HETANEWS.COM

Ahli Waris Shah Iran Prediksi Rezim Bakal Tumbang dalam Beberapa Bulan

AS, hetanews.com - Ahli waris takhta dari Shah Iran yang telah lengser, Reza Pahlavi, memprediksi bahwa rezim pemerintah Iran saat ini akan tumbang dalam beberapa bulan ke depan. Pahlavi mendorong negara-negara Barat untuk tidak berunding dengan rezim Iran saat ini.

Pahlavi, yang berusia 59 tahun, merupakan anak sulung dari mendiang Shah Mohammad Reza Pahlavi, Shah terakhir dalam Kekaisaran Iran yang menjabat antara September 1941 hingga dilengserkan oleh Revolusi Iran pada Februari 1979 silam.

Pahlavi kerap disebut sebagai Putra Mahkota Iran atau ahli waris terakhir untuk takhta Negara Kekaisaran Iran. Ayahnya yang telah wafat tahun 1980 lalu, memiliki gelar 'Shahanshah' atau yang berarti 'Raja dari Segala Raja'. Kini Reza Pahlavi menjadi pemimpin Dinasti Pahlavi.

Disebutkan Reza Pahlavi yang kini tinggal dalam pengasingan di Amerika Serikat (AS) bahwa unjuk rasa besar-besaran yang muncul di Iran pada November 2019 dan pada bulan ini, setelah jatuhnya pesawat maskapai Ukraina, mengingatkannya pada unjuk rasa yang melengserkan mendiang ayahnya tahun 1979 silam.

"Itu hanya masalah waktu sebelum mencapai klimaks akhir. Saya pikir kita ada dalam mode itu," kata Pahlavi dalam konferensi pers terbaru di Washington, AS,  Kamis (16/1/2020).

"Saat ini adalah beberapa pekan atau beberapa bulan sebelum keruntuhan total, tidak jauh berbeda dengan tiga bulan terakhir tahun 1978 sebelum revolusi," imbuhnya.

Sementara kebanyakan aktivis Iran yang mengasingkan diri secara rutin memprediksi jatuhnya rezim Iran, Pahlavi menyatakan bahwa warga Iran bisa 'mencium peluang untuk pertama kalinya dalam 40 tahun'.

Pahlavi yang merupakan ahli waris dari Takhta Persia ini mengutip bukti-bukti yang muncul di Iran, seperti apa yang disebutnya sebagai berkurangnya ketakutan di kalangan demonstran Iran dan bertambahnya jarak antara para reformis dengan rezim Islam di Iran. Pahlavi sendiri sudah sejak remaja tidak pernah menginjakkan kaki di Iran.

Dalam pernyataan di Hudson Institute, Pahlavi menyatakan dukungan besar untuk kampanye 'tekanan maksimum' Presiden AS Donald Trump, yang dimaksudkan untuk mengisolasi rezim Iran, melalui sanksi-sanksi berat. Lebih lanjut, Pahlavi menyebut perundingan-perundingan sebelumnya telah gagal.

"Sudah lama waktunya untuk mengakui bahwa ini bukanlah rezim yang normal dan bahwa mereka (Iran-red) tidak akan mengubah perilaku mereka," tegas Pahlavi. "Rekan sebangsa saya memahami bahwa rezim ini tidak bisa direformasi dan harus disingkirkan," imbuhnya.

"Warga Iran mengharapkan dunia untuk menunjukkan lebih dari sekadar dukungan moral. Mereka mengharapkan tidak dikhianati atas nama diplomasi dan negosiasi," cetus Pahlavi.

Trump sebelumnya menyampaikan harapan soal perundingan, namun beberapa waktu terakhir dia menyatakan tidak peduli dengan perundingan dan memerintahkan pembunuhan seorang jenderal top Iran, Mayor Jenderal Qasem Soleimani, yang menjabat Komandan Pasukan Quds Iran.

Pahlavi, yang mendiang ayahnya yang berorientasi Barat dan bersekutu dekat dengan AS, meredakan prospek soal pengembalian rezim kekaisaran di Iran. Dia menegaskan dirinya lebih ingin mendukung koalisi luas warga Iran yang akan mengganti rezim Iran saat ini dengan demokrasi sekuler.

Saat ditanya apakah dia bisa mewakili seluruh warga Iran, Pahlavi menjawab: "Ini bukan tentang saya, ini tentang rakyat Iran."

"Anda mungkin tidak suka si pembawa pesan itu, tapi apakah ada yang salah dengan pesannya?" ucapnya.

sumber: detik.com

Editor: sella.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!