HETANEWS

Manusia Purba di Jawa Sempat Hidup Bareng dengan Manusia Modern?

Foto ilustrasi, tak berhubungan dengan berita: Patung model Neanderthal di Museum Halle, Jerman. (Sebastian Willnow/AFP/Getty Images)

Jakarta, hetanews.com -  Manusia purba di Jawa baru punah sekitar 108 ribu tahun lalu. Apakah para Homo erectus itu sempat hidup bersama masyarakat Jawa kuno? Temuan terbaru membuktikan, Homo erectus alias 'manusia berjalan tegak' di Jawa masih lestari saat Homo erectus lain di seluruh dunia sudah punah.

Tulang Homo erectus paling mutakhir dengan fisik mendekati manusia modern ditemukan di Ngandong, Jawa Tengah. Laporan penelitian berjudul 'Penampakan Terakhir Homo erectus di Ngandong, Jawa, 117 ribu-108 Ribu Tahun Lalu' diterbitkan di jurnal Nature, 18 Desember 2019.

Ilmuwan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Museum Geologi Bandung terlibat dalam penelitian lintas universitas-lintas negara ini. Penelitian dari Yan Rizal, Kira E Westaway, Yahdi Zaim, dan kawan-kawan ini telah menjadi pemberitaan banyak media massa seperti CNN, BBC, The Guardian, hingga Business Insider.

Homo erectus di Ngandong sudah menjadi bahan penelitian sejak 1931-1933. Namun, baru kali ini ilmuwan memastikan bahwa usia kelestariannya ternyata lebih panjang ketimbang yang diperkirakan. Homo erectus di Jawa baru punah sekitar 117 ribu hingga 108 ribu tahun lalu.

Bukti genetik dari masyarakat modern di Nugini menyediakan perkiraan kedatangan hominin lain di kawasan kepulauan Asia Tenggara, termasuk Jawa. Apa itu hominin? Hominin adalah sebutan subfamili yang mencakup manusia modern beserta manusia purba yang sudah punah. Saat ini, hanya manusia saja yang bisa disebut hominin.

Di antara hominin yang sudah punah itu ada satu jenis hominin bernama Denisovan (Homo denisovan). Dulu, kelompok Denisovan ini berasal dari pegunungan Altai, Siberia, Rusia, dekat Kazakhstan-Mongolia-Xinjiang. Keturunan Denisovan kemudian datang ke Asia Tenggara.

Kemungkinan, terjadi kawin silang antara Denisovan dan Homo erectus generasi paling akhir seperti yang ditemukan di Ngandong.
 Dikutip dari penelitian ini, ada sisa jejak DNA manusia purba di manusia modern, jumlahnya kurang lebih 1%. Diperkirakan itu adalah jejak gen manusia purba terdahulu dalam tubuh manusia.

Lalu, kembali ke pertanyaan awal, apakah Homo erectus di Ngandong Jawa Tengah itu pernah hidup bareng dengan manusia modern? Lapisan endapan (sedimen) yang memuat tulang Homo erectus di Ngandong tidak menunjukkan adanya tumpang tindih era Homo erectus dan manusia modern. 

Homo erectus punah karena ada perubahan iklim, dari zaman glasial ke interglasial yang mulai menghangat. Hutan terbuka berubah menjadi hutan hujan. Homo erectus tidak mampu beradaptasi. Jadi, Homo erectus di Jawa tidak berinteraksi dengan manusia modern, melainkan berinteraksi dengan anak cucu Denisovan yang mencapai Asia Tenggara.

"Fosil paling akhir dari Homo erectus di Ngandong diperkirakan adalah hasil dari percampuran dua populasi kuno, yakni Homo erectus dan Denisovan," kata Associate Professor dari University of Queensland, Michael Westaway, dilansir dari situs Universitas Queensland, berkomentar.

Dilansir The Guardian, Profesor Mark Maslin dari University College London, menjelaskan Homo sapiens seperti orang-orang modern saat ini baru mencapai Jawa pada 35 ribu tahun lalu. Maka ada jarak waktu yang kosong antara kepunahan Homo erectus di Jawa pada 108 ribu tahun lalu dengan kedatangan Homo sapiens (manusia modern) di Jawa pada 35 ribu tahun lalu.

Homo erectus di Ngandong hidup semasa (meski tidak sama persis) dengan hominin yang lebih pendek di kawasan Asia Tenggara, yakni Homo florensis dari Flores (100 ribu sampai 60 ribu tahun lalu) dan Homo luzonensis dari Filipina (66,7 ribu tahun hingga 1 ribu tahun lalu). Namun, Homo erectus di Ngandong tetap mempertahankan ukuran tubuhnya, tanpa berubah menjadi kerdil karena kondisi alam.

Sumber: detik.com

Editor: tom.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.