HETANEWS.COM

Gerakan #SaveBabi, Warga Tuntut Ganti Rugi atas Babi yang Mati di Sumut

Suasana di dalam Wisma Mahinna, di Jalan Rela, Medan Selasa sore tadi (21/1/2020). Dalam pertemuan itu, mereka menyebut pemerintah lalai dalam penanganan terhadap ternak babi di Sumut dan meminta ganti rugi atas babi yang mati. Mereka juga menyebutkan akan turun ke Kantor Gubernur Sumut pada 3 Februari mendatang.(KOMPAS.COM/DEWANTORO)

Medan, hetanews.com - Wisma Mahinna di Jalan Rela, Medan, Selasa sore tadi (21/1/2020), dipenuhi oleh warga yang mengaku sebagai pecinta daging babi, peternak, pengusaha rumah makan dan penjual daging serta penjual pakan ternak.

Di tempat itu, mereka memulai satu gerakan dengan judul #SaveBabi. Gerakan tersebut pernah disinggung Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut Azhar Harahap beberapa hari yang lalu di hadapan wartawan di kantornya di Jalan Gatot Subroto, Medan.

Pertemuan ini sendiri merupakan bentuk protes terhadap rencana Pemprov Sumut yang berencana memusnahkan seluruh babi di Sumut setelah merebaknya demam babi afrika (african swine fever/ASF).

Ketua gerakan #SaveBabi, Boasa Simanjuntak mengungkapkan, masyarakat Batak dan pecinta babi di Sumut dengan tegas menolak rencana itu karena babi memiliki kedaulatan tersendiri dalam hidup orang Batak, terutama dalam urusan adat.

"Dalam urusan adat, babi tidak bisa digantikan dengan hewan lain. Ini bukan perkara main-main," katanya saat pidato. Saking sakralnya ternak babi, lanjut dia, bisa terjadi pertengkaran antarkeluarga jika ada satu pihak yang tak mendapat bagian dari ekor babi.

Itu baru bagian ekor, belum lagi dengan urusan lain yang lebih esensial. Dia menyayangkan pemerintah juga dinilai lalai dalam penetapan status penyakit yang menyebabkan kematian puluhan ribu babi di Sumut.

Sebelumnya, pemerintah yakin bahwa kematian babi disebabkan virus kolera babi. Lalu kabar terakhir disebut karena ASF. "Ini menandakan kalau pemerintah sepele. Tidak melalui penelitian yang mendalam. Masyarakat yang jadi bingung," katanya.

Kematian puluhan ribu babi di Sumut ini sudah membawa dampak buruk terhadap perekonomian warga. Dalam pertemuan itu, banyak warga atau peternak yang mengeluh karena babi mereka habis.

Padahal beternak babi merupakan sumber penghasilan utama mereka. Rencananya, pada 3 Maret mendatang, mereka akan menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Gubernur Sumut. Rencana ini sudah dimatangkan, tinggal eksekusi.

Tuntutan utama mereka adalah mendesak pemerintah segera mencari solusi terbaik dalam mengatasi masalah ASF, selain pemusnahan. Selain menggelar aksi damai, tim pengacara juga telah dibentuk.

Tim ini yang nanti akan menjalankan upaya hukum melalui class action. Jalur hukum ini ditempuh untuk meminta ganti rugi terhadap babi-babi yang sudah mati. “Kita tidak bisa tinggal diam.

Babi-babi yang sudah mati itu harus ada ganti ruginya. Pemerintah jangan hanya menyuruh kami menguburkan babi, tetapi harus ada gantinya. Entah itu bibit,” kata Sekretaris Panitia, Hasudungan Siahaan.Dalam pertemuan yang berlangsung dari siang hingga sore ini, banyak pihak dari berbagai daerah dilibatkan.

Mulai dari akademisi dan tokoh-tokoh masyarakat Batak juga banyak terlibat. Mereka mengkritik langkah pemerintah dari segala sisi, kemudian menarik kesimpulan bahwa sejauh ini pemerintah gagal dalam menangani masalah kematian babi di Sumut.

Bantah musnahkan babi

Azhar menambahkan, di dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Hewan dan juga Peraturan Pemerintah Nomor 95/2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesehatan Hewan, tidak dibenarkan menyakiti hewan.

 "Di situ mengatakan tidak dibenarkan melakukan stamping out (pemusnahan) terhadap hewan yang kena penyakit. Jadi tidak benar Gubernur mengatakan mau memusnahkan ternak babi di Sumut. Jangan diprovokasi seperti itu, kasihan rakyat," katanya.  

Sumber: kompas.com

Editor: tom.

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!