HETANEWS

Pelaku Pembunuh Pelajar SMA yang Hilang 2 Bulan Diduga Berperilaku Seks Menyimpang

Tersangka pelaku pembunuh pelajar SMA yang hilang 2 bulan lalu ditemukan tinggal tengkorak(ANTARANEWS.com)

Hetanews.com - YA (32), warga Kelurahan Talang Ulu, Kecamatan Curup Timur, Bengkulu, terduga pelaku pembunuh Astrid Aprilia (15), pelajar SMA yang hilang pada 8 November 2019 lalu diduga memiliki perilaku seks menyimpang.

Kapolres Rejang Lebong AKBP Jeki Rahmat Mustika melalui Kasat Reskrim AKP Andi Kadesma mengatakan, tersangka kerap melakukan panggilan telepon melalui video call aplikasi WhatsApp dengan menampakan alat kelaminnya.

"Tersangka pelaku ini sering melakukan video call dengan nomor-nomor cewek yang didapatkan dari grup sekolah yang ada di hp milik korban dengan memperlihatkan alat kemaluannya," ujarnya, di Mapolres Rejang Lebong, Kamis (23/1/2020).

Andi mengatakan, orientasi seks menyimpang tersangka ini diketahui petugas setelah dilakukan penyelidikan terhadap hp milik korban yang selama ini digunakan tersangka untuk melakukan video call kepada sejumlah teman-teman korban.

"Sebelumnya, di media sosial Facebook banyak warga yang mengaku diteror video call oleh nomor baru, saat video call tersebut diterima ternyata yang melakukan panggilan menunjukkan kemaluannya," jelasnya.

Selain menemukan hp milik korban ditangan tersangka, kata Andi, saat pihaknya melakukan penggeledahan di mobil angkot warna biru dengan pelat BD 1020 GL milik tersangka ditemukan sembilan potong celana dalam wanita.

"Celana wanita itu disimpan di dalam speaker di bawah jok angkot miliknya. Saat ini kita masih selidiki milik siapa, karena kami konfirmasi ke nenek korban jika semua celana Astrid ditandai dengan jahitan nama korban," jelasnya.

Sementara itu, Hendri salah seorang paman korban mengaku jika pihak keluarga juga sering mendapat teror telepon dengan menggunakan nomor korban.

"Ada beberapa kali panggilan video call dari nomor korban dan saat diangkat ada orang yang menampakan alat kemaluannya, kemudian kami melakukan pelacakan dan kemudian berhasil ditangkap polisi," katanya.

Selain mendapat teror video call tidak senonoh, kata Hendri, keluarganya juga diminta uang tebusan sebesar Rp100 juta, namun permintaan itu tidak dipenuhi karena tidak memiliki uang sebanyak itu. Bahkan, tersangka juga, sambungnya, meminta anak perempuan sebagai pengganti Astrid.

Sumber: kompas.com

Editor: tom.