HETANEWS

Remaja 15 Tahun di AS Jadi Korban Meninggal Termuda Akibat Vape

Ilustrasi Vape.

Amerika serikat, hetanews.com - Pejabat Kesehatan Masyarakat Amerika Serikat kembali mengingatkan tentang dampak buruk penggunaan vape di kalangan anak muda. Hal ini mengingat penggunaan vape yang kembali memakan korban jiwa.

Belum lama ini, pemerintah federal telah mengumumkan soal kematian termuda akibat penggunaan vape di AS yang merenggut nyawa bocah 15 tahun. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (The Centers for Disease Control and Prevention/CDC) AS juga telah mengonfirmasi kematian pasien yang berasal dari Dallas tersebut disebabkan oleh rokok elektrik.

Remaja yang tak disebutkan namanya itu disebut mengalami kondisi medis yang kronis akibat rokok elektrik. Kematiannya yang disebabkan karena penggunaan vape, menurut laporan Medical Daily, menjadi yang pertama kali terjadi di Dallas.

Pejabat setempat mengatakan kasus ini turut menyoroti bagaimana paparan e-liquid jangka pendek yang dapat menyebabkan masalah kesehatan serius dan bahkan kematian.

Ilustrasi Vape
Ilustrasi vape.

"Melaporkan kematian seorang remaja karena EVALI (E-cigarette or Vaping Product use Associated Lung Injury) sangatlah tragis," ujar Philip Huang, Direktur Layanan Kesehatan dan Kemanusiaan Kabupaten Dallas, dikutip dari Medical Daily. "Kami melihat bahwa kerusakan paru-paru yang parah, dan bahkan kematian, dapat terjadi hanya dengan penggunaan jangka pendek dari produk ini."

Sejauh ini, rumah sakit di Kabupaten Dallas telah melaporkan 53 kasus penyakit paru-paru yang terkait dengan penggunaan vape pada Desember 2019 lalu. Dari laporan tersebut, kini ada total 228 kasus yang telah dikonfirmasi. Dua di antaranya merupakan kasus kematian terkait dengan EVALI yang terjadi di Texas.

Vape diketahui telah menewaskan 57 orang di 27 negara. Namun, CDC mencatat jumlah itu mungkin lebih tinggi karena banyak kematian yang hingga saat ini masih dalam tahap penyelidikan.

CDC sebelumnya telah menemukan alasan mengapa orang berisiko terkena masalah paru-paru setelah sering menggunakan produk rokok elektrik. Penyebabnya tak lain karena Vitamin E asetat pada rokok elektrik menyebabkan paru-paru cedera.

vape
Ilustrasi vape.

Kematian remaja Dallas itu mengejutkan sejumlah pihak tak terkecuali beberapa ahli. Hal ini karena rokok elektronik seharusnya tidak dijual untuk anak di bawah 18 tahun.

Meskipun telah membatasi penggunaannya di kalangan anak muda, pemerintah mengungkapkan penggunaan rokok elektronik meningkat dari 3,6 juta pada tahun 2018 menjadi 5,4 juta pada tahun 2019. Penggunanya banyak dari kalangan siswa sekolah menengah.

Sebelum kematian remaja di Dallas, pemerintah sebelumnya telah mengumumkan kematian seorang anak berusia 17 tahun dari wilayah Bronx di New York sebagai yang termuda akibat penggunaan vape.

Sumber: kumparan.com 

Editor: suci.