HETANEWS.COM

Anak Keluarga Tak Mampu Tetap Miskin Saat Dewasa, Begini Penjelasannya

Ilustrasi masa depan suram akibat kemiskinan.

Jakarta, hetanews.com - Tak sedikit publik yang merasa skeptis menanggapi hasil riset terbaru lembaga riset SMERU Institute yang telah dipublikasikan dalam makalah internasional Asian Development Bank (ADB) pada September 2019 lalu. Penelitian yang digagas oleh Mayang Rizky, Daniel Suryadarma, dan Asep Suryahadi itu menemukan bahwa anak yang lahir dari keluarga miskin di Indonesia, cenderung berpenghasilan lebih rendah ketika mereka dewasa.

Riset kuantitatif itu memang tak menjawab mengapa kemampuan finansial anak yang tumbuh dari keluarga miskin tidak menjadi lebih baik ketika mereka beranjak dewasa. Namun, hasil riset kualitatif yang dilakukan Rendy A. Diningrat bersama kelima rekan peneliti lainnya pada Mei 2015 lalu bisa menjabarkannya.

“Kalau penelitian kuantitatif itu kan memotret situasi, tidak menjelaskan kenapa itu terjadi. Karena kita punya penelitian kualitatifnya dan ini relevan dengan hasilnya saya menulis untuk menjelaskan mengapa situasi itu bisa terjadi,” papar Rendy saat dihubungi kumparanSAINS, Kamis (19/12).

Potret Kemiskinan di Indonesia
Potret Kemiskinan di Indonesia Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Masih di bawah payung lembaga riset yang sama, Rendy dan tim kala itu melakukan sebuah penelitian yang menjelaskan betapa sulitnya bagi anak-anak dari keluarga kelas menengah ke bawah untuk melepaskan diri dari jerat kemiskinan seperti yang dialami keluarganya.

Penelitian dilakukan di dua kelurahan di tiga kota berbeda yakni Jakarta, Makassar dan Surakarta. Responden penelitian yang dipilih adalah anak-anak dengan rentang usia 6 hingga 17 tahun.

“Pertimbangan memilih ketiga lokasi itu, pertama karena kota-kota tersebut mendapat peringkat yang baik dalam hal kebijakan layak anak pada 2015. Kedua, dari diagnosis awal kami soal angka kemiskinan di perkotaan mengerucut pada ketiga kota tersebut. Jakarta mewakili kota metropolitan, Makassar sebagai kota besar dan Surakarta sebagai kota kecil,” ujarnya.

Rendy bersama timnya mewawancarai 250 anak laki-laki dan perempuan yang menghuni permukiman kumuh, baik yang ada di pinggiran kota, pinggiran sungai maupun kawasan pesisir. Meski tinggal di kantong-kantong kemiskinan, menurut Rendy, anak-anak tersebut mampu mengklasifikasi kelompok kesejahteraan sosial menurut persepsi mereka.

Dari jawaban-jawaban responden, ilmuwan kemudian menarik kesimpulan bahwa perbedaan kondisi kesejahteraan orang tua turut berperan menentukan kondisi perekonomian anak-anak mereka di masa depan.

Sederhananya begini, anak-anak yang berasal dari keluarga kaya tentu tak merasa kesulitan untuk mengakses pendidikan, baik formal maupun non-formal, sejak usia dini. Kemudahan yang tentu tidak dirasakan oleh anak-anak dari kalangan keluarga ekonomi rendah. Ini tentu menjadi sebuah ironi, sebab anak-anak ini menyadari bahwa pendidikan merupakan instrumen yang mampu mengangkat derajat mereka.

Anies Baswedan, PMTAS di sekolah
Ilustrasi pendidikan anak di sekolah dasar. Foto: Dok. Pemprov DKI

Meski telah banyak sekolah-sekolah negeri yang membebaskan biaya pendidikan untuk anak-anak dari keluarga tidak mampu, hal itu tak serta merta bisa menyelesaikan masalah. Menurut Rendy, tetap ada hidden cost yang dibebankan kepada orang tua berpenghasilan rendah ketika anak-anak mereka ingin memperoleh akses pendidikan. Sebut saja persoalan ongkos transportasi menuju ke sekolah yang tak gratis.

Instrumen yang dibutuhkan untuk memperbaiki kondisi ekonomi tak hanya berhenti di pendidikan. Penelitian Rendy dan kawan-kawan juga berkesimpulan bahwa pelayanan kesehatan pun memainkan peran pentingnya. Walau bagaimanapun, seseorang bisa tetap produktif jika ia sehat secara mental dan jasmani.

Secara mental, anak-anak dari keluarga tak mampu kerap mendapat tekanan psikis karena menerima kekerasan fisik maupun verbal dari orang tua mereka. Rendy mengisahkan, anak-anak dari keluarga miskin memiliki orang tua yang cenderung mudah meluapkan emosinya. Rendy mencontohkan ada orang tua yang kerap memberi hukuman kepada buah hatinya saat mereka menghadapi sebuah masalah.

“Orang tua berpikir, mereka sudah capek cari uang untuk biaya sekolah anaknya. Saat anak ini enggak benar sekolahnya, misalnya malas atau bolos, mereka mudah sekali marah. Orang tua jadi mudah meluapkan emosinya, melakukan kekerasan pada anak. Tapi mereka lupa untuk mengelaborasi mengapa itu bisa terjadi,” imbuhnya.

Rendy pun tak menampik, sifat emosional seperti ini ada relevansinya dengan tingkat pendidikan dan penghasilan orang tua. Sehari-hari, suami istri terpaksa banting tulang untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Waktu mereka telah tersita untuk mencari nafkah, sehingga tak ada lagi waktu untuk bisa berdiskusi atau sekadar menjadi pendengar yang baik saat anak menghadapi persoalan.

kekerasan pada anak
kekerasan pada anak Foto: Shutterstock

“Orang tua melakukan pekerjaan serabutan, bukan yang dengan penghasilan tetap atau di atas UMR. Karena serabutan, waktu kerja tidak tentu, bisa dari pagi sampai malam, jadi tidak bisa ketemu anak. Enggak punya waktu untuk diskusi atau mengelaborasi permasalahan yang dihadapi anak untuk mencari jalan keluarnya,” terang Rendy.

Dari beberapa temuan tadi, Rendy lantas menawarkan solusi agar pemerintah bisa melakukan intervensi demi menjamin terpenuhinya hak anak untuk hidup secara laik tanpa kekerasan dan diskriminasi.

Menurut Rendy, pemerintah mesti sadar bahwa kemiskinan anak tidak bisa dilepaskan dari kemiskinan keluarga mereka. Itu sebabnya, jika bicara soal intervensi, maka kesejahteraan keluarga pun perlu menjadi perhatian.

Ada dua formula yang ditawarkan Rendy. Pertama dengan mengurangi beban hidup keluarga melalui bantuan sosial. Kedua dengan meningkatkan pendapatan keluarga dengan cara pemberdayaan ekonomi.

Ilustrasi penelitian terhadap anak dan keluarga
Ilustrasi keluarga bahagia. Foto: Shutterstock

Pola asuh juga menjadi satu hal yang ia soroti. Rendy menjelaskan, bahwa pola asuh sangat mempengaruhi anak-anak miskin, karena tak cukup bagi mereka untuk mengandalkan pendidikan melalui bangku sekolah formal. Itulah mengapa Rendy menyebutkan perlunya pendampingan proses untuk memastikan apakah kemampuan atau pendidikan orang tua tentang keluarga meningkat.

“Pendidikan non formal yang ada di keluarga itu juga jauh lebih penting karena kemampuan kognitif bisa selesai di sekolah formal, tapi kemampuan emosional, kemampuan spiritual, kemampuan mengatasi masalah, problem solving itu kan dibangun dari lingkungan keluarga,” jelasnya.

Sumber: kumparan.com 

Editor: suci.

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!