Medan, hetanews.com - Kabid Penelitian dan Kebijakan Publik Balai Warisan Sumatera Utara, Isnen Fitri mengatakan saat ini ikon wisata sejarah yang membutuhkan kepedulian bukan hanya titi gantung saja.

"Kalau khususnya Titi gantung memang seharusnya PT KAI juga harus ikut serta berperan. Selain itu, kalau saya rasa bukan hanya Pemko saja, tapi juga masyarakat yang ada di sekitar sana. Yang berlalu-lalang juga ikut berpartisipasi seharusnya. Karena yang mengotori juga kan banyak juga dari masyarakat," katanya.

Meski demikian katanya Pemko hingga saat ini belum menetapkan bahwa titi gantung sebagai cagar budaya.

" Pemko tidak mencatat jembatan atau tidak gantung ini sebagai cagar budaya, masalahnya juga di situ dan kita dari Balai Warisan Sumatera memang pernah mengusulkan bahwa titi gantung itu adalah bagian dari cagar budaya," katanya.

Ia menjelaskan bahwa di Undang-undang Nomor 11 tahun 2020, titi gantung termasuk diduga cagar budaya berdasarkan kategori struktur.

"Kalau di Undang-Undang cagar budaya nomor 11 tahun 2010 kategorinya struktur. Kan kita punya ada beberapa kategori dimulai dari benda, struktur bangunan, kawasan dan situs."

"Ada lima kategori nya, nah Titi gantung ini termasuk kategori struktur. Hanya di dalam Perda dan SK Walikota Titi gantung ini memang tidak dimasukkan ke dalam kategori cagar budaya," katanya.

Hal tersebut katanya dikarenakan Pemko masih fokus pada bangunan sebagai cagar budaya.

"Masalahnya di situ pemerintah kota Medan Masih berfokus pada bangunan yang ditetapkan sebagai cagar budaya, itu salah satunya kenapa itu terjadi, sampah berserakan, seperti dibiarkan begitu, Walaupun demikian sebenarnya, kalau kita merujuk pada undang-undang, Itu sudah merupakan diduga cagar budaya walaupun tidak ditetapkan melalui SK Walikota ataupun Perda," katanya.

Ia menjelaskan bahwa struktur yang dimaksud adalah titi gantung sebagai landmark.

"Kalau menurut saya untuk kategori struktur itu salah satunya salah satu landmark untuk kota Medan karena Medan ini kan perkembangannya diisi oleh industri perkebunan. Kemudian kereta api itu adalah salah satu fasilitas infrastruktur yang mendukung industri perkebunan tersebut. Titi Gantung itu sebenarnya adalah salah satu infrastruktur yang dibiarkan," tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa dulunya Jembatan Titi Gantung berfungsi untuk menghubungkan dari area Lapangan Merdeka menuju ke area Kompleks Perumahan PT KAI.

"Jadi itu dulunya sebagai penghubung karena kan dipisah oleh rel, nah bagaimana caranya supaya para pekerja yang tinggalnya di seberang rel tersebut bisa dengan mudah melalui jembatan itu menuju ke parkir kereta api. Jadi itu salah satu sejarah yang sebenarnya udah mulai kabur karena di sebelah sana udah jadi Center Point," katanya.

Sama seperti masa lalu, jika dulunya jembatan sebagai penghubung antar pegawai PT KAI dengan para pegawainya, maka sekarang para pekerja yang bekerja di seberang dapat melewati jembatan tersebut untuk mengakses angkatan umum atau pun jika ingin ke daerah kesawan dengan mudah.

"Kepentingannya tadi itu kalau kita lihat dari perubahan dan perkembangan kota. bisa aja sih dari masyarakat dari center point yang berkunjung ke sana juga dengan mudah bisa menuju ke Lapangan Merdeka, bisa aja, cuma kalau dulu nya itu asal mulanya Kenapa di buat titik gantung ya seperti itu," jelasnya.

Sumber: tribunmedan.com