HETANEWS

Kuasa Hukum Sebut Hukuman Mati Turunkan Kepercayaan Nduga

Ilustrasi penembakan

Papua, hetanews.com - Tigor G Hutapea, kuasa hukum terdakwa penembakan di Nduga, Papua berinisial MW, menyebut, tuntutan hukuman mati akan menimbulkan rasa ketidakpercayaan kepada pemerintah. Menurut dia kasus Nduga sudah berjalan setahun namun belum menemukan titik terang.

"Kalau dia [MW] diancam hukuman mati itu akan menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat Nduga kepada proses upaya perdamaian yang dilakukan oleh pemerintah," ujar Tigor di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (21/1).

Ia mengimbau kepada pihak kepolisian, jaksa, dan pengadilan untuk menempatkan kasus ini secara baik dan tidak langsung menghakimi MW, yang merupakan warga asli Nduga, dengan jeratan hukum berat, hukuman mati.

Menurut Tigor bukti-bukti yang ada menunjukkan tidak ada saksi langsung yang melihat MW melakukan pembunuhan kepada puluhan pekerja PT Iskata Karya dalam proyek pembangunan Jembatan Kali Aorak dan Jembatan Kali Yigi di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua.

Ia menyebut pelaku pembunuhan tersebut merupakan aksi dari Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Menurut keterangannya hingga setahun lebih kasus berlalu, belum ada satu pelaku yang tertangkap, kecuali dugaan kepada MW.

"Belum ada satupun tertangkap, dan MW dituduh membunuh semua [puluhan pekerja yang tewas] kami merasa MW tidak mungkin melakukan itu," ujarnya.

MW ditangkap pada tanggal 12 Mei 2019. Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwa MW dengan Pasal 340 KUHP JO Pasal 55 Ayat (1), Pasal 338 KUHP JO Pasal 55 Ayat (1), Pasal 351 Ayat (3) KUHP JO Pasal 55 Ayat (1), Pasal 328 KUHP JO Pasal 55 Ayat (1) dan Pasal 333 Ayat (1) KUHP JO Pasal 55 Ayat (1) dengan ancaman hukuman paling berat, hukuman mati.

Kasus pembunuhan Nduga yang terjadi pada 2 Desember 2018 menewaskan puluhan pekerja proyek jembatan Trans Papua dari PT. Istaka karya. Pascakasus tersebut, suasana di Nduga sempat mencekam hingga pemerintah menambah personel TNI untuk berjaga yang kemudian membuat rakyat sipil khawatir dan memilih untuk mengungsi.

sumber: cnnindonesia.com

Editor: sella.