HETANEWS

Kasus Sapi Mati Mendadak Belum Diketahui Penyebabnya

Petugas sedang mengevakuasi ternak yang mati mendadak di Gunungkidul.

Yogyakarta, hetanews.com - Peristiwa hewan ternak yang mati mendadak terus terjadi di wilayah Gunungkidul. Sepanjang hari Sabtu (25/1/2020) kemarin setidaknya ada 3 ekor sapi mati mendadak tanpa diketahui penyebabnya.

Berulangnya peristiwa hewan ternak yang ini juga membuat petugas dari Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul merasa kewalahan menangani peristiwa tersebut. Jumlah petugas peternakan yang minim membuat mereka kewalahan.

Hari Sabtu kemarin, tiga peristiwa sapi mendadak di tiga kecamatan berbeda dan letaknya berjauhan. Tiga peristiwa sapi mati mendadak terjadi di Kecamatan Saptosari, Ngawen dan Karangmojo.

Camat Karangmojo, Marwata Hadi, membenarkan adanya peristiwa tersebut. Sapi yang mati tersebut adalah sapi milik Arif warga Desa Ngawis. Sapi tersebut adalah salah satu dari 4 sapi yang dipelihara oleh Arif.

"Jenisnya sapi metal yang berusia 2 tahun. Sudah ada yang menawar Rp 33 juta," ujarnya ketika dikonfirmasi, Minggu (26/1/2020)

Sapi tersebut sudah jatuh sakit tanggal 22 Januari 2020 lalu dan tanggal 23 Januari telah diobati oleh dokter hewan. Namun suhunya tetap tinggi dan kesehatannya terus menurun.

Sabtu pagi ketika pemiliknya hendak memberi makan sapi tersebut, ternyata sudah mati. Petugas yang menanganinya sempat kewalahan untuk mengevakuasi sapi karena ukurannya yang cukup besar.

"Untuk menguburnya perlu alat berat," ungkapnya.

Kepala Seksi Kesmavet DPP Gunungkidul, Retno Widiastuti, mengungkapkan hewan ternak yang mati mendadak terus terjadi. Setiap kematian hewan ternak mendadak harus ditangani sesuai prosedur.

"Kami harus menangani sesuai SOP. Harus pakai pakaian pelindung seperti astronot itu. Menguburnya pun harus sesuai standar yang ditetapkan. Selain itu harus diambil sampel darahnya dan juga lingkungannya," terangnya.

Ia mengakui jika petugas kesehatan hewan ataupun kesmavet di DPP sangat minim. Saat ini baru ada 25 petugas kesehatan hewan dan 21 dokter hewan. Jumlah tersebut sangat minim jika dibandingkan dengan populasi sapi serta luas area Gunungkidul.

Ia mengungkapkan, jumlah populasi sapi mencapai 152 ribu ekor. Idealnya, 1 petugas medik ataupun dokter hewan menangani 2 ribu ekor sapi. Namun di Gunungkidul hanya ada 25 petugas, tentu jumlah tersebut sangat minim.

"Apalagi luas wilayah Gunungkidul mencapai 46 persen luas DIY, dan jumlah ternaknya padat," tambahnya.

Oleh karena itu, tahun ini pihaknya diminta mengajukan formasi petugas dan dokter hewan untuk CPNS. Sebab, seingat dirinya rekruitmen tenaga kesehatan hewan di Gunungkidul terakhir dilakukan 2010 lalu.

sumber:kumparan

Editor: edo.