HETANEWS

Sidang Pidana 2 Warga Sihaporas Kasus Penganiayaan Dipantau KY

KY dengan kameranya, merekam jalannya persidangan dan 2 terdakwa saat diadili (crop). (foto/ay)

Simalungun, hetanews.com - Komisi Yudisial (KY) memantau jalannya persidangan terkait kasus pidana 2 warga Sihaporas yang didakwa jaksa, melakukan penganiayaan. 

Persidangan yang digelar Senin (20/1/2020), di ruang sidang Cakra PN Simalungun yang merupakan ruang  sidang utama, dipimpin ketua majelis hakim, Roziyanti SH, didampingi dua hakim anggota, Aries Ginting SH dan Justiar Ronald SH.

Terlihat tim KY memantau jalannya persidangan, dengan merekam (video) yang diarahkan mengikuti jalannya persidangan.

Sebelum memasuki ruang sidang, humas yang juga merupakan hakim anggota, Aries Ginting, membenarkan jika KY akan memantau persidangan itu.

"Iya dari KY,"kata Aries singkat, ketika ditanya wartawan saat berjalan memasuki ruang persidangan.

Kedua terdakwa Jonny Ambarita (44) dan Thomson Ambarita (41), telah didakwa dalam kasus penganiayaan terhadap karyawan PT TPL (Toba Pulp Lestari). Agenda persidangan siang itu, mendengarkan keterangan saksi, Haposan Sitorus, sebagai karyawan dan saksi security TPL yang turut menjadi korban penganiayaan.

Aksi warga Sihaporas dan mahasiswa, di depan kantor Pengadilan Negeri Simalungun, dikawal petugas. (foto/ay)

Sebelumnya, kedua terdakwa dalam persidangan, didampingi tim pengacaranya, telah didakwa  melakukan pemukulan dengan potongan kayu kepada saksi korban, Bahara Sibuea (Humas TPL), Agus Duse Damanik, Fidrus A Simbolon dan Haposan Sitorus.

Penganiayaan dan pengeroyokan yang dilakukan 2 terdakwa bersama warga lainnya yang dinyatakan DPO, terjadi pada Senin, 16 September 2019, lalu.

Masyarakat Sihaporas yang dilarang menanam bibit jagung, di lahan konsesi milik TPL, tidak terima. Karena menganggap lahan tersebut adalah tanah adat yang dikuasai secara turun temurun berdasarkan sertifikat Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA).

Akibatnya, sekitar 80 warga yang memasuki lahan konsesi tersebut marah. Dengan kayu dan cangkul, memukul humas, karyawan dan security PT.TPL. Akibatnya korban mengakami luka, sesuai visum yang dibuat dokter, di RS Vita Insani.

Jaksa Firmansyah, menjerat para terdakwa dengan pasal 170 (1) atau kedua pasal 351 (1) Jo 55 (1) ke-1 KUH Pidana.

Di luar persidangan, warga Sihaporas bersama mahasiswa peduli tanah adat melakukan aksi (demo). Masyarakat melakukan aksi setiap kali persidangan digelar dan mendapat pengawalan dari petugas kepolisian.

Tuntutannya, meminta agar rekannya dibebaskan, juga meminta agar pengaduannya ditindaklanjuti. Karena dalam kasus tersebut saling mengadukan, pengaduan warga Sihaporas, tidak ditindaklanjuti oleh penyidik.

Penulis: ay. Editor: gun.