HETANEWS

Ngabalin Jawab Kritik Fadli Zon soal Kunjungan Jokowi ke Natuna

Anggota DPR Komisi I Fraksi Gerindra, Fadli Zon

Jakarta, hetanews.com - Anggota Komisi I DPR Fadli Zon mengkritisi kunjungan Presiden Jokowi ke Natuna, Kepulauan Riau. Ia mengatakan, kunjungan Jokowi ke Natuna harus berdampak pada kapal-kapal asing yang melintas di sana.

Menjawab kritikan Fadli tersebut, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Ali Mochtar Ngabalin mengatakan, kunjungan Presiden ke Natuna merupakan pesan untuk China dan juga negara-negara lain.

"Kehadiran Bapak Presiden itu artinya memberikan message kepada Tiongkok China atau siapa saja yang coba-coba mengatur Republik Indonesia," kata Ngabalin dalam diskusi tentang Natuna di Upnormal, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta pusat, Minggu (12/1).

Ia pun mengingatkan bahwa saat ini, Ketua Umum Gerindra yang merupakan partai tempat Fadli bernaung sudah bergabung di Kabinet Jokowi.

"Semakin Anda (Fadli) menyerang pemerintah, semakin anda terlihat tidak berwibawa Fadli. Pertama karena Gerindra Pak Prabowo ketua umum dan Mas Eddy Prabowo itu sudah ada di pemerintah," ujar Ngabalin.

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan, Ali Mochtar Ngabalin, Hotel Mandarin

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan, Ali Mochtar Ngabalin di Hotel Mandarin, Jakarta Pusat, Jumat (4/10/2019). Foto: Maulana Ramadhan/kumparan

Selain itu, Mantan Politikus PBB itu menuturkan, kehadiran Jokowi di Natuna juga merupakan pesan kepada masyarakat Indonesia atas upaya China mengusik kedaulatan Indonesia.

"Saya mau bilang bahwa kehadiran Bapak Presiden di situ adalah memberikan pesan terhadap rakyat yang dipimpinnya dan wilayah yang menjadi wilayah kedaulatan RI atas apa yang sedang dilakukan manuver oleh Tiongkok. Itu saja pesannya," jelas Ngabalin.

Sebelumnya, Fadli Zon menyebut kedatangan Jokowi ke Natuna pada Rabu (8/1) harus berdampak pada keberadaan kapal-kapal asing di Natuna. Fadli menilai apabila kunjungan Jokowi tidak memberikan efek gentar, hanya akan menurunkan wibawa RI.

"Cuma kan apakah bisa dianggap mempunyai efek deterrence (efek gentar) apa tidak, kalau dianggap tidak, menurut saya ini membuat kita justru semakin tidak berwibawa," kata Fadli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (8/1).

Sumber: kumparan.com

Editor: suci.