HETANEWS

Seorang Politisi Iran Tawarkan Rp 40 Miliar Bagi yang Bisa Bunuh Trump

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan keterangan pers di Gedung Putih, Washington, pada 8 Januari 2020. Trump memberikan pernyataan sikap setelah Iran menyerang dua markas pasukan AS di Irak. Iran mengklaim bertanggung jawab sebagai balasan setelah Komandan Pasukan Quds, Jenderal Qasem Soleimani, tewas diserang rudal AS.(AFP/GETTY IMAGES NORTH AMERICA/WIN MCNAMEE)

Taheran, hetanews.com - Seorang politisi Iran disebut menawarkan uang hingga Rp 40 miliar bagi siapa pun yang bisa membunuh Presiden AS Donald Trump. Adalah Ahmad Hamzeh, anggota Majlis (Dewan Konsultasi Islam) yang menggelar sayembara itu, demikian laporan AFP Selasa (21/1/2020).

Hamzeh disebut menawarkan uang sebesar 3 juta dollar AS, atau Rp 40 miliar, atas nama masyarakat di Kerman.Kerman adalah kampung halaman sekaligus tempat peristirahatan terakhir bagi komandan Pasukan Quds, Mayor Jenderal Qasem Soleimani.

Soleimani tewas ketika mobil yang ditumpanginya dihantam rudal dari drone AS, MQ-9 Reaper, pada 3 Januari lalu. Dia tewas bersama wakil pemimpin milisi Hashed al-Shaabi, Abu Mahdi al-Muhandis, di Bandara Internasional Baghdad, Irak.

"Kami akan memberikan 3 juta dollar AS bagi siapa pun yang bisa membunuh Trump," ucap Hamzeh dikutip kantor berita ISNA.Hamzeh yang mewakili Kahnouj County, tenggara Kerman, tak menyebut siapa yang bakal membayar sayembara tersebut.

Trump menjadi sorotan setelah memerintahkan untuk membunuh Soleimani, dan mengklaim si jenderal berpengaruh itu merencanakan untuk membunuh warga AS.

Dalam acara penggalangan dana Partai Republik di kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, presiden 73 tahun itu menyebut Soleimani teroris terkenal. Dalam pidatonya, presiden ke-45 AS tersebut memutuskan membunuh Soleimani karena sudah mengatakan hal buruk tentang AS.

Dia menuturkan mengawasi jalannya penyerangan dari kamera "di atas langit", dan menjabarkan detik-detik ketika Soleimani terbunuh. Buntut dari kematian Qasem Soleimani, Iran membalas dengan menyerang dua pangkalan AS di Irak pada 8 Januari 2020.

Serangan yang menghantam Pangkalan Ain al-Assad dan Irbil itu dilaporkan melukai 11 tentara AS, meski Trump sempat mengklaim tak ada yang terluka.

Beberapa jam setelah penyerangan, pesawat Ukraina Boeing 737 jatuh sesaat setelah lepas landas dari Bandara Imam Khomeini, Teheran. AS dan Kanada kemudian menuding Iran menjatuhkan pesawat Ukraine International Airlines dengan rudal setelah mendapat laporan intelijen.

Teheran yang selama tiga hari membantah menembak, akhirnya mengakuinya pada 11 Januari, dan menyatakan mereka tak sengaja melakukannya. Dalam keterangan Garda Revolusi Iran, pesawat Ukraina tersebut memasuki "zona militer sensitif", dan dikira pesawat musuh.

Sumber: kompas.com

Editor: tom.