HETANEWS

Siantar Rekreatif, Berkembang dari Yang Ada

Penulis: Drs Rikanson Jutamardi Purba, Ak

Penggagas KoRaSSS (Koalisi Rakyat untuk Siantar-Simalungun Sejahtera)

Merriam-Webster mendefinisikan rekreasi sebagai kegiatan untuk bersantai atau bersenang-senang: kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan.

Letak Pematangsiantar yang strategis, dekat Danau Toba, dikepung perkebunan dan pertanian,

bersuhu udara sejuk, budaya masyarakatnya beragam, serta infrastrukturnya tidak jelek-jelek amat,

membuat kota ini sangat mungkin menjadi kota rekreasi/wisata

atau –paling tidak– penyangga wisata.

Sektor pariwisata dapat diandalkan untuk menggerakkan ekonomi.

Siantar, hetanews.com– Ketika Siantar butuh terobosan, pemimpinnya dan juga masyarakatnya – harus mulai melatih diri terhadap sesuatu yang tidak biasa atau berbeda. Data 2010 menyebutkan, ekonomi Siantar ditopang oleh dua sektor besar, yakni industri besar dan sedang (kontribusinya sebesar 38,18 persen) serta  sektor perdagangan, hotel, dan restoran (kontribusinya 22,77 persen). Tapi beleid pemerintah pusat yang menjadikan Sei Mangkei, Kabupaten Simalungun, menjadi kawasan ekonomi khusus (KEK), membuat Siantar perlu mengubah orientasi.

Selain itu, ada beberapa tantangan yang perlu dihadapi. Luas Siantar yang hanya 79,97 km persegi akan menjadi sumpek jika dijejali lagi dengan industri. Ibaratnya, Anda berjejal di dalam angkot yang padat penumpang sembari asap knalpotnya masuk ke dalam kabin. Selain kota rekreatif, Siantar tetap lebih tepat diarahkan menjadi kota perdagangan dan jasa serta kota pendidikan. Ada aspek strategisnya letak Siantar dan aspek historis yang harus dijadikan variabel utama membangun kota ini.

Berkembang dari yang ada

Supaya tidak tumpang-tindih, istilah rekreasi kita padukan saja dengan leisure (santai) menjadi wisata. Dalam topik “Siantar Produktif” nantinya, akan tampak hal-hal positif apabila pemerintah dan juga masyarakat Siantar bekerja keras dan cerdas selama lima hari kerja pertama setiap minggu dan berekreasi di hari Sabtu dan Minggu. Dengan begitu, akan diperoleh masyarakat yang bisa berjuang untuk hidup sekaligus menikmati hidup. Bukankah sudah ada Indeks Kebahagiaan dan Indeks Kenyamanan Kota yang dijadikan sebagai indikator keberhasilan suatu kota?

Wisata spiritual, kultural, historikal, ekowisata dan agrowisata, medical tourism, wisata kuliner, wisata belanja, dll. menjadi potensi besar rekreasi/wisata kota ini. Siantar menjadi pusat beberapa gereja yakni GKPS, GKPI, HKI, dll. Ada katedral di desa Bane. Ada mesjid raya di jalan Mesjid, Timbanggalung. Ada pula kuil Hindu dan vihara Budha Avalokitesvara lengkap dengan patung Dewi Kwan Im yang terbesar di Asia Tenggara.  

Yang belum digarap maksimal adalah wisata kultural. Sebenarnya, Siantar yang multikultural ini dapatlah menyelenggarakan Festival Budaya Siantar secara tahunan menyongsong hari jadi. Bukan seperti selama ini, hanya bersifat seremonial menghabiskan anggaran karena sudah terlanjur tercantum dalam nomenklatur APBD dengan sekadar mendatangkan artis-artis ibukota Jakarta. Belum pernah diselenggarakan festival/karnival yang meriah dan unik atau khas Siantar, seperti festival Jember itu.

Museum Simalungun tampak merana, seperti kerakap tumbuh di batu. Stasiun kereta api Siantar dan beberapa bangunan di sekitarnya yang bergaya art deco tidak memeroleh sentuhan yang menarik sebagai objek wisata. Bahkan, balai kota –tempat walikota berkantor pun– dibiarkan lumutan. Juga Gedung Nasional dan Siantar Hotel. Belum lagi becak BSA yang ikonik itu. Bukankah itu semua peninggalan sejarah yang menarik?

Jika seandainya pemerintah kota Siantar jeli, DAS dan sungai Bah Bolon –jika ditata ulang– dapat menjadi objek ekowisata yang menarik. Masih ada lagi potensi lain seperti taman bunga, umbul di belakang USI, dll. Bahkan persawahan Marimbun dan Sabah Dua, kebun sawit Marihat, serta kebun karet Tapian Dolok –meskipun sedikit di luar wilayah administratif Kota Pematangsiantar– sebenarnya bisa dibuat menguntungkan secara ekonomis bagi kota ini.

Sebagaimana Penang, Siantar juga layak mengembangkan medical tourism. Ada paling sedikit enam rumah sakit tipe C-B yang jika kemudian pemerintah membentuk dan mengaktifkan Dewan Kesehatan Kota untuk mengintegrasikan dan mensinergikan layanan rumah sakit dengan layanan wisata, maka dapat diwujudkan medical tourism itu. Pembukaan tol Medan – Kualanamu – Tebingtinggi – Parapat harus dimanfaatkan demi kepentingan masyarakat kita.

Siantar juga kaya dengan kuliner lokal yang khas. Di antaranya: roti Ganda, roti ketawa Sambo, sarikaya Sedap, kacang tumbuk Asli, kopi Kok Tong, tuak Bius Cantik, pansit, hinasumba (na niholatan), serta ikan panggang, arsik, dan na niura. Hanya saja, selama ini tak tampak sentuhan pemerintah untuk memfasilitasi pengembangannya. Siantar Walk di stasiun kereta api makin sepi, Siantar Square, dan Pujasera belum dapat menyamai food court yang ada di Medan atau Batam.

Kota berpenduduk 236.947 jiwa (2012) ini telah memiliki ritel besar seperti hypermart, gerai Ramayana, butik, beberapa supermarket, dan sub-terminal agribisnis yang memudahkan masyarakat berdagang bahan pangan dan komoditas hortikultura. Masyarakat hinterland (daerah yang mengelilingi Siantar) sangat mudah mengakses kota ini untuk berbelanja kebutuhan keluarga. 

Dukungan untuk wisata memang sudah sudah lumayan. Siantar memiliki paling tidak 8 hotel berbintang, 10 hotel melati, dan 268 restoran. Ada pula beberapa kafe yang memadai. Transportasi kota cukup dan taksi antar-kota lengkap. Masalahnya selama ini, pemerintah kota tak berinisiatif untuk memfasilitasi pengembangannya dan membuat terobosan.

Setelah bekerja keras dan cerdas, masyarakat Siantar dan hinterland butuh rekreasi, sehingga dari kepala muncul terus-menerus ide/gagasan yang kreatif dan inovatif serta terobosan-terobosan baru mengembangkan kota ini.

“Andai aku Walikota Siantar,” kata Penulis, “aku akan serius sekali mewujudkan Siantar sebagai kota rekreatif.”

Penulis: ebp. Editor: ebp.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.