HETANEWS.COM

Kisah Mantan Pengikut ISIS 300 Hari Bertaruh Nyawa di Suriah

Febri Ramdani, mantan pengikut ISIS

Jakarta, hetanews.com - Kisah dramatis Febri Ramdani dimulai sejak 31 Juli 2015. Kala itu sang ibu bersama kakak perempuan satu-satunya meninggalkan rumah. Dalih yang disampaikan ke luar kota untuk mengobati penyakit kakaknya. Tapi 2-3 hari, sepekan, hingga berbulan kemudian keduanya tak kembali tanpa kabar.

Tak cuma cemas, Febri pun mulai depresi hidup seorang diri. Apalagi om-tante dan kerabat lainnya pun mendadak menutup diri. Tak satu pun dari mereka yang bisa dihubungi. Febri hidup sebatang kara di kawasan Jakarta Selatan.

Ketika mengutak-atik komputer, lelaki kelahiran Jakarta 19 Februari 1994 itu curiga. Ibu dan keluarga besarnya bukan ke luar kota tapi ke luar negeri. Dari jejak di komputer terbaca situs-situs biro wisata dengan tujuan Turki. Juga promosi pemerintahan ISIS di bawah kendali Abu Bakr Al-Baghdadi. Sebuah negeri bak surga dengan penerapan syariat Islamnya. Kontras dengan kondisi perekonomian keluarga Febri yang sedang terpuruk.

"Saya pribadi nggak percaya soal kehidupan yang serba indah di Suriah. Tapi ketika menemukan situs-situs yang mempromosikan itu, akhirnya tergoda juga," ujarnya kepada tim Blak-blakan.

Tapi alasan terkuat yang mendorongnya untuk ke Suriah adalah kerinduannya kepada sosok ibu. "Saya kangen ibu, mau menebus kesalahan. Karena sebelum pergi, saya sempat marahan lah sama ibu," imbuhnya.

Dengan menjual semua barang yang ada di rumah, pada September 2016 Febri pun nekad menyusul mereka. Setelah sepekan berada di Turki dan berlagak hidup ala turis, dia mendapatkan penghubung yang membawanya ke perbatasan Suriah. Di sana sudah ada beberapa orang asing dari Eropa Timur yang punya tujuan sama. Sebelum naik ke bus, semua identitas dan perbekalan harus ditinggal.

"Saya cuma bawa barang satu ransel. Selebihnya disita di perbatasan," ujar Febri.

Rupanya Febri dan rombongan masuk perangkap salah satu faksi ISIS. Selama sebulan mereka ditahan dan menghadapi sejumlah intimidasi agar mau ikut berperang. "Mereka terus membujuk kami sambil mengintimidasi, kalau tidak mau akan dibunuh, dipenggal," ujar Febri.

Dari situ perjalanan berlanjut ke daerah lain, hingga tiba di Raqqah. Di kota ini ternyata ada orang Indonesia yang menjadi pengurus salah satu faksi ISIS. Dari WNI itulah Febri akhirnya bisa bertemu ibu dan keluarga besarnya. Tapi dengan syarat: cuma boleh dua hari, setelah itu harus ikut pelatihan militer.

Febri beruntung. Kondisi fisik dan kesehatannya ringkih. Diare dan muntah-muntah kerap menimpanya. Ia pun lolos dari kewajiban latihan militer karena 'berkah' tersebut.

Soal lika-liku perjalanannya bertaruh nyawa masuk ke wilayah yang dikuasai ISIS, ia paparkan dalam memoar bertajuk "300 Hari di Bumi Syam: Perjalanan Seorang Mantan Pengikuti ISIS". Buku itu diluncurkan dan dibedah Yon Mahmudi, PhD, Ketua Prodi Kajian Wilayah Timur Tengah dan Islam UI, serta pengamat Timur Tengah dan Terorisme M. Syauqillah, PhD.

Singkat cerita, setelah lolos dari satu faksi ke faksi lain di wilayah ISIS, Febri dan keluarga berhasil menyusup ke perbatasan untuk menyerahkan diri ke SDF (Syirian Democratic Forces). Mereka ditahan selama dua bulan sebelum diserahkan ke UNHCR dan perwakilan Indonesia di Irak. Febri bersama ibu dan 16 orang kerabatnya tiba di Jakarta pada 13 Agustus 2017. Selama sebulan mereka mengikuti program deradikalisasi oleh BNPT di Sentul.

"BNPT membantu kami kembali ke masyarakat dan diterima dengan baik. Kalau pun ada yang menghujat, itu cuma di internet aja," ujar Febri.

Kini ia melanjutkan kuliah di fakultas sastra sebuah perguruan tinggi swasta. Di sela kuliah dia juga aktif menyerukan perdamaian lewat sebuah LSM yang didirikan aktivis Noor Huda Ismail.

Simak selengkapnya kisah Febri Ramadan selama 300 hari tinggal di wilayah ISIS dalam program Blak-blakan, "Tertipu Janji Surga ISIS", Jumat, 14 Februari 2020.

sumber: detik.com

Editor: sella.

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!

Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!