HETANEWS.COM

Warga Binaan Rayakan Natal di Lapas Klas IIA Siantar Penuh Sukacita

Kalapas Porman Siregar saat menghadiri Natal di Lapas Klas IIA Siantar bersama warga binaan. (foto/ay)

Simalungun, hetanews.com - Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) merasa terharu dan penuh sukacita saat merayakan Natal bersama, meski sedang menjalani hukuman.

"Ternyata kami warga binaan masih sahabat Yesus Kristus,"ungkap Maruhum Simarmata, salah seorang WBP yang diberi kesempatan untuk menyampaikan kata sambutan, di acara perayaan Natal tersebut, Sabtu (28/12/2019).

Perayaan Natal tahun ini, baru pertama kali ini diadakan di dalam Gereja. Karena perayaan sebelumnya dirayakan di halaman, sebab kapasitas Gereja hanya bermuatan 35 orang saja.

"Tapi kami sangat bersyukur, di bawah binaan dan kepemimpinan Bapak Porman Siregar, Gereja sudah dibangun dengan muatan 700 jemaat,"ungkap Ketua Panitia, Tony Damanik yang disambut aplus yang meriah oleh seluruh WBP dan juga keluarga besar Lapas.

Lebih lanjut dilaporkan Toni, pembinaan mental melalui peningkatan ibadah sangat memotivasi WBP untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Dalam perayaan Natal, sebelumnya telah dilaksanakan KKR, pada 20 Nopember lalu, juga pada perayaan Natal Oikumene Kota Siantar, Lapas mengirim 25 warga binaan untuk turut serta mengumandangkan koor, jelasnya.

Tema Natal Lapas "Hiduplah sebagai sahabat semua orang" dan Sub Thema "Dengan semangat Natal kita tingkatkan persahabatan antar sesama demi terwujudnya kinerja yang pasti".

"Sebelum panitia menetapkan tema tersebut, Kalapas sudah lebih dulu mengaplikasikannya untuk kinerja yang pasti,"kata Toni lagi.

Turut memberikan kata sambutan, R Damanik mewakili Danrem 022/PT. Dan siraman rohani, dibawakan oleh pengkhotbah Pdt Ruddin Aruan SH.

Kalapas Porman Siregar, merasa terharu dengan perayaan Natal bersama WBP dan keluarga besar petugas yang membaur dan penuh sukacita.

Warga binaan bersama keluarga besar Lapas saat merayakan Natal di Gereja yang baru dibangun. (foto/ay)

"Ada rasa haru bagi saya karena bisa memberikan siraman rohani merubah sikap manusia di dalam Lapas. Mereka butuh lampu penerangan karena sudah masuk dalam jurang kegelapan,"ungkapnya kepada Pdt Ruddin Aruan saat diminta untuk menyampaikan khotbah dalam Lapas.

Secara singkat, Porman mengungkapkan, bagaimana Gereja tersebut bisa dibangun. Lapas yang merupakan miniatur negara terdiri dari Mesjid, Gereja, dan Vihara yang berada saling berdekatan. Setiap orang diajarkan agar waktu ibadah tiba, masing - masing harus hidup rukun saling menghargai dan menghormati, ungkapnya. Rumah ibadah yang sudah berdiri tersebut tak sedikitpun mendapat bantuan dari Pemko Siantar ataupun Pemkab Simalungun, ujarnya.

Tapi dibangun dari swadaya pegawai yang telah dan ikhlas gajinya dipotong. Juga tenaga dari warga binaan, ungkapnya.

Porman juga menegaskan, jika dirinya bersama petugas juga berkomitmen tidak membiarkan narkoba dan HP bebas masuk ke Lapas.

Meski upaya sudah maksimal, tapi keterbatasan alat menjadikan semuanya belum sempurna dan belum sesuai harapan.

 "Saya tidak pandang buluh, jika saya temukan maka akan saya hukum dan saya cabut semua hak – haknya,"katanya tegas.

Di setiap Jumat, semua petugas dan warga binaan wajib melaksanakan ibadah, yang Islam ke Mesjid, yang Kristen ke Gereja, ke Vihara bagi yang beragama Budha dibimbing para suster (pelayan Gereja), ustad dari Depag dan juga pelayan Vihara. Demi terwujudnya kesadaran masyarakat uang Takut akan Tuhan dan menjadi manusia lebih baik.

Perayaan Natal diisi dengan nyanyian rohani, liturgi oleh petugas dan warga binaan juga koor dan penampilan vocal grup serta drama.

Penulis: ay. Editor: gun.

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!