HETANEWS

Tidak Mau Menyerahkan Diri, Kejari Simalungun Eksekusi Oppung JS dari Rumahnya

Kasi Pidum, Irvan Maulana saat menjelaskan eksekusi Op. JS hingga dibawa ke Lapas. (foto/ay)

Simalungun, hetanews.com - Tim jaksa dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Simalungun, mengeksekusi Jonni Siahaan alias Oppung JS (69), dari rumahnya, di perumahan Cinta Maju, Kecamatan Tapian Dolok Simalungun, Senin (27/1/2020).

Oppung JS dieksekusi, terkait putusan MA No.386 K/Pid/2016, untuk menjalani pidana selama 2 tahun.

Putusan Mahkamah Agung itu, menguatkan putusan Pengadilan Negeri (PN) Simalungun. Sedangkan Dedy Chandra Siahaan alias Dedy (28) yang merupakan anak JS, sudah melarikan diri.

Menurut JS, anaknya sudah ke luar negeri, ujar Kasi Pidum, M.Irvan Maulana, ketika dikonfirmasi wartawan, siang itu, di kantornya.

Menurut ketua tim eksekusi, Hiras Affandi Silaban, jika pihaknya telah melayangkan surat pemberitahuan 3 kali. Tapi tampaknya, terpidana tak punya itikad baik untuk menyerahkan diri. Sehingga tim jaksa langsung menangkap Op. JS, di rumahnya.

"Terpidana langsung dibawa ke kantor dan setelah dicek kesehatannya, dibawa ke Lapas Klas IIA Siantar untuk menjalani pidana,"jelas Hiras.

Op. JS dan anaknya Dedy, telah terbukti melanggar pasal 170 ayat (2) KUH Pidana. Keduanya bersama Jefri Rahman Siahaan (dihukum dalam peradilan militer) terbukti melakukan penganiayaan.

Para terpidana terbukti melakukan pengeroyokan terhadap saksi korban, Feri Budiman Daulay, bersama Dedi Wijaya dan Ian Ardiansyah Simanjuntak.

Penganiayaan itu, terjadi pada Sabtu (14/3/2015) lalu, sekira pukul 14.00 WIB. Saat itu, Op. JS sedang melangsungkan pernikahan anaknya, Jevi, di Perumahan Cinta Maju, Kecamatan Tapian Dolok.

Lalu, ketiga saksi korban, Feri Budiman Daulay, bersama Dedi Wijaya dan Ian Ardiansyah Simanjuntak, datang ke pesta dan mengambil foto pernikahan anak terdakwa. Setelah mengambil foto, ketiganya sempat berpamitan kepada Op. JS, selaku orangtua pengantin.

Namun masih melangkah 5 meter dari pelaminan, ketiganya dicegat oleh terdakwa dan menanyakan undangan pesta kepada mereka. Karena ketiganya tidak bisa menunjukkan undangan, mereka pun diajak masuk ke dalam rumah.

Ketiga saksi korban digeledah dan ditemukan camera digital, 2 unit handphone, 4 keping CD komputer, 1 buah charger, 1 buah flasdisk dan 1  unit handphone tablet dari dalam tas mereka.

Selanjutnya, para terpidana memukul ketiganya, menggunakan kayu. Lalu ditendang, dan ketiga korban juga diikat dengan dengan menggunakan tali tambang sambil terus dipukuli.

Sebelumnya, Op. JS dan Dedy dituntut 4 tahun penjara, tapi divonis 2 tahun oleh hakim Pengadilan Negeri Simalungun. Putusan banding dan kasasi menguatkan putusan tersebut.

Penulis: ay. Editor: gun.