HETANEWS

“Puncak Pelangkah Gading” Andalan Wisata Karo

Puncak pelangkah gading (analisadaily.com)

Karo, hetanews.com - Beragam potensi daerah tujuan wisata (DTW) andalan di Kabupaten Karo masih ter­abaikan, di antaranya gua Li­ang Ndahar di Desa Laubuluh, Kecamatan Kutabuluh dan “Puncak Pelangkah Gading” (PPG) kawasan bukit wisata alam beragam potensi di Desa Kutambaru, Kecamatan Mun­te.

Alamnya berbukit dengan luas 40 hektare, lebih menanti sentuhan pembangunan dan “polesan” untuk memikat wi­satawan. “Pelangkah gading” daerah tujuan wisata unggulan masa depan di Karo, ujar Jon Karya Sukatendel, Onasis Sitepu dan Jidin Ginting SH, anggota DPRD Karo, Sabtu (9/2) kepada Analisa di Ku­tam­baru.

Kepala Desa Kutambaru Benyamin Meliala menga­takan, lokasi wisata Puncak Pelangkah Gading akan dija­dikan usaha milik desa. Lokasi wisata ini juga strategis seba­gai tempat peternakan kam­bing, sapi dan taman bunga. Sebagai wisata edukasi, arena motor cross, camping, lintas alam, out bond, home stay dan kuliner.

Lokasi PPG strategis tem­pat shooting,­ selfi. Sebab, dari lokasi ini dapat memandang sisi sejumlah wilayah Tanah Karo. Termasuk lereng dan puncak Gunung Sinabung, De­leng Kutu, jelas kepala desa.

Potensi pertaniannya juga dapat dimanfaatkan kelak un­tuk menanam sayur dan kopi organik. Minuman kopi khas Karo nantinya dapat dinikmati dari agrowisata ini. Karena po­tensi ini, sejumlah pejabat pemerintah pusat dan daerah sudah meninjau dan memuji­nya. Sebab, potensi ini hebat namun masih diabaikan.

“Seperti tinjauan Ibu Mi­nar­ni dari Kemendes didam­pingi tim televisi swasta nasional. Tim Departemen Kehuta­nan, Dekan Fakultas Kehutanan USU. Mereka sempat mem­buat kajian ekonomi, untung-rugi budidaya usaha di Pelang­kah Gading. Motivasi ma­syarakat desa untuk memulai membenahi Pelangkah Gading ini juga dorongan Asisten, Kepala BPMD Karo, Abel Tarigan berikut dukungan disertai peninjauan Kepala Bapeda Karo Nasib Sianturi, Kadis PUPR Paten Purba dan juga anggota DPRD Karo dan anggota DPRD Sumut belum lama ini, jelas Benyamin Meliala.

Editor: suci.