HETANEWS

Grab Respons Soal Dugaan Kasus Penculikan Trik Marketing

Ilustrasi penculikan

Jakarta, hetanews.com - Grab Indonesia mengklarifikasi soal kecurigaan kasus penculikan pelanggan GrabCar yang disebut sebagai trik pemasaran (marketing).

Sebagian kalangan curiga kasus ini merupakan strategi pemasaran layanan transportasi online untuk mempopulerkan fitur tombol darurat pada aplikasi Grab ke masyarakat. Pasalnya, sejumlah netizen menganggap ada sejumlah keganjilan dalam kasus tersebut.

Seorang netizen mempertanyakan keanehan sopir Grab yang mengaku salah jalan dan keanehan pengakuan kesalahan GPS. Ia pun mempertanyakan pengakuan penumpang yang menyebut kalau pengemudi berbisik-bisik saat ia tengah panik karena dibawa ke rute yang berbeda dari tujuan.

"Bukan marketing. Peristiwa kemarin memang benar terjadi," jelas Public Relations Manager Grab Andre Sebastian, saat dihubungi lewat pesan teks, Selasa (12/2).

Hal ini diungkap Andre setelah sebelumnya hanya memberikan emotikon senyum saat dikonfirmasi. Ia pun tak memberikan keterangan tambahan ketika ditanyakan lebih lanjut terkait jawaban tersebut.

Kasus dugaan penculikan seorang penumpang taksi online, Istiani, berakhir damai. Istiani sempat melaporkan kasus dugaan penculikan itu ke Polda Metro Jaya. Namun, setelah pengemudi ditangkap, ia pun mencabut laporan tersebut, Selasa (11/2).

Heboh kasus dugaan penculikan ini bermula dari penumpang GrabCar, Istiani yang membagikan pengalaman buruknya saat memesan Grab pada Kamis (6/2). Dia memesan Grabcar menuju dua titik, yaitu kantornya di kawasan Jakarta Selatan, lalu melanjutkan ke titik kedua di kawasan BSD, Serpong, Tangerang Selatan.

Di tengah perjalanan, Ia curiga pasalnya rute yang diambil driver tidak sesuai dengan tujuan. Penumpang lantas memencet tombol darurat (emergency button) di aplikasi Grab dan melaporkannya ke operator.

Sementara itu, sopir Grab yang diduga melakukan penculikan, Imam, mengaku baru satu bulan berprofesi sebagai pengemudi taksi online. Ia mengaku saat itu melakukan kesalahan yang akhirnya membuat Istiana selaku penumpang merasa panik.

Sementara itu, Imam mengaku peta pada aplikasinya mengalami gangguan alias error saat mengantarkan Istiana. Alhasil, ia salah memilih jalan. Di saat yang sama, penumpang merasa bakal diculik.

Imam yang berasal dari Brebes, Jawa Tengah, mengaku tak terlalu memahami wilayah Jakarta Selatan. Dia pun memohon maaf atas keributan karena kesalahpahaman antara dengan Istiana.

sumber: cnnindonesia.com

Editor: sella.