HETANEWS

Medan Sempat Alami Deflasi 0,28 Persen pada 2019

High Level Meeting Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumut

Medan, hetanews.com - Cabai merah merupakan penyumbang dominan terhadap inflasi di Kota Medan. Tahun 2019, inflasi Kota Medan sebesar 2,37 persen untuk bulan perbulanya. Sedangkan tahun ke tahun sebesar 2,43 persen.

Meski terjadi inflasi, namun Kota Medan juga mengalami deflasi sebesar 0,28 persen. Kondisi ini terjadi akibat virus hog cholera yang menyebabkan ribuan babi mati dan banyak dibuang ke sungai, sehingga mengakibatkan masyarakat enggan mengonsumsi.

Demikian disampaikan Kabag Perekonomian Setdako Medan, M Nasib, ketika mewakili Pelaksana tugas (Plt) Wali Kota Medan, Akhyar Nasution, usai menghadiri High Level Meeting Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumut di Gedung Bank Indonesia (BI) Sumut Jalan Balai Kota Medan.

Diungkapkan Nasib, Juni 2019, inflasi di Kota Medan sudah mencapai 5,6 persen dan Sumut sampai 6,7 persen, namun kemudian mengalami penurunan dan mengalami deflasi sebesar 0,28 persen. Penurunan akibat pengaruh banyaknya babi mati yang disebabkan virus hog cholera.

“Sudah itu bangkai babi banyak yang dibuang ke sungai, membuat masyarakat enggan membeli ikan, sehingga harga ikan di pasaran anjlok. Harga ikan gembung yang biasanya dijual Rp 30.000 sampai 50.000 per kilo, saat itu tak ada yang mau beli walaupun dijual Rp 10.000 per kilo,” kata Nasib, dalam keterangan resmi diperoleh Analisadaily.com, Kamis (16/1).

Keengganan masyarakat mengonsumsi ikan, berimbas dengan menurunnya pembelian bumbu, seperti bawang merah, cabai merah serta bawah putih sehingga menyebabkan terjadinya deflasi.

“Kondisi itu secara akumulasi menyebabkan inflasi di Kota Medan yang sempat mencapai 5,6 persen akhirnya menjadi stabil hingga dipenghujung Desember 2019,” jelasnya.

Pemko Medan dalam upaya mengendalikan inflasi telah melakukan sejumlah langkah, diantaranya menggelar pasar murah di setiap memasuki hari besar keagamaan seperti bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri maupun Natal dan Tahun Baru.

Setiap bahan kebutuhan pokok yang dijual di pasar murah telah disubsidi Pemko Medan melalui Dinas Perdagangan Kota Medan, sehingga harga jualnya lebih murah dibandingkan harga di pasar.

Kemudian Pemko Medan bersama intnasi terkait juga rutin melakukan operasi pasar. Setiap memasuki hari besar keagamaan, operasi pasar dilakukan. Kemudian melakukan pengecekan barang kebutuhan pokok, baik stok maupun pendistribusiannya.

“Sebagai contoh ungkapnya, November 2019, stok gula putih tinggal 11 ton. Ttemuan ini diteruskan dalam rapat tingkat provinsi. Akhirnya gula pasir dipasok sehingga stok gula di Kota Medan aman,” jelasnya.

Di tahun 2020 Pemko Medan akan mengadakan alat Controlled Atmosphere Storage (CAS). Menurutnnya, alat ini nantinya bisa menyimpan stok bahan kebutuhan pokok seperti cabai merah, bawang merah, bawang putih dan cabai rawit sebanyak 60 ton dan tahan selama 60 hari.

“Saya sudah menyurati Dinas Perdagangan agar tahun 2020 agar membuat kajian. Kemungkinan kajian dan pengadaan alat dilakukan pada P.APBD 2020. Dengan adanya alat ini, kita dapat mengendalikan inflasi,” ungkapnya.

Sumber: analisadaily.com 

Editor: suci.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.