HETANEWS.COM

Setelah Jadi Polemik, Akhirnya Gubernur Edy Sebut Festival Danau Toba (FDT) 2020 Tetap Digelar

Festival Dana TobaDua Tim Solu Bolon sedang beradu tanpa garis pembatas lintasan pada kegiatan lomba "solu bolon"Festival Danau Toba (FDT) hari ke-2 di Perairan Pantai Bebas, Danau Toba, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun. Foto: TRIBUN MEDAN/ARJUNA BAKKARA

Hetanews.com - Akhirnya Pemprov Sumut membatalkan keputusannya meniadakan Festival Danau Toba (FDT) 2020 dengan dalih waktu mepet.Terbaru Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi mengatakan Festival Danau Toba (FDT) 2020 tetap digelar.

Pekan lalu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara menyatakan Festival Danau Toba (FDT) tahun ini ditiadakan.Selain itu, Disbudpar mengubah jadwal event budaya, pariwisata dan olahraga terbesar di kawasan Danau Toba tersebut.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut, Ria Telaumbanua, mengatakan, pihaknya berkaca pada perhelatan FDT 2019 yang ternyata gagal mendatangkan wisatawan lokal dan mancanegara.Menurut dia, FDT lebih tepat digelar Juni, tepat momen libur anak sekolah.Karena itulah, Disbudpar tidak bisa melaksanakan FDT tahun ini karena waktu untuk persiapan acara terlalu singkat.

"Karena pelaksanaannya diubah menjadi pada bulan Juni, kan persiapannya jadi sempit jika dihitung dari sekarang.Itu sebabnya Festival Danau Toba kembali akan digelar pada tahun 2021, tahun ini ditiadakan," terang Ria Telaumbanua, seusai mengikuti rapat kerja dengan Komisi E DPRD Sumut, Kamis (9/1/2020).

Perubahan jadwal pelaksanaan FDT ini, kata dia, sudah melalui pembahasan dengan Badan Pengelola Otorita Danau Toba.Ria Telaumbanua meyakini adanya pengembangan objek-objek wisata di kawasan Danau Toba, ditambah pembangunan infrastruktur yang kian baik, akan menambah lonjakan pengunjung.

Pernyataan Kadis Pariwisata Ria Telaumbanua ditambahi Gubernur Edy Rahmayadi dalam kesempatan yang berbeda."Kita bentuk lain gantinya apa, bukan waktunya, bentuknya apa. Kayaknya kurang bermanfaat pesta itu," kata Edy kepada wartawan di Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro, Kota Medan.

"Kita bentuk lain gantinya apa, bukan waktunya, bentuknya apa pesta itu," ujar Edy menjawab wartawan di Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro, Kota Medan, Sabtu (12/1/2020).

Keputusan Pemprov Sumut melahirkan polemik.Ditiadakannya Festival Danau Toba di Tahun 2020 turut menjadi perhatian penggagas Festival Babi Danau Toba yaitu Togu Simorangkir.Ia pun menyoroti alasan dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut, Ria Telaumbanua meniadakan festival tahunan tersebut di akun media sosial facebooknya.

Aktivis lingkungan Togu Simorangkir saat ditemui di Jalan Adam Malik, Selasa (3/9/2019). (Tribun Medan / Tommy)

"Pagi ini membaca berita bahwa Festival Danau Toba tahun 2020 ditiadakan. Alasannya karena saat Festival Danau Toba 2019 lalu yang diadakan bulan Desember 2019 sepi pengunjung.

Dan Pemerintah Provinsi mengevaluasi untuk merubah pelaksanaan dari Desember menjadi Juni.Tapi karena perubahan jadwal dari Desember menjadi Juni ini, Dinas Pariwisata Provinsi Sumut memutuskan tahun ini Festival Danau Toba ditiadakan karena waktu 6 bulan tidak cukup membuat event tahunan ini.

Bah, Festival Babi Danau Toba 1.0 saja persiapannya hanya 1 bulan. Modalnya hanya 47 jutaan. Uang yang beredar kisaran 200 jutaan. Diliput banyak media baik dalam maupun luar negeri.Festival Babi Danau Toba 2.0 akan diselenggarakan tanggal 20-22 Agustus 2020. Dimana kita bikin woi?," tulisnya.

Festival Babi di Muara, Kabupaten Tapanuli Utara, Jumat (25/10/2019) (Tribun Medan)

Bupati Tapanuli Utara Nikson Nababan dan Bupati Samosir Rapidin Simbolon tidak setuju soal rencana Gubernur Sumut Edy Rahmayadi meniadakan Festival Danau Toba (FDT) 2020.

Keduanya bahkan mengkritik Pemerintah Provinsi Sumut karena tak dilibatkan dalam Festival Danau Toba 2019."Kalau menurut pendapat kami, dengan segala hormat kepada Bapak Gubernur, kurang tepat kalau Bapak Gubernur menyatakan bahwa FDT tidak ada manfaatnya. 

Menurut kami FDT bermanfaat tetapi kurang maksimal," ujar Rapidin Simbolon, Minggu (12/1/2020).Kegagalan FDT 2019, menurut Rapidin, terletak pada pelaksanaan FDT 2019 di Kabupaten Simalungun Parapat Desember 2019 lalu yang tidak profesional. "Pelaksanaan kurang professional dan tidak membumi,"tambahnya.

Apalagi, tambahnya, FDT 2019 tidak melibatkan pemerintah daerah.Mengantisipasi kegagalan, kedepannya diharapkan pelaksanaan FDT agar dipercayakan kepada penyelenggara yang lebih profesional. 

"Untuk ke depan harapan kami, pelaksanaan FDT agar dipercayakan kepada EO yang profesional dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan di kawasan Danau Toba," sebut Rapidin.Dihubungi terpisah, Bupati Tapanuli Utara Nikson Nababan menegaskan kalau FDT harus dilaksanakan dan namanya tidak perlu diganti.

Menurut Nikson Nababan yang perlu dibenahi adalah materi dan pelaksanaan FDT itu sendiri."Kalau kurang bermanfaat karena apa? Kalau isinya kurang bagus, tinggal materinya diperbaiki. Tidak perlu harus mengganti nama, apalagi mau meniadakan," anjur Nikson Nababan.Ia juga menyatakan dalam penyelenggaraan FDT 2019, pihaknya tidak dilibatkan. 

"Apalagi dengan program pemerintah pusat dengan menjadikan Danau Toba sebagai destinasi prioritas tentu harus juga didukung pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten dengan memperbanyak atraksi atraksi wisata dan promosi wisata," sebutnya. 

Setelah meralat keputusan Edy menegaskan FDT 2019  terlalu monoton dan tidak mendatangkan manfaat, khususnya wisatawan."Untuk itu perlu kita kaji, kita mau buat kegiatan di situ tidak monoton seperti sekarang.

Seperti tari-tarian di sana, datang satu hari dua hari wisawatan itu langsung cabut," kata Edy Rahmayadi seusai melaksanakan salat di Masjid Agung, Jalan Pangeran Diponegoro, Kota Medan, Senin (13/1/2020).Orang nomor satu di Pemprov Sumut ini menginginkan festival yang selanjutnya dapat mendapatkan sejuta wisawatan.

"Danau Toba itu perlu kegiatan yang bisa membuat wisatawan datang.Dari pusat meminta satu juta wisatawan, saat ini kita belum dapat segitu. Separuhnya saja tidak," ucapnya.Ia berharap FDT yang akan datang mempunyai konsep beda, artinya dirinya sangat ingin adat istiadat Batak ditonjolkan agar dapat mendatangkan orang.

"Mari kita bikin kreativitas mari kita ceritakan tentang ada istiadat suku Batak yang ada di sana," ucapnya.Edy Rahmayadi mencontohkan bentuk kegiatan yang mungkin menggantikan Festival Danau Toba adalah triatlon."Triatlon itu ada lari, renang, sepeda.

 Atau kegiatan-kegiatan yang lain kita bentuk, bukan ditiadakan kegiatannya, tapi bentuknya apa, metodenya apa agar si wisatawan itu datang ke Danau Toba," jelas Edy.Selanjutnya, Edy sendiri berencana untuk mengubah nama FDT kepada kegiatan yang lain.

Perihal ini dilakukan agar dapat mendatangkan wisatawan karena ada satu hal yang ditonjolkan untuk menarik perhatian orang."Tahun ini tetap dilaksanakan tapi namanya kita ubah nantinya.Mungkin sky Danau Toba, atau lomba memancing, sehingga yang ada keramba-keramba di pancing itu nanti," katanya.

Sumber: tribunnews.com

Editor: tom.

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!