coronavirus?

238 WNI sebelum masuk karantina coronavirus (dok. Kemlu)

Sebelum terbang ke Indonesia, rombongan WNI dari Wuhan telah diperiksa kondisinya sesuai standar World Health Organization (WHO) dan dinyatakan sehat untuk pulang. Mereka lalu dijemput oleh satu tim yang terdiri dari lima orang.

Sebelumnya, jumlah WNI yang hendak dipulangkan ke Indonesia adalah 245 orang. Akan tetapi, tiga orang batal dipulangkan karena tidak sehat dan empat di antaranya menolak pergi dari Wuhan. Dengan begitu, rombongan WNI yang akan menempati barak militer di Natuna untuk karantina coronavirus berjumlah 238 orang.

Begitu tiba di Bandara Hang Nadim, Kepulauan Riau, rombongan WNI langsung keluar dari pesawat dan dijemput kembali menggunakan tiga pesawat milik TNI AU di Natuna. Namun, mereka tidak langsung dibawa ke barak karantina karena harus dipastikan steril dari coronavirus terlebih dulu.

Setelah turun dari pesawat, satu demi satu WNI disemprot dengan cairan desinfektan. Prosedur yang berlangsung selama satu jam ini bertujuan untuk mensterilkan para WNI sekaligus mengurangi risiko paparan novel coronavirus di barak karantina nantinya.

Rombongan WNI kemudian dibawa ke pangkalan militer Natuna untuk menjalani masa karantina selama 14 hari. Di sini, tenaga kesehatan akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan mengambil sampel dari hidung, tenggorokan, dan saluran pernapasanMasa karantina tersebut didasarkan pada masa inkubasi dari coronavirus.

Masa inkubasi adalah jangka waktu antara infeksi virus dan munculnya gejala pertama. CDC memperkirakan novel coronavirus memiliki masa inkubasi selama 2-14 hari.Ini berarti seseorang mungkin saja terinfeksi novel coronavirus, tapi baru menunjukkan gejala pada dua hingga 14 hari kemudian.

Dengan masa karantina selama 14 hari, WNI di barak yang terinfeksi coronavirus akan terdeteksi karena gejalanya tentu muncul selama periode tersebut.Begitu pun sebaliknya. Jika selama masa karantina tidak ada WNI yang menunjukkan gejala dan tidak ada yang memiliki hasil pemeriksaan positif novel coronavirus, mereka kemungkinan besar akan segera diizinkan pulang.

Mengapa Natuna dipilih menjadi tempat karantina?

WNI saat dievakuasi dari Tiongkok (dok. Kemlu)

Ada beberapa alasan mengapa Natuna dipilih menjadi tempat karantina bagi para WNI dari Wuhan. Alasan pertama adalah karena Natuna terletak di kepulauan yang jauh dari pemukiman warga. Hal ini akan menurunkan potensi virus menyebar lebih jauh, bila memang ada WNI yang positif terinfeksi.

Alasan kedua yakni karena Natuna memiliki pangkalan militer dengan fasilitas rumah sakit yang dikelola oleh TNI Angkatan Darat, Laut, dan Udara. Fasilitas tersebut mampu menampung hingga 300 pasien dan cukup bagi WNI yang menjalani karantina coronavirus di barak.Tidak hanya itu, jarak antara rumah sakit dan landasan pacu di pangkalan militer pun sangat dekat.

Kondisi ini memungkinkan pemerintah untuk menyediakan sarana dan prasarana yang memadai selama proses karantina berlangsung.Barak militer tempat karantina dilakukan sebenarnya hanya berjarak dua kilometer dari pemukiman warga, tapi hal ini tidak membuat warga rentan terinfeksi novel coronavirus.Pasalnya, novel coronavirus hanya bisa terbawa sejauh dua meter.

Setelah itu, virus akan jatuh, tidak seperti virus tuberkulosis yang bertahan hingga puluhan meter.Dengan demikian, warga tidak perlu merasa panik. Proses karantina akan dilakukan seaman mungkin sehingga kesehatan dan pergerakan setiap orang selalu terpantau. Warga setempat dapat melakukan upaya pencegahan dengan rutin mencuci tangan menggunakan sabun dan menggunakan alat pelindung saat bepergian.

Sumber: hellosehat.com

Editor: tom.