HETANEWS

Izin Berobat, Tahanan KPK Ini Malah Salahgunakan untuk Perawatan Wajah

Orang kepercayaan I Nyoman Dhamantra, Mirawati Basri mengenakan rompi tahanan seusai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (9/8/2019). KPK menahan enam orang tersangka pada Operasi Tangkap Tangan (OTT) terkait kasus dugaan pengurusan kuota dan izin impor bawang putih tahun 2019 dengan barang bukti uang 50 ribu dolar Amerika serta bukti transfer sebesar Rp2,1 miliar. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com )

Hetanews.com - Seorang tahanan yang perkaranya tengah didakwaan Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dikabarkan berulah. Musababnya, tahanan perkara kasus dugaan korupsi impor bawang putih atas nama Mirawati Basri ini, menyalahgunakan izin berobat yang diajukannya ke hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), untuk perawatan wajah.

Berdasarkan informasi yang dihimpun JawaPos.com, ihwal adanya kasus ini, Mirawati melalui penasihat hukumnya mengajukan izin berobat ke majelis hakim. Di dalam surat pengajuan tersebut, Mirawati meminta agar dirinya diizinkan melakukan fisioterapi di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta Pusat.

Atas pengajuan izin tersebut, hakim mengabulkan dan menetapkan izin berobat tersebut pada Jumat (24/1) lalu. Namun sayangnya, bukannya menggunakan izin berobatnya dengan benar, Mirawati dikabarkan malah menggunakannya untuk perawatan wajahnya.

Tak tanggung-tanggung, dari perawatannya wajah tersebut, Mirawati harus merogoh kocek yang cukup besar, yakni sekitar Rp 2,8 juta. Namun lucunya, Mirawati justru tak mampu membayar tagihan tersebut, dan terpaksa harus utang ke pihak klinik perawatan wajah tersebut.

Dikonfirmasi perihal adanya kabar penyalahgunaan izin berobat yang dilakukan tahanannya, Plt Juru bicara KPK Ali Fikri mengaku belum mengetahui adanya informasi ini. “Saya mesti cek dulu mas,” kata ALi kepada JawaPos.com, Minggu( 2/2).Sementara itu, atas pelanggaran SOP ini, terdakwa Mirawati pun akan mendapatkan sanksi yang tegas dari Karutan KPK.

Dalam kasus ini, sebelumnya I Nyoman Dhamantra didakwa menerima suap sebesar Rp 3,5 miliar terkait pengurusan impor bawang putih. Anggota DPR RI periode 2014-2019 ini didakwa menerima suap dari pihak swasta

“Terdakwa I Nyoman Dhamantra selaku anggota DPR RI Komisi VI periode 2014-2019 bersama-sama dengan Mirawati dan Elviyanto menerima hadiah uang sebesar Rp 2 miliar dan janji uang sebesar Rp1,5 miliar dari Chandry Suanda bersama-sama Dody Wahyudi dan Zulfikar,” kata Jaksa penuntut umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Takdir Suhan, membacakan surat dakwaan di PN Tipikor Jakarta, Selasa (30/12).

Jaksa menjelaskan, suap itu berasal dari tiga pengusaha, yaitu Direktur PT Cahaya Sakti Agro, Chandry Suanda alias Afung, Dody Wahyudi dan Zulfikar. Tujuan penerimaan suap tersebut adalah agar Nyoman membantu pengurusan Surat Persetujuan Impor (SPI) bawang putih di Kementerian Perdagangan dan Rekomendasi Impor Produk Holtikultura (RIPH) di Kementerian Pertanian untuk kepentingan Chandry Suanda alias Afung.

Kasus bermula saat Afung berniat mengajukan kuota impor bawang putih untuk 2019. Afung mengajukan permohonan impor melalui empat perusahaannya, yaitu PT Perkasa Teo Agro, PT Citra Sejahtera Antarasia, PT Cipta Sentosa Aryaguna dan PT Abelux Kawan Sejahtera. 

Dia bekerja sama dengan PT Pertani untuk memenuhi kewajiban wajib tanam 5 persen sebagai syarat diterbitkannya Rekomendasi Impor Produk Holtikultura (RIPH). Dalam dakwaan Jaksa, Dody pernah bertemu dengan Nyoman Dhamantra pada awal 2019. Dalam pertemuan itu, Dody membicarakan terkait pengurusan impor bawang putih. 

Nyoman disebut meminta Dody membicarakan teknis pengurusan impor dengan Mirawati. Kemudian, Dody menawarkan jalur pengurusan impor bawang putih melalui Nyoman dan Mira kepada Afung. Lantas Dody melakukan pertemuan dengan sejumlah orang, termasuk Nyoman, Mirawati dan Elviyanto untuk membahas pengurusan ini.

Dalam salah satu pertemuan disepakati total uang komitmen dalam pengurusan ini ialah Rp 3,5 miliar.Usai melakukan beberapa pertemuan, jaksa mengatakan, Doddy, Zulfikar, Indiana, Elviyanto dan Ahmad Syafiq bertemu untuk membahas teknis pengiriman commitment fee untuk I Nyoman. Selanjutnya, pihak Doddy mengirimkan uang Rp 2 miliar ke rekening money changer atas nama Daniar Ramadhan dan membuat rekening baru untuk memasukkan uang Rp 1,5 miliar.

Dalam pengurusan impor bawang ini, terbongkar melalui operasi tangkap tangan yang dilakukan KPK pada 7-8 Agustus 2019. Tim KPK menangkap para terdakwa di lokasi berbeda. Nyoman ditangkap di bandara Soekarno-Hatta pada 8 Agustus 2019, sepulangnya dari kongres PDIP.

Atas perbuatannya, Nyoman Dhamantra didakwakan pasal 12 ayat (1) huruf a atau pasal 11 UU No 31 tahun 1999 sebagaimana diubah UU No 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Sumber: jawapos.com

Editor: tom.