HETANEWS

Jejak Toto Si Raja Utang

Ilustrator: Edi Wahyono

Hetanews.com - Warga RT 12, RW 05, Kelurahan Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara, tidak asing dengan Toto Santoso, raja keraton jadi-jadian di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, yang wajahnya menghiasi media massa selama sepekan ini. Pasalnya, Toto yang asli Wonosobo itu pernah merantau dan hidup bertahun-tahun di wilayah Kampung Bandan.

Bahkan, dari Kartu Tanda Penduduknya, Totok masih tercatat sebagai warga di situ meski sudah banyak menghabiskan waktu di Yogyakarta dan Jawa Tengah untuk mendirikan Keraton Agung Sejagat, keraton yang oleh polisi disebut sebagai ajang untuk tipu-tipu, tersebut.

“Dia nggak punya KTP lain, kan nggak bisa dibohongin. (Saya) suruh (Kelurahan) ngeblokir, nggak bisa katanya, kecuali dia pindah," kata Ketua RT 12, Manaf.Manaf mengatakan, jejak Toto di kampungnya tak jauh berbeda dengan di Jawa Tengah.

Toto pernah dicari-cari oleh petugas Bank Mandiri karena menunggak utang. Jumlahnya tidak sedikit, Rp 1,3 miliar. Toto menjaminkan sebuah rumah toko di Angke, Tambora, Jakarta Barat, untuk mendapat utang itu. Pasca diburu oleh bank, Toto sempat mengajukan permohonan pindah ke Cawang, Jakarta Timur, pada 2015. Namun, sang ketua RT menolak memberi surat keterangan untuk pindah.

Raja' Toto dan 'Ratu' Fanni Aminadia
Foto: Istimewa

“Jadi keseluruhan uang itu menurut keterangan Toto ini untuk kegiatan-kegiatan tradisi yang mereka lakukan, pembuatan seragam, atribut dan pernak pernik kerajaan, dan untuk membangun keratonnya itu sendiri.”

Meski ber-KTP di RT 12, namun Toto tinggal di wilayah RT 13 Daerah Operasi (Daops) Atas. Seperti namanya, daerah itu tak jauh dari stasiun kereta api Kampung Bandan. Toto tinggal bersama seorang perempuan. Tahun 2016, kontrakan Toto ikut ludes terbakar dalam musibah kebakaran yang melumat Kampung Daop Atas selamanya.

Toto sempat hidup di sebuah bedeng berukuran kecil di dekat rel kereta api sebelum jejaknya tak pernah terlihat lagi.Di Yogya, Toto melancarkan aksinya dengan mendirikan organisasi yang berkedok kemanusiaan, Jogja Develompent Committee (DEC).

Toto mengaku menjabat Dewan Wali Amanat Panitia Pembangunan Dunia Wilayah Nusantara dalam organisasi itu pada 2016. Jogja-DEC menjanjikan kesejahteraan finansial bagi pengikutnya. Namun keberadaan Jogja-DEC tidak terdaftar sebagai sebuah organisasi resmi di kantor Kesbang Kota Yogya.

Organisasi itu justru banyak disebut-sebut masyarakat mirip dengan Gafatar di Kalimantan Barat yang berniat mendirikan negara tersendiri. Dikutip dari harianjogja.com, Jogja-DEC disebut Toto bagian dari World Development Committee (WDC).

Ia akan memberikan uang US$ 100 hingga US$ 200 perbulan bagi pengikutnya. Toto juga menargetkan 500 ribu anggota. Banyak yang mencurigai karena lambangnya mirip lambang Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Namun, banyak juga yang tertipu.

Toto sempat ingin menjalankan 'Koperasi Jasa Indo Kor Rakyat' atau KJ Inkor di Sidoluhur tahun 2017. Setahun kemudian, Toto baru mengajukan secara resmi izin KJ Inkor ke Pemdes Sidoluhur dan ditolak karena legalitasnya tidak sesuai.

Toto tak kurang akal. Ia kembali mengajukan izin ke Pemdes Sidoluhur untuk mendirikan Markas Daerah Laskar Merah Putih Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) awal 2019. Lagi-lagi Pemdes Sidoluhur menolak pengajuan Toto.

Mengaku mendapat wangsit, Toto mendirikan Keraton Agung Sejagat di Purworejo. Ia ‘menghipnitos’ para pengikutnya dengan cerita-cerita mengenai tabungan Indonesia di Swiss agar mau bergabung dengan kerajaan.

Meski punya kerajaan, Toto tetap tak beranjak dari Yogya dan mengontrak rumah di Sleman. Rupanya, kehadiran kerajaan Toto dan Fanni Aminadia, ‘permaisuri’ yang bernama Dyah Gitarja dianggap meresahkan warga.

Toto dan Fanni terkadang melakukan 'penyamaran' agar kedok aksinya tidak terbongkar aparat kepolisian dan warga.Fanni disinyalir merupakan mantan karyawan bagian marketing Tabloid Aksi. Ia juga banyak malang melintang di organisasi masyarakat (ormas).

Fanni sempat bergabung ormas Laskar Merah Putih pimpinan Eddy Hartawan dan Reni Jayusman sejak 2017 dan di Kosgoro 1957, organisasi sayap Partai Golongan Karya. Ia juga pernah aktif di ormas Pemuda Panca Marga (PPM) pimpinan Lulung Lunggana.

Fanni Aminadia
Foto: Istimewa

Dalam akun facebooknya, ia menulis pekerjaanya adalah penulis skenario dan produser. Fanni banyak mengumbar foto-foto dengan sejumlah tokoh, di antaranya dengan penyanyi Titiek Puspa dan putra Presiden Sukarno, Guruh Soekarnoputra.

Ia juga mengklaim punya dua bisnis, yaitu salon kecantikan dan restoran. Bisnis kuliner Fanni terletak di Yogya bernama Angkringan Ambu Pare Godean. Sedangkan salon kecantikannya adalah Nabila Beauty Care di jalan Jatinegara Timur No. 65.

Sebagai permaisuri Keraton Agung Sejagat, Fanni ditugaskan Toto sebagai perancang pernak pernik kerajaan, meliputi seragam, topi, umbul-umbul, tombak dan bendera kerajaan. Sejak November 2017 Fanni banyak mengunggah foto dirinya dengan kebaya kerajaan dan bintang jasanya dengan latar belakang pernak pernik kerajaannya.

Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Agus Triatmaja mengatakan, keduanya yang telah ditetapkan sebagai tersangka dugaaan perbuatan onar dan penipuan itu tidak memiliki pekerjaan tetap.

Toto diketahui pernah berbisnis angkringan dan jual beli mobil. Raja dan ratu yang mengaku menikah siri itu juga berbisnis valas. Agus membenarkan keduanya terlilit utang cukup banyak.

Sayangnya, Fanni belum bisa dimintai keterangan lebih detil karena masih berhalusinasi.Sementara mengenai utang sebesar Rp 1,3 miliar itu, menurut pengakuan Toto kepada polisi, dipakai untuk membangun kerajaan di Desa Pogung, Purworejo.

“Jadi keseluruhan uang itu menurut keterangan Toto ini untuk kegiatan-kegiatan tradisi yang mereka lakukan, pembuatan seragam, atribut dan pernak pernik kerajaan, dan untuk membangun keratonnya itu sendiri,” begitu kata Kombes Agus.

Sumber: detik.com

Editor: tom.